31 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Pasar / Emas di Terendah Setahun, Perak Melemah ke Bawah $50
Pasar

Emas di Terendah Setahun, Perak Melemah ke Bawah $50

Tim Redaksi Feedberry ·30 Oktober 2026 pukul 23.31 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: MINING.com ↗
6.3 Skor

Penurunan emas dan perak searah dengan lonjakan minyak dan ekspektasi kenaikan Fed Desember, memukul saham produsen hingga 8% dan menular ke emiten tambang domestik lewat harga acuan global.

Urgensi
7
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5
Analisis Komoditas
Komoditas
Emas dan perak
Harga Terkini
Spot emas US$3.910,53/oz; spot perak US$49,34/oz. Comex Desember: emas US$3.907,90/oz; perak US$49,31/oz
Perubahan Harga
Emas -2,7% (sempat -3,2%); perak -5,8% pada Jumat, sekitar -18% sepanjang Oktober
Faktor Supply
  • ·Arus jual investor yang mencairkan posisi logam mulia untuk menutup kerugian di saham teknologi
  • ·Volume futures tebal di Comex: 18 juta ons emas dan 236 juta ons perak hingga tengah hari New York
  • ·Ekspektasi suku bunga higher-for-longer membuat biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil meningkat
Faktor Demand
  • ·Risiko inflasi energi akibat eskalasi di Selat Hormuz dan kenaikan Brent ke level tertinggi sejak April
  • ·Peluang kenaikan Fed pada Desember diperkirakan di atas 70% setelah inflasi AS berakselerasi pada September
  • ·Permintaan safe haven bergeser ke Treasury, bukan ke emas, sehingga likuiditas pasar logam mulia mengering

Ringkasan Eksekutif

Emas melemah ke level terendah dalam setahun dan perak terdepresiasi di bawah US$50 per ons pada Jumat, memicu saham produsen logam mulia turun hingga 8%. Harga spot emas sempat turun 3,2% ke US$3.891,67 per ons — terlemah sejak 28 Oktober tahun lalu — dan diperdagangkan turun 2,7% di US$3.910,53 pada akhir pagi waktu New York. Kontrak emas Comex pengiriman Desember turun 3,1% ke US$3.907,90 setelah menyentuh US$3.900,90, sepekan setelah pertama kali tergelincir di bawah US$4.000 sejak Juli. Perak lebih dalam koreksinya: turun 5,8% ke US$49,34 per ons, pertama kali di bawah US$50 sejak November 2025, dan sudah minus sekitar 18% sepanjang bulan.

Emas menuju penurunan sekitar 6% di Oktober, kinerja terburuk untuk bulan itu sejak 2008, sekaligus bulan penurunan kedua berturut-turut. Posisi bullion kini sekitar 28% di bawah rekor penutupan US$5.419,83 per ons pada 28 Januari. Tekanan datang dari dua arah sekaligus. Prospek aksi militer AS kembali terhadap Iran, termasuk insiden serangan terhadap sebuah tanker di Selat Hormuz, mendorong Brent ke level tertinggi sejak April dan menempatkan minyak pada kenaikan bulanan keempat berturut-turut. Dinamika itu memperkuat kekhawatiran inflasi yang membuat The Fed menaikkan suku bunga pada September — kenaikan pertama sejak Juli 2023. The Fed dan ECB sama-sama menahan suku bunga pekan ini, tetapi menandai risiko inflasi dari lonjakan biaya energi, sementara data Kamis menunjukkan inflasi AS berakselerasi pada September.

Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang di atas 70% untuk kenaikan Fed pada Desember. Arah kedua datang dari pasar saham: saham teknologi memimpin pelemahan global untuk hari kedua setelah rangkaian laba mengecewakan mempercepat rotasi keluar dari perdagangan AI menuju Treasury, dengan Nasdaq bersiap mencatat kerugian tajam. Strategi komoditas TD Securities, Bart Melek, menyebut emas terbawa momentum, sementara minyak yang lebih tinggi memicu permintaan risk-off ke Treasury yang mengeringkan likuiditas. Volume perdagangan tergolong tebal: futures senilai 18 juta ons emas dan 236 juta ons perak berpindah tangan di Comex hingga tengah hari New York. Yang tidak terlihat dari headline: logam mulia berhenti berfungsi sebagai asuransi geopolitik.

Eskalasi di Selat Hormuz adalah peristiwa yang secara historis mengangkat emas, tetapi kali ini justru mengalihkan permintaan ke Treasury — karena pemicunya adalah inflasi energi yang menaikkan ekspektasi suku bunga, bukan ketakutan murni. Dalam rezim imbal hasil tinggi, pemegang emas menanggung opportunity cost yang membesar setiap kali yield naik. Data FRED menunjukkan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 5,05% dan tenor 2 tahun di 4,67%, dengan spread 0,38 poin persentase — kurva datar yang mencerminkan ekspektasi pertumbuhan hati-hati namun biaya dana tetap mahal. Inilah yang membedakan episode ini: emas jatuh bukan karena risiko global mereda, melainkan karena risiko itu sendiri kini dihargai lewat jalur suku bunga. Bagi pasar Indonesia, jalur transmisinya berlapis.

