25 MEI 2026
Fenomena Multi-Job di Inggris Meningkat — Gig Economy dan AI Tekan Pekerja, Peringatan bagi Pasar Tenaga Kerja Global

Foto: BBC Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Fenomena Multi-Job di Inggris Meningkat — Gig Economy dan AI Tekan Pekerja, Peringatan bagi Pasar Tenaga Kerja Global
Makro

Fenomena Multi-Job di Inggris Meningkat — Gig Economy dan AI Tekan Pekerja, Peringatan bagi Pasar Tenaga Kerja Global

Tim Redaksi Feedberry ·25 Mei 2026 pukul 00.26 · Sumber: BBC Business ↗
7.3 Skor

Tren multi-job di negara maju mencerminkan tekanan struktural pada tenaga kerja yang juga relevan dengan kondisi Indonesia: gig economy tumbuh, biaya hidup naik, dan AI mulai menggeser pekerjaan.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

BBC melaporkan bahwa lebih dari satu juta orang di Inggris kini memiliki lebih dari satu pekerjaan sebagai respons terhadap kenaikan biaya hidup, ketidakamanan kerja, dan perubahan industri yang mendorong pertumbuhan gig economy. Kisah Billy-Jo Pierce, 29 tahun, menggambarkan realitas ini: ia bekerja 50-60 jam per minggu mengelola bisnis hiasan gigi kosmetik, sambil mengambil shift resepsionis, kerja bar, festival, dan menjual pakaian online. Ia mengaku hidup dalam 'survival mode' dan meskipun mencintai pekerjaannya, kelelahan nyata dan kekhawatiran finansial terus menghantui — ia bahkan tinggal di van untuk menekan biaya. Sementara itu, Engy Elboreini, desainer grafis lepas dari Bristol, mengatakan dua tahun terakhir adalah tahun perdagangan terburuknya karena alat AI dan Canva yang mudah diakses telah mengurangi permintaan akan jasanya.

Kedua cerita ini menunjukkan bahwa fenomena multi-job bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan respons defensif terhadap tekanan ekonomi yang mengikis stabilitas pendapatan kelas pekerja. Secara lebih luas, hampir lima juta orang di Inggris kini terlibat dalam pekerjaan gig — baik sebagai pengantar makanan, desain lepas, kebersihan, atau jasa lainnya — meskipun hanya seperlima yang mengandalkannya sebagai pendapatan utama. Tren ini semakin umum di kalangan pekerja muda yang mulai meragukan keamanan bekerja pada satu pemberi kerja. Di tengah tekanan inflasi global dan suku bunga tinggi yang masih bertahan, pola serupa mulai terlihat di berbagai negara maju, menandakan pergeseran fundamental dalam hubungan kerja dan struktur ekonomi. Bagi Indonesia, meskipun data spesifik tidak tersedia, fenomena ini relevan sebagai peringatan dini.

Ekonomi Indonesia juga menghadapi tekanan daya beli akibat inflasi pangan dan energi, sementara sektor informal — yang mencakup hampir 60% tenaga kerja — sudah lama akrab dengan pekerjaan multipel. Pertumbuhan platform digital seperti Gojek, Grab, dan Shopee Food telah memperluas gig economy lokal, namun perlindungan sosial bagi pekerja jenis ini masih minim. Selain itu, disrupsi AI yang disebut dalam artikel — terutama di bidang desain dan layanan pengetahuan — juga mulai dirasakan di Indonesia, di mana perusahaan mulai mengadopsi otomatisasi untuk fungsi administrasi dan kreatif. Jika tren ini berlanjut, Indonesia bisa menghadapi tekanan serupa: peningkatan jumlah pekerja yang harus merangkap beberapa pekerjaan untuk mempertahankan pendapatan, sementara kualitas pekerjaan dan kesejahteraan mental terancam.

Implikasi bagi dunia usaha meliputi perubahan ekspektasi tenaga kerja terhadap fleksibilitas, potensi penurunan produktivitas akibat kelelahan, serta kebutuhan untuk menyesuaikan model kompensasi dan retensi. Sementara itu, investor perlu mencermati sektor konsumen — jika daya beli terus tertekan, belanja rumah tangga bisa melambat.

