23 JUL 2026
Emas dan Perak Melonjak Akibat Eskalasi Perang AS-Iran – Brent Sentuh $95

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Emas dan Perak Melonjak Akibat Eskalasi Perang AS-Iran – Brent Sentuh $95
Pasar

Emas dan Perak Melonjak Akibat Eskalasi Perang AS-Iran – Brent Sentuh $95

Tim Redaksi Feedberry ·22 Juli 2026 pukul 18.50 · Sinyal tinggi · Sumber: MINING.com ↗
8 Skor

Eskalasi militer AS-Iran yang meluas ke dua titik tersumbat minyak dunia memicu lonjakan harga emas, perak, dan minyak — berdampak langsung pada biaya energi global, sentimen risk-off, dan posisi fiskal Indonesia sebagai importir minyak netto.

Urgensi
8
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8
Analisis Komoditas
Komoditas
Emas dan Perak
Harga Terkini
Emas: $4.137/oz; Perak: $59,86/oz
Perubahan Harga
+2,3% (emas), +4,3% (perak, sesi tertinggi)
Proyeksi Harga
Analis TD Securities tidak mengharapkan tren struktural baru karena harga energi yang naik justru membatasi upside. Support $4.000 per ons untuk emas diperkirakan bertahan dalam jangka pendek, tetapi potensi koreksi tetap ada jika konflik mereda.
Faktor Supply
  • ·Tidak ada faktor pasokan baru yang disebutkan dalam artikel; pergerakan harga didorong oleh permintaan safe-haven akibat eskalasi geopolitik.
Faktor Demand
  • ·Permintaan safe-haven melonjak karena perang AS-Iran meluas ke dua titik tersumbat minyak.
  • ·Dip-buying dan kelegaan bahwa level $4.000 per ons bertahan menjadi katalis jangka pendek (flow-driven).
  • ·Inflasi energi akibat kenaikan minyak meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi.

Ringkasan Eksekutif

Emas dan perak melonjak pada Rabu (22 Juli) setelah eskalasi perang AS-Iran memasuki minggu kedua dan meluas ke titik tersumbat kedua di Selat Bab el-Mandeb. Emas kontrak Agustus sempat menyentuh level tertinggi sesi di $4.171 per ons, naik 2,3%, sementara perak kontrak September naik hingga 4,3% ke $61,27 — pulih dari posisi terendah delapan bulan yang disentuh dua sesi sebelumnya. Pada sore hari, kedua logam kehilangan sebagian momentumnya, dengan emas diperdagangkan di $4.137,16 dan perak di $59,86. Kenaikan ini dipicu oleh serangan balasan yang menewaskan empat tentara AS dan ancaman Presiden Trump untuk ‘membom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik’ di sekitar Teheran setiap kali Iran menyerang pelayaran di Selat Hormuz.

Sekutu Teheran, Houthi Yaman, mendeklarasikan embargo terhadap kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb, membuat pasar minyak menghadapi blokade di dua titik tersumbat paling penting di dunia. Brent crude sempat menembus $95 per barel, sementara WTI naik 2,9% ke $86,78 yang semakin memperkuat daya tarik logam mulia sebagai lindung nilai terhadap inflasi energi. Yang menarik, reli ini terjadi meskipun imbal hasil obligasi 30 tahun AS bertahan di atas 5% untuk rentang terlama sejak krisis keuangan — kondisi yang biasanya menjadi racun bagi logam mulia tanpa imbal hasil. Kombinasi inflasi energi akibat perang dan ekspektasi kenaikan suku bunga ini justru membuat Juni menjadi bulan terburuk bagi emas sejak 2008.

Swap trader kini hanya melihat sekitar 10% kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan ini, tetapi setidaknya satu kenaikan masih diperhitungkan hingga akhir tahun. Analis TD Securities, Ryan McKay, menilai rebound ini lebih didorong aliran dana (flow-driven), dipicu oleh dip-buying dan kelegaan bahwa level support $4.000 per ons bertahan. Namun ia mengingatkan bahwa harga energi yang baru mulai naik akan membatasi potensi kenaikan lebih lanjut, sehingga tren struktural baru belum terbentuk. Dampak dari pergerakan ini tidak terbatas pada komoditas. Reli emas dan perak menghidupkan kembali sektor pertambangan yang secara median masih sekitar sepertiga di bawah puncak 52 minggunya.

