25 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Pasar / Emas Anjlok ke US$3.986,5, Permintaan Fisik Belum Pulih
Pasar

Emas Anjlok ke US$3.986,5, Permintaan Fisik Belum Pulih

Tim Redaksi Feedberry ·25 Oktober 2026 pukul 09.35 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Investor Daily ↗
6.3 Skor

Penurunan harga emas global dan pola permintaan fisik India-China memberi sinyal taktis bagi pasar komoditas, tetapi dampak langsung ke Indonesia lebih terasa lewat kurs dan harga emas domestik.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6
Analisis Komoditas
Komoditas
Emas
Harga Terkini
US$3.986,5 per ons
Faktor Demand
  • ·Pembelian emas India meningkat menjelang festival Dussehra karena harga lebih rendah.
  • ·Premi emas India naik menjadi US$9 per ons dari US$7 per ons pekan sebelumnya.
  • ·Permintaan India tahun ini masih jauh di bawah tingkat tahun lalu.
  • ·Permintaan emas fisik China stabil, tetapi konsumen membatasi belanja perhiasan.
  • ·Premi emas China US$9 hingga US$10 per ons di atas harga acuan global.
  • ·World Gold Council: permintaan perhiasan China tertekan sepanjang 2026; semester I terlemah secara tonase sejak 2006.

Ringkasan Eksekutif

Harga emas dunia turun ke US$3.986,5 per ons, dan penurunan itu langsung memantik gelombang pembelian fisik di dua pasar terbesar: India dan China. Di India, pembelian naik menjelang Dussehra karena konsumen menganggap level harga saat ini lebih menarik. Premi emas lokal India naik menjadi US$9 per ons di atas harga resmi domestik—yang sudah memuat pajak impor 15% dan pajak penjualan 3%—dari US$7 per ons pekan sebelumnya. Namun lonjakan premi itu tidak serta-merta menandakan permintaan India pulih. Pedagang melaporkan permintaan tahun ini masih jauh di bawah tingkat tahun lalu. Di China, permintaan emas fisik disebut stabil, tetapi konsumen tetap berhati-hati dan membatasi belanja perhiasan. Harga emas di China diperdagangkan dengan premi US$9 hingga US$10 per ons di atas harga acuan global.

Premi positif itu menandakan minat dasar terhadap emas fisik masih ada. Namun volume keseluruhan relatif rendah, dan analis pasar menilai pasar perhiasan China masih lemah akibat rendahnya kepercayaan konsumen, terutama di kalangan konsumen muda. World Gold Council mencatat permintaan perhiasan China terus tertekan sepanjang 2026, dengan permintaan semester pertama menjadi yang paling lemah secara tonase sejak 2006. Pola ini menunjukkan pembelian emas saat ini lebih bersifat taktis daripada struktural. Di India, festival Dussehra menjadi pemicu musiman; konsumen membeli dalam jumlah kecil karena harga lebih rendah, bukan karena pendapatan riil membaik. Di China, premi positif di tengah volume rendah menunjukkan ada minat dasar, tetapi kepercayaan konsumen belum cukup kuat untuk mengangkat belanja perhiasan.

Bagi pasar Indonesia, konteksnya penting: rupiah diperdagangkan di 18.050 per dolar AS, IHSG di 5.439 atau naik 0,95%, dan Brent di US$111,70 atau naik 2,80%. Harga emas global yang lebih rendah tidak otomatis membuat harga emas domestik turun sebesar yang sama karena pelemahan rupiah menambah biaya konversi. Dampaknya merambat ke peritel perhiasan, importir emas fisik, dan emiten tambang emas domestik. Peritel yang mengandalkan volume festival akan menghadapi permintaan yang sensitif terhadap harga; importir menanggung kombinasi harga global, kurs, dan biaya logistik; sementara produsen emas domestik melihat campuran harga global yang lebih lemah dengan rupiah yang terdepresiasi.

Mengapa Ini Penting

Penurunan harga emas memicu pembelian di India dan premi naik, tetapi volume India masih di bawah tahun lalu dan China lemah. Artinya, yang menguat adalah sensitivitas harga, bukan daya beli—sinyal bahwa konsumen memakai emas sebagai kebutuhan ritual dan lindung nilai, bukan indikator permintaan perhiasan yang sehat. Bagi Indonesia, ini membatasi ekspektasi pemulihan belanja perhiasan saat rupiah tertekan dan biaya energi tinggi, sementara pedagang yang bisa menjaga premi tetap diuntungkan.

Dampak ke Bisnis

  • Peritel dan importir emas fisik di Indonesia menghadapi dua tekanan sekaligus: harga global yang lebih rendah tetapi rupiah di 18.050 per dolar AS membuat biaya pengadaan tidak turun proporsional; margin bergantung pada kemampuan meneruskan kurs ke harga jual.
  • Emiten tambang emas domestik mendapat campuran sinyal: harga jual global melemah, tetapi depresiasi rupiah dapat menopang pendapatan dalam rupiah; di sisi lain, permintaan perhiasan China yang lemah mengurangi volume pasar fisik global.
  • Dalam 3-6 bulan, lemahnya permintaan perhiasan China dapat mengurangi impor fisik dan menekan premi global, tetapi premi positif US$9-10 per ons menunjukkan minat dasar belum hilang—perubahan ke arah volume akan menjadi penentu arah harga.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: premi emas India — jika turun kembali ke US$7 per ons dari US$9 per ons, itu menandakan musim festival Dussehra selesai dan permintaan taktis mereda.
  • Risiko yang perlu dicermati: permintaan perhiasan China — WGC mencatat semester I 2026 terlemah secara tonase sejak 2006; jika volume tidak membaik, premi US$9-10 per ons bisa bertahan tanpa diikuti transaksi nyata.
  • Sinyal penting: USD/IDR di 18.050 dan Brent di US$111,70 — pelemahan rupiah lebih lanjut atau kenaikan minyak akan menahan penurunan harga emas domestik dan menekan margin peritel.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.