28 JUN 2026
DPR Siapkan Bursa Mineral 2027, Tata Kelola Logam Tanah Jarang Diperketat

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / DPR Siapkan Bursa Mineral 2027, Tata Kelola Logam Tanah Jarang Diperketat
Kebijakan

DPR Siapkan Bursa Mineral 2027, Tata Kelola Logam Tanah Jarang Diperketat

Tim Redaksi Feedberry ·28 Juni 2026 pukul 04.00 · Sinyal tinggi · Sumber: CNBC Indonesia ↗
7 Skor

Rencana bursa mineral dan pengelolaan logam tanah jarang berdampak luas pada tata kelola seluruh sektor pertambangan, hilirisasi, dan daya saing nasional — namun masih dalam tahap persiapan sehingga urgensi implementasi belum tinggi.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis serta Pengelolaan Logam Tanah Jarang
Penerbit
Pemerintah dan DPR RI (Komisi XII)
Berlaku Sejak
2027-01-01
Perubahan Kunci
  • ·Pembentukan bursa mineral dan komoditas strategis untuk menetapkan harga acuan nasional
  • ·Pencegahan praktik transfer pricing dan under invoicing dalam perdagangan mineral
  • ·Dorongan eksplorasi dan pengelolaan logam tanah jarang di wilayah potensial (Bangka Belitung, Sulawesi)
  • ·Perbaikan tata kelola rantai pasok mineral secara keseluruhan
Pihak Terdampak
Perusahaan tambang mineral dan logam di Indonesia (emas, nikel, timah, bauksit, logam tanah jarang)Pemerintah daerah penghasil mineral (Bangka Belitung, Sulawesi, Maluku, Papua)Investor di sektor pertambangan dan aneka industriIndustri hilirisasi dan pengguna logam strategis (baterai, elektronik, pertahanan)Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah dan DPR tengah mempersiapkan pembentukan bursa mineral dan komoditas strategis yang ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.

Langkah ini bertujuan memperkuat hilirisasi dan daya saing nasional, sekaligus memberikan Indonesia pengaruh dalam pergerakan harga acuan komoditas. Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menegaskan bahwa bursa mineral menjadi instrumen untuk menghindari praktik transfer pricing dan under invoicing yang selama ini merugikan negara, serta memperbaiki tata kelola rantai pasok mineral Indonesia.

Di sisi lain, DPR juga mendorong upaya eksplorasi dan pengelolaan logam tanah jarang (rare earth elements) yang menjadi buruan global karena perannya dalam teknologi telekomunikasi, pertahanan, dan keamanan. Sejumlah wilayah potensial telah teridentifikasi, antara lain Bangka Belitung yang merupakan penghasil timah dan mengandung logam tanah jarang, serta Sulawesi yang juga menyimpan potensi serupa. Rencana ini muncul di tengah dinamika hilirisasi yang telah berjalan, terutama di sektor nikel, namun logam tanah jarang belum tergarap optimal karena keterbatasan teknologi dan investasi. Dengan potensi cadangan yang signifikan, Indonesia sejatinya bisa menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global logam tanah jarang, yang permintaannya terus meningkat seiring elektrifikasi kendaraan, pertumbuhan pusat data, dan modernisasi alat pertahanan.

Namun, tantangan utamanya adalah membangun industri pengolahan yang efisien dan ramah lingkungan, serta memastikan tata kelola yang transparan agar manfaatnya benar-benar dinikmati negara. Pembentukan bursa mineral sendiri akan menjadi landasan penting bagi perdagangan komoditas strategis, memberikan acuan harga yang lebih adil dan mengurangi peran perantara yang sering memanfaatkan celah regulasi. Dampak dari kebijakan ini akan terasa di berbagai sektor. Bagi perusahaan tambang besar seperti Antam (ANTM), Merdeka Copper Gold (MDKA), dan sejumlah emiten timah seperti TINS, transparansi harga melalui bursa berpotensi meningkatkan pendapatan ekspor dan mengurangi risiko sengketa pajak. Namun, perusahaan yang selama ini diuntungkan oleh praktik under invoicing akan menghadapi tekanan penyesuaian.

Bagi investor, bursa mineral memberikan instrumen baru untuk lindung nilai (hedging) dan investasi komoditas, baik melalui aset fisik maupun derivatif.

Dalam jangka panjang, pengelolaan logam tanah jarang yang baik dapat menarik investasi asing langsung, terutama dari negara-negara yang membutuhkan pasokan stabil untuk industri teknologi tinggi seperti Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Mengapa Ini Penting

Pengelolaan logam tanah jarang dan bursa mineral bukan sekadar wacana — ini adalah langkah struktural untuk memperbaiki tata kelola sumber daya alam yang selama ini bocor melalui transfer pricing. Jika berhasil, Indonesia bisa mendapatkan nilai tambah lebih besar dari setiap ton mineral yang diekspor, sekaligus membangun posisi tawar dalam rantai pasok global teknologi tinggi. Gagal, maka potensi luar biasa ini hanya akan dinikmati segelintir pihak dan investor asing.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten tambang besar yang telah menerapkan tata kelola baik (seperti ANTM, MDKA, TINS) akan diuntungkan oleh transparansi harga dan pengurangan praktik curang yang selama ini merugikan negara. Namun, perusahaan yang mengandalkan under invoicing untuk menekan pajak akan menghadapi tekanan ekstra.
  • Industri hilirisasi yang membutuhkan logam tanah jarang sebagai bahan baku — seperti produsen magnet permanen, baterai, dan komponen elektronik — akan mendapatkan kepastian pasokan dan harga yang lebih stabil jika bursa mineral berfungsi efektif.
  • Dalam jangka 3-6 bulan ke depan, percepatan eksplorasi dan pengembangan tambang logam tanah jarang dapat membuka peluang baru bagi perusahaan jasa pertambangan dan kontraktor, serta meningkatkan permintaan alat berat seperti yang dipasok oleh United Tractors (UNTR) atau Astra (ASII).

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: detail regulasi bursa mineral yang akan dibahas DPR — terutama apakah bursa bersifat wajib untuk seluruh transaksi komoditas mineral atau hanya untuk komoditas strategis tertentu.
  • Risiko yang perlu dicermati: resistensi dari pelaku industri yang selama ini diuntungkan oleh praktik kurang transparan — bisa menunda realisasi bursa atau melahirkan aturan yang longgar.
  • Sinyal penting: pengumuman kemitraan atau investasi dari asing terkait pengolahan logam tanah jarang di Indonesia — menjadi indikator kepercayaan terhadap kebijakan ini.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.