7 JUN 2026
Defisit Perak 46,3 Juta Oz – Harga Tinggi Dorong Efisiensi, Tapi Permintaan Tetap Kuat

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Defisit Perak 46,3 Juta Oz – Harga Tinggi Dorong Efisiensi, Tapi Permintaan Tetap Kuat
Pasar

Defisit Perak 46,3 Juta Oz – Harga Tinggi Dorong Efisiensi, Tapi Permintaan Tetap Kuat

Tim Redaksi Feedberry ·5 Juni 2026 pukul 14.38 · Sumber: MINING.com ↗
6.3 Skor

Artikel menyoroti defisit struktural perak yang mempertahankan harga tinggi, berdampak pada biaya panel surya global dan sentimen komoditas Indonesia meskipun pengaruh langsung terbatas.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Pasar perak global memasuki tahun keenam defisit beruntun, dengan Silver Institute memproyeksikan kekurangan pasokan 46,3 juta ons pada 2026. Lonjakan harga perak sempat menyentuh USD120 per ons di Januari 2026, naik dari sekitar USD30 setahun sebelumnya, sebelum terkoreksi ke level USD74 per ons pada Kamis lalu. Lonjakan harga ini mendorong produsen panel surya untuk mengurangi jumlah perak yang digunakan per sel (thrifting) dan mencari substitusi ke tembaga, namun analis memperingatkan bahwa penghematan itu mungkin tidak cukup untuk mengimbangi permintaan yang terus tumbuh. Penggunaan perak di sektor fotovoltaik, yang merupakan konsumen industri terbesar, turun 6% tahun lalu menjadi 186,6 juta ons, dan diperkirakan turun 19% lagi pada 2026 menjadi 151 juta ons.

Meski efisiensi meningkat, permintaan absolut masih tinggi karena instalasi panel surya global terus meluas, terutama di Amerika Utara yang didorong oleh kebijakan dukungan energi bersih dan pembangunan utilitas skala besar. Permintaan bubuk perak untuk manufaktur surya di AS naik 4% tahun lalu. Faktor kunci yang menjadi variabel adalah China, yang menguasai sekitar 80% kapasitas manufaktur panel surya global. Perusahaan seperti LONGi dan Trina Solar telah berekspansi agresif ke AS setelah insentif energi bersih era Biden, yang memicu investasi manufaktur surya senilai sekitar USD43 miliar dan menciptakan sekitar 48.000 lapangan kerja. Namun, aturan baru AS yang membatasi kepemilikan dan kendali China di pabrik bersubsidi menimbulkan ketidakpastian regulasi. Hal ini memengaruhi keputusan pembeli, pemberi pinjaman, dan penyedia asuransi yang mulai menarik diri.

Momentum pertumbuhan diperkirakan melambat pada 2026 seiring instalasi global yang mendatar.

Di sisi lain, harga perak yang tinggi mendorong riset substitusi dan pengurangan kandungan perak, tetapi secara fundamental pasar masih dalam tekanan defisit yang dapat menjaga harga di level elevated. Bagi Indonesia, meskipun bukan produsen perak utama, fluktuasi harga perak berdampak pada biaya impor panel surya dan potensi pendapatan emiten logam mulia. Rupiah yang melemah ke Rp18.015 per dolar AS saat ini semakin memperkuat efek harga perak dalam rupiah bagi produsen domestik. Ke depan,

Mengapa Ini Penting

Defisit perak yang berkelanjutan menandakan adanya ketidakseimbangan struktural antara pasokan dan permintaan logam industri yang krusial untuk transisi energi dan elektronik. Bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor panel surya dan produsen kecil perak, harga perak yang tinggi berdampak langsung pada biaya proyek energi terbarukan sekaligus berpotensi meningkatkan pendapatan emiten tambang. Ketidakpastian regulasi di AS terkait rantai pasok China juga berimplikasi pada strategi impor dan investasi sektor energi di dalam negeri.

Dampak ke Bisnis

  • Kenaikan harga perak akibat defisit menekan margin pengembang proyek PLTS di Indonesia, karena perak menyumbang lebih dari 20% biaya sel surya. Jika harga perak bertahan di atas USD70 per ons, biaya impor panel surya meningkat, memperlambat realisasi target energi terbarukan nasional.
  • Emiten tambang logam mulia Indonesia, seperti ANTM dan MDKA, yang memiliki produksi perak sebagai produk sampingan, berpotensi menikmati kenaikan pendapatan dari harga perak yang tinggi. Namun, kenaikan ini harus dibandingkan dengan tekanan biaya dari rupiah yang lemah dan kenaikan harga energi domestik.
  • Substitusi perak ke tembaga oleh produsen panel global dapat menggeser permintaan ke tembaga, yang justru menguntungkan produsen tembaga Indonesia. Namun, jika thrifting terbukti efektif, pergeseran ini bisa mengurangi tekanan pada harga perak dalam jangka panjang, sehingga perlu dicermati oleh investor di sektor logam.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: tindak lanjut regulasi AS terkait kepemilikan China di pabrik surya bersubsidi. Jika aturan diperketat, arus investasi dan produksi panel bisa bergeser, memengaruhi harga perak global.
  • Risiko yang perlu dicermati: data permintaan perak dari sektor non-solar seperti elektronik dan baterai. Jika permintaan dari sektor lain tetap kuat, thrifting di solar saja tidak akan menutup defisit, menjaga harga tetap tinggi.
  • Sinyal penting: realisasi penurunan kandungan perak per panel dari produsen utama (LONGi, Trina Solar). Jika thrifting berhasil menekan konsumsi perak lebih dari proyeksi, tekanan harga bisa mereda. Sebaliknya, jika gagal, defisit akan semakin dalam.

Konteks Indonesia

Indonesia bukan produsen perak utama, namun sebagai importir panel surya dan negara dengan target energi terbarukan, fluktuasi harga perak berdampak pada biaya pengadaan PLTS. Rupiah yang melemah ke level Rp18.015 per dolar AS memperkuat efek kenaikan harga perak dalam rupiah, sehingga beban biaya proyek energi surya di dalam negeri meningkat. Di sisi lain, emiten tambang dengan produk sampingan perak, seperti ANTM dan MDKA, berpotensi mendapat dampak positif terbatas dari harga perak yang tinggi. Selain itu, ketidakpastian regulasi AS terkait rantai pasok China dapat memengaruhi ketersediaan dan harga panel surya di pasar global, yang pada akhirnya memengaruhi rencana investasi energi bersih Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.