29 JUL 2026
Core Scientific Q2-2026 Revenue Double, AI Colocation Dominan — Rugi US$1,15 Miliar dari Warrant, Bukan Operasi

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Core Scientific Q2-2026 Revenue Double, AI Colocation Dominan — Rugi US$1,15 Miliar dari Warrant, Bukan Operasi
Teknologi

Core Scientific Q2-2026 Revenue Double, AI Colocation Dominan — Rugi US$1,15 Miliar dari Warrant, Bukan Operasi

Tim Redaksi Feedberry ·28 Juli 2026 pukul 15.47 · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

Pergeseran struktural penambang Bitcoin ke infrastruktur AI kian nyata; dampak sentimen kripto global dan peluang investasi pusat data relevan bagi Indonesia.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Perusahaan infrastruktur digital Core Scientific mencatatkan lonjakan pendapatan signifikan di kuartal II-2026. Pendapatan mencapai US$164,2 juta, lebih dari dua kali lipat dari US$78,6 juta setahun sebelumnya. Bisnis colocation AI menjadi sumber utama dengan kontribusi US$136,7 juta, naik dramatis dari US$10,6 juta di periode yang sama tahun lalu. Laba kotor melonjak dari US$5 juta menjadi US$70 juta. Namun, perusahaan mencatat rugi bersih US$1,15 miliar. Kerugian ini berasal dari beban non-tunai terkait kenaikan nilai warrant seiring kenaikan harga saham — bukan dari operasional yang justru membaik tajam. Transformasi Core Scientific mempertegas perubahan strategi di kalangan penambang Bitcoin publik. Perusahaan yang dulu menjadi salah satu penambang terbesar kini hanya memiliki treasury Bitcoin kurang dari 1.000 BTC.

Sebaliknya, pendapatan colocation untuk AI dan high-performance computing (HPC) mendominasi. Mitra utama termasuk CoreWeave, sementara kemitraan baru dengan AMD menambah bobot kredibilitas bisnis ini. Perjanjian dengan AMD berpotensi mendukung hingga 2,5 gigawatt kapasitas pusat data yang dapat disewakan, diawali kontrak 15 tahun seluas 530 megawatt di beberapa lokasi AS mulai 2027. Total kapasitas daya pelanggan yang sudah disewa mencapai 1,1 GW, mewakili potensi pendapatan terkontrak lebih dari US$24 miliar.

Implikasi dari laporan ini tidak hanya bersifat mikro perusahan. Core Scientific membuktikan bahwa infrastruktur yang dibangun untuk penambangan kripto bisa dengan mudah dialihkan ke komputasi AI. Tren ini sudah diikuti oleh IREN yang mengungkap kontrak cloud senilai US$2,8 miliar dan Hut 8 dengan perjanjian sewa US$9,8 miliar. Artinya, permintaan pusat data AI global terus meledak. Bagi Indonesia yang tengah membangun ekosistem ekonomi digital dan menargetkan menjadi hub pusat data ASEAN, berita ini menjadi sinyal bahwa peluang investasi masih terbuka lebar — namun persaingan dengan negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand juga semakin ketat.

Mengapa Ini Penting

Artikel ini menegaskan bahwa transisi penambang kripto ke AI bukan sekadar diversifikasi taktis, melainkan pergeseran struktural yang dapat mengubah lanskap infrastruktur digital global. Non-cash loss yang besar mengaburkan kekuatan fundamental perusahaan, tetapi investor perlu fokus pada pendapatan colocation yang tumbuh 13 kali lipat. Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus ancaman: tanpa kebijakan energi yang kompetitif dan regulasi yang memudahkan, aliran investasi pusat data bisa lebih deras ke negara tetangga yang lebih agresif.

Dampak ke Bisnis

  • Peningkatan permintaan global untuk pusat data AI akan mendorong investasi di sektor infrastruktur teknologi Indonesia, seperti penyedia lahan dan listrik. Namun, jika Indonesia tidak cepat berbenah, investasi besar bisa lolos ke Malaysia atau Singapura yang memiliki iklim investasi lebih matang.
  • Sektor penambangan kripto di Indonesia (jika ada) akan menghadapi tekanan untuk bertransformasi serupa. Peralihan dari mining ke AI colocation di tingkat global bisa menurunkan harga perangkat keras mining bekas, tetapi membuka peluang alih fungsi fasilitas eksisting untuk komputasi.
  • Emiten teknologi dan telekomunikasi di IHSG yang terkait dengan pusat data, seperti penyedia infrastruktur digital, mendapat sentimen positif dari prospek jangka panjang. Namun, investor harus mewaspadai bahwa lonjakan investasi fisik baru akan terasa dalam 2-3 tahun ke depan, bukan kuartal ini.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan realisasi kontrak AMD-Core Scientific 530 MW — jika ada penundaan, ekspektasi pertumbuhan sektor AI bisa terkoreksi.
  • Risiko yang perlu dicermati: beban warrant dan potensi dilusi saham Core Scientific — jika harga saham terus naik, warrant semakin mahal dan bisa menekan laba akuntansi kuartal berikutnya.
  • Sinyal penting: laporan kuartal III-2026 pesaing seperti IREN dan Hut 8 — jika pendapatan colocation mereka juga melonjak, tren transformasi sektor sudah kuat dan tak terbantahkan.

Konteks Indonesia

Meskipun Core Scientific tidak beroperasi di Indonesia, pengalihan besar-besaran penambang Bitcoin ke AI colocation memperkuat tren global investasi pusat data. Indonesia memiliki modal lokasi strategis dan potensi energi panas bumi, namun persaingan ketat dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Artikel ini mengingatkan bahwa tanpa perbaikan infrastruktur listrik dan kepastian regulasi, Indonesia bisa kehilangan momentum menjadi hub AI regional.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.