1 JUN 2026
Fed vs BoE Beda Pandangan Soal Stablecoin — Dolar Dominasi vs Tokenized Deposits

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Fed vs BoE Beda Pandangan Soal Stablecoin — Dolar Dominasi vs Tokenized Deposits
Forex & Crypto

Fed vs BoE Beda Pandangan Soal Stablecoin — Dolar Dominasi vs Tokenized Deposits

Tim Redaksi Feedberry ·31 Mei 2026 pukul 21.11 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5 Skor

Pandangan bank sentral utama soal stablecoin mempengaruhi arah regulasi global dan sentimen aset digital, namun dampak ke Indonesia tidak langsung dan belum urgent.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Dua bank sentral besar dunia, Federal Reserve AS dan Bank of England, menyampaikan pandangan yang bertolak belakang soal masa depan stablecoin. Gubernur Fed Christopher Waller menyebut stablecoin yang didukung dolar AS justru memperluas jangkauan kebijakan moneter AS dan memandangnya sebagai alat pembayaran yang sehat. Sebaliknya, pembuat kebijakan Bank of England Megan Greene memperkirakan popularitas stablecoin akan memudar dalam beberapa tahun dan digantikan oleh tokenized deposits. Keduanya berbicara dalam panel bertajuk 'Stablecoins and monetary policy' di Konferensi Ekonomi Dubrovnik ke-32. Perbedaan ini mencerminkan ketidakpastian global soal arah aset digital di masa depan, terutama di tengah mandeknya RUU CLARITY Act di Senat AS yang mengatur kerangka federal aset digital akibat tarik-menarik antara lobi perbankan dan industri kripto.

Jika stablecoin dolar terus tumbuh, negara-negara yang mengadopsinya secara efektif akan mengimpor kondisi moneter AS — meningkatkan dominasi dolar di era digital. Namun jika tokenized deposits yang didukung bank akhirnya menang, peran stablecoin bisa tergerus. Perdebatan ini juga membuka ruang bagi central bank digital currency (CBDC), meski Waller meragukan antusiasme terhadap CBDC saat ini. Bagi Indonesia, dinamika ini relevan karena pasar kripto ritel Indonesia cukup aktif dan regulasi aset digital masih terus dikembangkan oleh Bappebti dan OJK. Jika Fed dan regulator global akhirnya memberikan kerangka jelas untuk stablecoin, hal itu bisa mempercepat atau menghambat adopsi di Indonesia, tergantung arah yang dipilih.

Sementara itu, RUU CLARITY Act yang belum pasti lolos tahun ini menambah ketidakpastian bagi investor dan emiten kripto di seluruh dunia, termasuk bursa lokal.

Mengapa Ini Penting

Perdebatan ini bukan sekadar diskusi akademis. Jika Fed mendorong stablecoin dolar secara agresif, negara berkembang seperti Indonesia bisa mengalami percepatan dolarisasi digital yang mempersulit kendali moneter BI. Sebaliknya, jika tokenized deposits menjadi standar, perbankan tradisional justru akan menguasai inovasi pembayaran digital — mengubah peta persaingan fintech dan kripto di Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Bursa kripto Indonesia (seperti Indodax, Tokocrypto) terpengaruh oleh arah regulasi global — jika stablecoin direstriksi atau digantikan tokenized deposits, model bisnis mereka yang bergantung pada volume perdagangan stablecoin bisa tergerus.
  • Perbankan nasional (BBCA, BMRI) yang mulai bereksperimen dengan tokenisasi aset akan berkepentingan dengan hasil pertarungan ini: jika tokenized deposits menang, bank memiliki keunggulan dibanding platform kripto tak berizin.
  • Investor ritel kripto Indonesia menghadapi ketidakpastian: stabilitas nilai stablecoin seperti USDT/USDC bergantung pada kebijakan AS, sementara jika tokenized deposits naik, mereka mungkin beralih ke produk perbankan digital.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: progres RUU CLARITY Act di Kongres AS — jika gagal lolos tahun ini, ketidakpastian regulasi berlanjut dan bisa menekan harga aset kripto global.
  • Risiko yang perlu dicermati: sikap OJK terhadap tokenized deposits dan stablecoin — jika Indonesia mengadopsi standar tokenized deposits seperti BoE, platform kripto lokal harus beradaptasi.
  • Sinyal penting: pernyataan BI soal Rupiah Digital (CBDC) — jika BI mempercepat peluncuran, itu bisa menjadi alternatif yang mengurangi urgensi adopsi stablecoin di Indonesia.

Konteks Indonesia

Pandangan Fed dan BoE soal stablecoin relevan bagi Indonesia karena pasar kripto ritel Indonesia termasuk yang paling aktif di Asia Tenggara, dan regulasi aset digital masih dalam tahap pengembangan oleh Bappebti dan OJK. Jika stablecoin dolar makin dominan, Indonesia berpotensi mengalami dolarisasi digital yang mempersulit transmisi kebijakan moneter BI. Sebaliknya, jika tokenized deposits menjadi standar global, perbankan Indonesia yang lebih teregulasi justru diuntungkan. BI yang tengah mengembangkan Rupiah Digital (CBDC) juga akan memantau perkembangan ini untuk menentukan desain dan timing peluncuran.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.