3 JUN 2026
El Nino Berlanjut, BMKG Peringatkan Risiko Kekeringan & Kebakaran Hutan

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / El Nino Berlanjut, BMKG Peringatkan Risiko Kekeringan & Kebakaran Hutan
Makro

El Nino Berlanjut, BMKG Peringatkan Risiko Kekeringan & Kebakaran Hutan

Tim Redaksi Feedberry ·3 Juni 2026 pukul 10.05 · Sumber: CNBC Indonesia ↗
7.7 Skor

Peringatan dini BMKG soal El Nino dan musim kemarau berpotensi mengerek risiko kekeringan, kebakaran hutan, serta mengganggu sektor pertanian, perkebunan, dan inflasi pangan dalam negeri.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9

Ringkasan Eksekutif

BMKG merilis analisis terbaru dinamika atmosfer periode dasarian III Mei 2026 yang menunjukkan indeks ENSO bulanan sebesar +1,04 — mengonfirmasi bahwa Indonesia masih berada dalam kondisi El Nino. Indeks IOD tercatat -0,92, meskipun BMKG menegaskan belum dapat dikategorikan sebagai IOD negatif karena baru berlangsung satu bulan. Meski peluang El Nino berkembang menjadi kategori kuat kurang dari 20%, BMKG mengingatkan bahwa fase El Nino yang terjadi saat musim kemarau perlu diwaspadai karena secara langsung mengurangi curah hujan di Indonesia, meningkatkan risiko kekeringan meteorologis dan kebakaran lahan/hutan. Data terbaru menunjukkan belum ada wilayah yang masuk status Siaga atau Awas, namun beberapa kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) masuk kategori Waspada kekeringan untuk periode Dasarian I Juni 2026.

Mekanisme dampak El Nino sudah dipahami secara ilmiah: anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur dan tengah yang lebih panas menyebabkan pergeseran zona pertumbuhan awan menjauh dari Indonesia ke Pasifik tengah. Akibatnya, curah hujan di Indonesia berkurang secara signifikan, terutama di wilayah yang biasanya menerima pasokan air dari angin muson. Hal ini bukan hanya soal cuaca, melainkan ancaman langsung terhadap ketersediaan air untuk pertanian tadah hujan, produksi pangan, dan stabilitas pasokan listrik dari PLTA. Sektor yang paling rentan adalah pertanian padi, perkebunan sawit, karet, dan kakao yang sangat bergantung pada pola curah hujan. Dampak ekonomi dari El Nino tidak pernah sebatas gagal panen.

Kekeringan berkepanjangan memicu kenaikan harga pangan — terutama beras, cabai, dan bawang — yang berkontribusi langsung terhadap inflasi inti. Data pasar terkini menunjukkan harga CPO proxy (AALI) masih stabil di 6.650, namun tekanan pada produksi sawit akibat kekeringan bisa mulai terasa dalam 2-3 bulan ke depan jika musim kemarau lebih panjang dari normal. Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat, dengan konsekuensi ganda: kerugian ekologis, terganggunya aktivitas penerbangan, dan potensi bencana asap lintas batas yang bisa memicu ketegangan diplomatik. Bagi korporasi, sektor agribisnis, asuransi, dan logistik perlu melakukan mitigasi: petani harus mengamankan pasokan air irigasi, sementara perusahaan sawit perlu menyiapkan buffer stock atau kontrak impor jika produksi dalam negeri terganggu.

Mengapa Ini Penting

El Nino yang masih berlangsung saat musim kemarau berpotensi memperburuk inflasi pangan domestik melalui gagal panen dan kenaikan harga beras serta komoditas strategis lain. Dampak ripple bisa meluas ke sektor energi (PLTA), transportasi (kabut asap), dan fiskal (biaya penanggulangan bencana) — menggerus daya beli dan margin bisnis UMKM serta emiten agribisnis.

Dampak ke Bisnis

  • Sektor agribisnis & perkebunan: Kekeringan mengancam produksi padi dan CPO, terutama di wilayah tadah hujan. Emiten seperti AALI, LSIP, dan SSMS perlu mengantisipasi potensi kenaikan biaya irigasi atau penurunan produktivitas. Jika kekeringan meluas, harga CPO global bisa terangkat, menguntungkan produsen besar namun merugikan petani kecil.
  • Sektor pangan & ritel: Harga beras dan bahan pangan pokok rentan naik, menguntungkan perusahaan ritel yang memiliki stok besar (seperti ICBP, GGRM melalui diversifikasi), tetapi menekan daya beli konsumen kelas menengah ke bawah. Perusahaan makanan olahan dengan rantai pasok domestik harus siap menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
  • Sektor energi & infrastruktur: PLTA di Sumatra dan Kalimantan berpotensi mengalami penurunan kapasitas produksi jika debit air sungai menurun. Korporasi penyedia air bersih (seperti PDAM, atau emiten non-listed) akan mengalami tekanan biaya operasional. Proyek infrastruktur konstruksi juga bisa terhambat jika musim kemarau ekstrem mengganggu pasokan air semen dan logistik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: update dasarian BMKG setiap 10 hari — jika zona waspada meluas ke Jawa Barat atau Jawa Tengah, dampak ke produksi beras nasional akan semakin nyata.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan — jika karhutla meluas, aktivitas penerbangan dan ekspor batu bara bisa terganggu, serta berujung pada penurunan kualitas udara yang memicu regulasi darurat.
  • Sinyal penting: rilis harga pangan eceran dan data inflasi Juni oleh BPS — kenaikan indeks volatile food di atas 5% YoY akan menjadi trigger bagi BI untuk mempertimbangkan kebijakan moneter ketat lebih lama, yang berimplikasi pada suku bunga kredit dan daya beli.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.