20 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Makro / Daya Saing RI ke-48 — Agenda 2027 Dunia Usaha
Makro

Daya Saing RI ke-48 — Agenda 2027 Dunia Usaha

Tim Redaksi Feedberry ·20 Oktober 2026 pukul 13.32 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Investor Daily ↗
7.3 Skor

Peringkat daya saing turun dari 27 ke 48 dalam dua tahun dan agenda 2027 menyentuh strategi lintas sektor, tetapi forum ini bukan guncangan pasar langsung.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Peringkat daya saing Indonesia turun ke posisi 48 dari 70 negara pada IMD World Competitiveness Ranking 2026, dari peringkat 40 pada 2025 dan 27 pada 2024. Penurunan ini menjadi latar forum OUTLOOK 2027: Winning the Next Growth Cycle — The 2027 C-Suite Agenda for Growth, Leadership and Competitive Advantage yang digelar Prasetiya Mulya Executive Learning Institute (Prasmul-ELI) bersama Ikatan Alumni Prasetiya Mulya (IKA Prasmul) di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Forum dihadiri 281 peserta dari kalangan pemimpin perusahaan, pemilik bisnis, komisaris, dan praktisi lintas industri. Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyebut ekonomi nasional tumbuh 5,45% pada semester I-2026, tetapi pertumbuhan itu perlu diimbangi peningkatan daya saing dan produktivitas dunia usaha.

Dalam pemaparannya, Anindya menyoroti tantangan pada efisiensi bisnis, kualitas manajemen, dan pendidikan. Perbaikan tiga aspek itu dinilai diperlukan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%. Ia mengemukakan tiga pendekatan menghadapi siklus pertumbuhan berikutnya: crisis, competition, dan compassion. Ketiganya menekankan ketangguhan menghadapi krisis, peningkatan daya saing, serta kolaborasi agar pertumbuhan perusahaan turut memberi manfaat bagi pelaku usaha lain, termasuk UMKM. Ketua Umum IKA Prasmul sekaligus President CEO Club Edy Sutrisman menambahkan, perubahan ekonomi global menuntut perusahaan lebih cepat membaca peluang dan memperluas kerja sama. Dinamika geopolitik dan tekanan ekonomi, menurutnya, tidak selalu menutup peluang bisnis. Ia mencontohkan pasar kendaraan listrik yang tetap tumbuh meski ada kekhawatiran terhadap pelemahan daya beli masyarakat.

CEO Prasmul-ELI Citra Junika Siregar menekankan perlunya kepemimpinan visioner dan penguatan kapabilitas organisasi melalui pelatihan, pengembangan kepemimpinan, peningkatan keterampilan karyawan, serta kerja sama dengan akademisi dan pemangku kepentingan. Yang tidak terlihat dari headline ini: penurunan peringkat dari 27 ke 48 dalam dua tahun terjadi saat ekonomi masih tumbuh 5,45%. Artinya, pertumbuhan output belum otomatis diterjemahkan menjadi efisiensi bisnis dan kualitas manajemen. Bagi dunia usaha, ini mengubah peta persaingan. Perusahaan tidak cukup mengandalkan pasar domestik yang tumbuh; mereka perlu memperbaiki produktivitas, kapabilitas organisasi, dan akses pasar. Target pertumbuhan 8% juga menjadi ujian: tanpa perbaikan daya saing, target itu berisiko lebih banyak bertumpu pada konsumsi dan belanja negara ketimbang produktivitas sektor swasta.

Contoh kendaraan listrik menunjukkan bahwa peluang tetap ada di tengah tekanan daya beli, tetapi hanya bagi perusahaan yang mampu membaca perubahan pasar dan membangun jaringan. Dampaknya meluas ke sektor yang tidak disebut artikel. Perusahaan padat karya dan emiten yang bersaing di pasar ekspor akan menghadapi tuntutan efisiensi lebih tinggi. Penyedia pelatihan, konsultansi manajemen, dan lembaga pendidikan akan melihat permintaan baru untuk pengembangan kepemimpinan dan keterampilan. UMKM yang masuk rantai pasok korporasi dapat memperoleh manfaat jika kolaborasi benar-benar dijalankan, tetapi juga tertekan jika perusahaan besar memilih konsolidasi untuk menjaga margin. Konteks pasar saat ini menambah tekanan: IHSG berada di 5.218 dan naik 0,63%, rupiah di 17.995 per dolar AS, serta Brent di US$110,58.

Biaya impor bahan baku dan energi yang tinggi membuat perbaikan efisiensi bukan pilihan, melainkan keharusan.

Mengapa Ini Penting

Penurunan peringkat daya saing menjadi masalah struktural ketika pertumbuhan ekonomi masih terlihat stabil: kualitas pertumbuhan, bukan hanya angkanya, yang menentukan daya tahan korporasi. Ini mengubah arti target pertumbuhan 8% — tanpa perbaikan efisiensi bisnis dan kualitas manajemen, target itu lebih mungkin bertumpu pada konsumsi dan belanja negara ketimbang produktivitas sektor swasta. Bagi investor dan pengusaha, pembeda kinerja sektor ke depan akan terletak pada kapabilitas organisasi dan produktivitas, bukan semata eksposur ke pasar domestik.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan padat karya dan emiten berorientasi ekspor menghadapi tuntutan efisiensi lebih tinggi; peringkat daya saing yang turun ke 48 mencerminkan tekanan pada kualitas manajemen dan efisiensi bisnis, yang dapat menekan margin jika tidak diimbangi produktivitas.
  • Sektor pendidikan, pelatihan, dan konsultansi manajemen berpotensi memperoleh permintaan baru dari agenda penguatan kepemimpinan dan keterampilan karyawan; kolaborasi dengan akademisi yang disebut dalam forum membuka jalur kerja sama institusional.
  • UMKM dan rantai pasok korporasi menjadi pihak yang sering terlewat: kolaborasi compassion dapat memperluas akses pasar, tetapi konsolidasi efisiensi perusahaan besar berisiko menekan vendor kecil jika biaya dana tetap tinggi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons pemerintah dan Kadin terhadap peringkat daya saing 48 — apakah muncul program konkret perbaikan efisiensi bisnis dan kualitas manajemen dalam 2–4 minggu ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: posisi rupiah di 17.995 per dolar AS — jika pelemahan berlanjut, biaya impor bahan baku dan peralatan naik, mempersempit ruang perusahaan untuk berinvestasi pada kapabilitas organisasi.
  • Sinyal penting: arah pembahasan agenda 2027 dan target pertumbuhan 8% — tanpa perbaikan daya saing, target tersebut berisiko lebih bergantung pada konsumsi dan belanja negara ketimbang produktivitas sektor swasta.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.