Mengapa Ini Penting

Fenomena multi-job di negara maju seperti Inggris bukan sekadar berita sosial — ini adalah sinyal bahwa tekanan biaya hidup dan ketidakamanan kerja telah mencapai titik struktural yang mengubah cara orang bekerja. Bagi Indonesia, negara dengan basis pekerja informal yang besar, pola ini memberikan pelajaran berharga: jika pertumbuhan ekonomi tidak diikuti pemerataan pendapatan dan perlindungan sosial yang memadai, jumlah pekerja yang harus merangkap pekerjaan bisa meningkat drastis. Implikasinya meluas ke penurunan produktivitas, melemahnya daya beli kelas menengah, dan meningkatnya tekanan pada sistem kesehatan akibat kelelahan kerja. Investor dan pelaku usaha perlu memahami bahwa struktur tenaga kerja yang semakin terfragmentasi akan mengubah pola konsumsi, permintaan properti, dan bahkan stabilitas sektor perbankan melalui kredit konsumsi.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan pada bisnis yang mengandalkan tenaga kerja tetap: meningkatnya pekerja multi-job bisa menurunkan loyalitas dan produktivitas, mendorong perusahaan untuk menawarkan fleksibilitas atau kompensasi tambahan agar tetap kompetitif dalam merebut talenta.
  • Pertumbuhan ekonomi platform digital: fenomena ini memperkuat model bisnis gig economy seperti layanan on-demand dan marketplace, namun juga membawa risiko regulasi — pemerintah bisa menerapkan aturan perlindungan pekerja yang meningkatkan biaya operasional platform.
  • Potensi perlambatan sektor konsumsi: jika pendapatan riil pekerja tergerus oleh biaya hidup dan pekerjaan tambahan hanya untuk bertahan, belanja diskresioner (hiburan, perjalanan, barang tahan lama) bisa tertekan, mempengaruhi emiten ritel dan properti.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: data upah riil dan tingkat partisipasi angkatan kerja Indonesia — jika tren multi-job meningkat, akan tercermin dari penurunan upah riil atau kenaikan jumlah pekerja paruh waktu.
  • Risiko yang perlu dicermati: adopsi AI yang masif di sektor jasa keuangan dan administrasi — pekerjaan entry-level yang selama ini menjadi batu loncatan bisa menyusut, memaksa lebih banyak fresh graduate mencari pendapatan tambahan dari gig economy.
  • Sinyal penting: kebijakan pemerintah terkait perlindungan pekerja platform (RUU Perlindungan Pekerja Informal) — jika disahkan, akan mengubah struktur biaya dan kepastian hukum bagi bisnis yang memanfaatkan tenaga kerja lepas.

Konteks Indonesia

Berita tentang fenomena multi-job di Inggris ini relevan untuk Indonesia sebagai cermin arah masa depan pasar tenaga kerja. Meskipun konteksnya berbeda — Indonesia memiliki basis pekerja informal yang sudah besar dan tingkat upah yang lebih rendah — tekanan biaya hidup yang meningkat akibat inflasi pangan dan energi, serta pertumbuhan gig economy melalui platform digital, menciptakan kondisi yang mirip. Artikel menyebutkan bahwa AI mulai menggantikan pekerjaan desain grafis, tren yang juga mulai terlihat di Indonesia di mana perusahaan mengadopsi alat AI untuk pemasaran, desain, dan layanan pelanggan. Namun, data spesifik tentang jumlah pekerja multi-job di Indonesia belum tersedia dari sumber ini. Perbedaan utama: Indonesia masih memiliki sektor pertanian dan manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja, sementara UK lebih didominasi jasa. Meski demikian, bagi investor dan pengusaha, memahami dinamika ini penting untuk mengantisipasi perubahan dalam permintaan tenaga kerja, pola konsumsi, dan stabilitas sosial yang bisa mempengaruhi iklim bisnis jangka panjang.

Konteks Indonesia

Berita tentang fenomena multi-job di Inggris ini relevan untuk Indonesia sebagai cermin arah masa depan pasar tenaga kerja. Meskipun konteksnya berbeda — Indonesia memiliki basis pekerja informal yang sudah besar dan tingkat upah yang lebih rendah — tekanan biaya hidup yang meningkat akibat inflasi pangan dan energi, serta pertumbuhan gig economy melalui platform digital, menciptakan kondisi yang mirip. Artikel menyebutkan bahwa AI mulai menggantikan pekerjaan desain grafis, tren yang juga mulai terlihat di Indonesia di mana perusahaan mengadopsi alat AI untuk pemasaran, desain, dan layanan pelanggan. Namun, data spesifik tentang jumlah pekerja multi-job di Indonesia belum tersedia dari sumber ini. Perbedaan utama: Indonesia masih memiliki sektor pertanian dan manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja, sementara UK lebih didominasi jasa. Meski demikian, bagi investor dan pengusaha, memahami dinamika ini penting untuk mengantisipasi perubahan dalam permintaan tenaga kerja, pola konsumsi, dan stabilitas sosial yang bisa mempengaruhi iklim bisnis jangka panjang.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.