6 JUN 2026
DBS: Rupiah Tembus 18.000, IHSG Dekat Terendah 6 Tahun — BI Diminta Kembali Naikkan Bunga

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / DBS: Rupiah Tembus 18.000, IHSG Dekat Terendah 6 Tahun — BI Diminta Kembali Naikkan Bunga
Forex & Crypto

DBS: Rupiah Tembus 18.000, IHSG Dekat Terendah 6 Tahun — BI Diminta Kembali Naikkan Bunga

Tim Redaksi Feedberry ·5 Juni 2026 pukul 19.24 · Sumber: FXStreet ↗
9.3 Skor

Rupiah di titik terlemah sepanjang sejarah, IHSG di posisi terendah dalam enam tahun, dan ekspektasi pasar menuntut respons kebijakan moneter yang lebih agresif — krisis kepercayaan mulai merambat ke seluruh aset onshore.

Urgensi
9
Luas Dampak
10
Dampak Indonesia
9

Ringkasan Eksekutif

DBS Group Research memperingatkan bahwa pasar aset onshore Indonesia sedang dalam tekanan berat. Rupiah telah terdepresiasi ke titik terlemah sepanjang sejarah, menembus level 18.000 per dolar AS dan turun sekitar 7,5% secara year-to-date. Indeks saham acuan IHSG juga mendekati level terendahnya dalam enam tahun terakhir. Ekonom DBS, Radhika Rao, menyoroti bahwa tekanan ini terjadi di tengah pelebaran mandat Bank Indonesia yang kini mencakup sektor riil dan penciptaan lapangan kerja, namun DBS tetap memperkirakan kebijakan moneter akan tetap berfokus pada stabilitas pasar keuangan dan kemungkinan pengetatan suku bunga lebih lanjut untuk mempertahankan nilai tukar. Faktor pendorong utama depresiasi rupiah adalah kombinasi dari tekanan eksternal dan domestik.

Secara global, dolar AS yang kuat — didukung oleh suku bunga The Fed yang masih tinggi di 3,63% dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun di 4,47% — terus mendorong arus keluar modal dari negara berkembang. Secara domestik, tanpa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) untuk menahan permintaan, kenaikan harga minyak global dan pelemahan rupiah akan memperburuk neraca perdagangan dan, pada akhirnya, transaksi berjalan Indonesia. Keseimbangan primer APBN yang sudah negatif Rp95,8 triliun pada Maret 2026 semakin membatasi ruang fiskal untuk memberikan stimulus atau subsidi energi yang memadai. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah dimensi struktural dari tekanan ini.

Pelemahan rupiah hingga di atas 18.000 bukan sekadar siklus, melainkan cerminan dari kerentanan eksternal Indonesia yang semakin dalam: defisit transaksi berjalan yang melebar, cadangan devisa yang terus terkuras untuk intervensi, dan ketergantungan pada impor energi yang tinggi. Kenaikan yield obligasi pemerintah di seluruh tenor — dengan kurva yang semakin mendatar (bear flattening) — menunjukkan bahwa investor mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang surat berharga Indonesia. Ini adalah sinyal klasik bahwa kepercayaan terhadap prospek fiskal dan moneter mulai terkikis. Dampaknya akan terasa luas. Bagi importir bahan baku dan perusahaan dengan utang dalam denominasi dolar, beban biaya akan meningkat tajam. Bagi perbankan, lonjakan yield SBN dapat memicu tekanan mark-to-market pada portofolio obligasi mereka, berpotensi menekan modal inti.

Sementara itu, bagi eksportir komoditas seperti batu bara dan CPO, pelemahan rupiah memberikan windfall dalam rupiah — namun keuntungan ini bisa terhapus jika permintaan global ikut melemah akibat perlambatan ekonomi. Dalam 1-4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Ini bukan sekadar siklus pelemahan biasa — rupiah di titik terendah sepanjang sejarah menandakan bahwa tekanan eksternal dan domestik telah mencapai tingkat kritis. Dampaknya langsung ke biaya impor, inflasi, dan beban utang perusahaan-perusahaan besar Indonesia. Keputusan BI dalam waktu dekat akan menentukan apakah Indonesia bisa mengendalikan tekanan ini atau justru masuk ke dalam spiral depresiasi yang lebih dalam.

Dampak ke Bisnis

  • Pelemahan rupiah ke 18.000 meningkatkan biaya impor untuk bahan baku, barang modal, dan komponen elektronik secara signifikan. Perusahaan manufaktur dengan ketergantungan impor tinggi — seperti otomotif, elektronik, dan consumer goods — akan mengalami tekanan margin yang langsung terlihat di laporan keuangan kuartal II 2026.
  • Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di semua tenor akan menaikkan biaya pendanaan korporasi. Perusahaan yang berencana menerbitkan obligasi atau refinancing utang akan menghadapi kupon yang lebih mahal, sementara portofolio obligasi perbankan berpotensi mengalami kerugian mark-to-market yang menekan rasio kecukupan modal.
  • Sektor properti dan konstruksi kembali tertekan. Jika BI menaikkan suku bunga acuan untuk melindungi rupiah, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit investasi properti akan ikut naik, menghambat pemulihan sektor yang baru mulai bangkit. Developer properti menengah ke bawah akan merasakan dampak paling berat karena sensitivitas konsumen terhadap cicilan lebih tinggi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: keputusan suku bunga BI dalam 2-4 minggu ke depan — jika BI menaikkan bunga, ini akan menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah sudah sangat akut dan memerlukan intervensi kebijakan yang lebih drastis.
  • Risiko yang perlu dicermati: aksi investor asing di pasar SBN dan saham — jika arus keluar berlanjut dengan volume besar, IHSG bisa terkoreksi lebih dalam dan yield obligasi tenor 10 tahun bisa mendekati level psikologis berikutnya, memperbesar biaya utang pemerintah.
  • Sinyal penting: pergerakan harga minyak mentah global (Brent di $93 per barel) — jika harga terus naik akibat ketegangan geopolitik atau pemulihan permintaan, defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar lebih jauh, memperkuat tekanan depresiasi rupiah.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.