Saham Zijin Mining naik 8,1%, Newmont naik 3,1%, dan Barrick naik 2,4% — meskipun Barrick masih sekitar 32% di bawah level tertinggi setahunnya. Bagi Indonesia, kenaikan harga emas merupakan angin segar bagi emiten tambang emas domestik seperti Antam (ANTM) dan Merdeka Copper Gold (MDKA) yang mendapatkan keuntungan valuasi dari harga jual emas yang lebih tinggi. Namun di sisi lain, lonjakan minyak mentah meningkatkan tekanan pada APBN karena subsidi energi membengkak dan defisit yang sudah mencapai Rp240 triliun hingga Maret bisa semakin melebar. Rupiah yang sudah berada di level Rp17.905 per dolar AS pada penutupan hari ini juga berpotensi tertekan lebih lanjut jika sentimen risk-off global berlanjut.

Mengapa Ini Penting

Reli emas dan perak saat imbal hasil obligasi jangka panjang tetap tinggi menunjukkan bahwa faktor geopolitik dan inflasi energi telah mengalahkan logika suku bunga konvensional. Ini mengubah peta lindung nilai portofolio: emas kembali menjadi ‘safe haven’ dominan di tengah ketidakpastian perang, sementara minyak yang mahal menciptakan dilema bagi bank sentral — antara meredam inflasi atau mendorong pertumbuhan. Bagi Indonesia, kenaikan harga emas meningkatkan daya tarik investasi di tambang emas lokal, tetapi kenaikan minyak memperburuk tekanan fiskal dan neraca perdagangan, sehingga menguji ketahanan ekonomi dalam negeri.

Dampak ke Bisnis

  • Kenaikan harga emas dan perak langsung menguntungkan emiten pertambangan logam mulia dalam negeri seperti Antam (ANTM) dan Merdeka Copper Gold (MDKA) melalui peningkatan pendapatan dari penjualan emas. Namun kontribusi perak terhadap pendapatan mereka relatif kecil. Investor perlu mencermati apakah kenaikan ini cukup untuk mendorong revisi laba ke atas.
  • Lonjakan harga minyak Brent di atas $95 per barel memberikan tekanan langsung pada biaya impor BBM dan subsidi energi Indonesia. Dengan defisit APBN yang sudah mencapai Rp240 triliun pada Maret, tambahan beban subsidi dapat memaksa pemerintah merevisi postur anggaran atau mengurangi belanja modal, yang pada akhirnya berdampak pada kontraktor infrastruktur dan industri terkait.
  • Reli emas juga berdampak pada sektor keuangan: bank syariah dan pegadaian yang memiliki eksposur pembiayaan berbasis emas (misalnya gadai emas) dapat menikmati kenaikan nilai agunan, sementara risiko gagal bayar nasabah menurun. Namun, sentimen risk-off global dapat memicu arus keluar modal dari pasar saham Indonesia, menekan IHSG dan rupiah lebih lanjut.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan konflik AS-Iran dan Houthi — setiap gencatan senjata atau eskalasi baru akan langsung mempengaruhi harga emas dan minyak. Threshold utama: harga emas di atas $4.200 atau di bawah $4.000 per ons.
  • Risiko yang perlu dicermati: pelemahan rupiah akibat sentimen risk-off global. Jika USD/IDR menembus Rp18.000, beban impor dan inflasi akan meningkat, mempersempit ruang pelonggaran moneter BI.
  • Sinyal penting: data inflasi dan tenaga kerja AS dalam sebulan ke depan. Jika inflasi tetap tinggi dan data tenaga kerja kuat, The Fed mungkin mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, membatasi reli emas. Sebaliknya, data lemah dapat memperkuat ekspektasi pemotongan suku bunga dan mendorong emas naik.

Konteks Indonesia

Indonesia sebagai produsen emas (Antam, Merdeka Copper Gold) diuntungkan langsung oleh kenaikan harga emas, yang meningkatkan pendapatan dan valuasi sektor pertambangan. Namun Indonesia juga merupakan importir minyak netto sehingga lonjakan Brent di atas $95 menambah tekanan pada APBN melalui subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Rupiah yang sudah melemah ke Rp17.905 dapat tertekan lebih lanjut jika arus modal asing keluar akibat risk-off global. Bagi investor domestik, emas menjadi opsi lindung nilai yang menarik di tengah ketidakpastian geopolitik, namun perlu diwaspadai bahwa reli emas saat ini bersifat flow-driven dan dapat berbalik jika situasi membaik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.