Emiten emas domestik seperti ANTM dan MDKA menjual dengan acuan harga global, sehingga pelemahan spot langsung memangkas nilai jual per ons, sementara penerimaan yang tercatat dalam dolar AS menambah variabel kurs pada nilai rupiahnya. IHSG berada di 5.057 setelah turun 4,26%, dan USD/IDR di 18.138 — kombinasi yang memperlihatkan aset berisiko domestik sedang tertekan bersamaan dengan biaya impor yang meningkat. Brent di US$113,60 menambah dimensi fiskal lain: sebagai importir minyak netto, Indonesia menanggung biaya energi impor yang lebih mahal, yang pada gilirannya memperlebar tekanan pada belanja subsidi dan neraca perdagangan. Efek turunannya menyentuh kontraktor tambang, penyedia jasa eksplorasi, dan pemasok peralatan yang mengikuti siklus belanja produsen emas global.

Mengapa Ini Penting

Korelasi lama antara ketegangan geopolitik dan penguatan emas sedang patah. Ketika risiko Timur Tengah naik tetapi emas justru turun, artinya pasar menilai jalur inflasi energi dan suku bunga lebih dominan daripada jalur safe haven. Konsekuensinya praktis: emas tidak lagi otomatis menjadi lindung nilai dalam portofolio domestik pada periode ekspektasi kenaikan Fed, dan emiten tambang emas kehilangan buffer yang biasanya mereka nikmati saat sentimen global memburuk.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten emas domestik menghadapi kompresi pendapatan per ons pada saat harga acuan global turun sekitar 28% dari puncaknya. Sebagian dampak pada margin rupiah dapat tertahan karena penerimaan dalam dolar AS, tetapi volume dan biaya operasi tetap dihitung dalam rupiah — kombinasi yang membuat sensitivitas laba terhadap harga spot tetap tinggi.
  • Produsen emas global yang mencatat penurunan harga saham hingga 8% cenderung menunda belanja eksplorasi dan ekspansi tambang. Efek berantainya sampai ke kontraktor pengeboran, penyedia jasa geoteknik, dan pemasok bahan kimia tambang, termasuk vendor yang melayani proyek di Indonesia.
  • Sisi lain yang jarang disorot: lonjakan Brent ke US$113,60 dan imbal hasil US Treasury 10 tahun di 5,05% membentuk lingkungan biaya dana dan biaya energi yang tinggi secara bersamaan. Bagi pelaku usaha yang membiayai proyek padat modal — smelter, infrastruktur, properti — kombinasi ini menaikkan biaya pendanaan sekaligus biaya operasional, sebuah tekanan ganda yang baru terasa penuh dalam beberapa kuartal ke depan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: peluang kenaikan Fed pada Desember yang kini di atas 70% — jika mendekati kepastian, tekanan jual pada emas dan arus keluar dari aset emerging market berpotensi menguat, dengan rupiah di 18.138 sebagai titik pantau.
  • Risiko yang perlu dicermati: perkembangan di Selat Hormuz dan arah Brent di atas US$113,60 — harga energi yang bertahan tinggi menaikkan ekspektasi inflasi domestik sekaligus menekan asumsi subsidi energi dalam APBN.
  • Sinyal penting: kemampuan emas bertahan di kisaran US$3.900 dan kelanjutan rotasi keluar dari saham AI — bila likuidasi lintas aset berlanjut, IHSG yang sudah turun 4,26% ke 5.057 menghadapi risiko tekanan lanjutan.

Konteks Indonesia

Jalur utama dampaknya ke Indonesia berjalan melalui harga acuan emas dan perak, yang menjadi dasar penetapan nilai jual emiten tambang domestik seperti ANTM dan MDKA. Penurunan spot emas ke US$3.891,67 per ons dan perak ke bawah US$50 menekan ekspektasi pendapatan sektor tersebut, meski sebagian teredam oleh penerimaan dalam dolar AS. Kanal kedua adalah biaya dana global: imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di 5,05% dan peluang kenaikan Fed Desember di atas 70% memperkuat daya tarik aset berdenominasi dolar, yang tercermin pada USD/IDR di 18.138 dan IHSG di 5.057 setelah turun 4,26%. Kanal ketiga adalah energi: Brent di US$113,60 menaikkan biaya impor minyak bagi negara importir netto seperti Indonesia dan menambah tekanan pada ruang fiskal melalui belanja subsidi energi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.