10 SEP 2026
Tern Kontrak US Army USD11,26 Juta — Navigasi Tanpa GPS

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Tern Kontrak US Army USD11,26 Juta — Navigasi Tanpa GPS
Teknologi

Tern Kontrak US Army USD11,26 Juta — Navigasi Tanpa GPS

Tim Redaksi Feedberry ·10 September 2026 pukul 12.00 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
4.3 Skor

Kontraknya kecil, tetapi menandai pergeseran strategis dari ketergantungan pada GPS ke navigasi alternatif — relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang bergantung pada navigasi satelit, namun dampak langsungnya tidak segera terasa.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
3
Analisis Startup & Pendanaan
Seri Pendanaan
Kontrak Pemerintah (Angkatan Darat AS)
Jumlah
USD11,26 juta
Sektor
Teknologi Pertahanan dan Navigasi
Penggunaan Dana
Penerapan teknologi navigasi alternatif GPS pada kendaraan militer
Investor
Angkatan Darat Amerika Serikat (sebagai pemberi kontrak)

Ringkasan Eksekutif

Tern, startup yang berbasis di Austin, Texas, memenangkan kontrak senilai USD11,26 juta dari Angkatan Darat Amerika Serikat untuk menerapkan teknologi navigasi alternatif GPS pada kendaraan militer. Perusahaan menggambarkan teknologinya sebagai "Google Maps for the battlefield", meski Tern enggan mengungkap skala persis penerapannya. Kontrak ini menjadi validasi komersial yang terlihat bagi pendekatan navigasi tanpa satelit di sektor pertahanan, setelah bertahun-tahun perusahaan membuktikan teknologinya bekerja. Cara kerja teknologi itu bersandar pada data yang dihasilkan kendaraan modern saat beroperasi. Tern memasang perangkat yang tersambung ke papan diagnostik kendaraan dan dihubungkan ke tablet, yang menjadi antarmuka bagi tentara untuk melihat posisi, navigasi, dan rute. Perusahaan "mendengarkan secara pasif" aliran data itu tanpa mengganggu fungsinya, lalu memakai metode proprietary untuk menghasilkan koordinat latitude dan longitude.

Pemrosesan dilakukan di tepi jaringan, sehingga kendaraan dapat menentukan posisinya sendiri — termasuk saat berada di terowongan atau gurun. Salah satu pendiri sekaligus CEO Tern, Shaun Moore, menekankan bahwa sistem ini tertutup, sehingga bukan sekadar cadangan, melainkan juga lebih sulit diganggu pihak lawan. Ia juga menyoroti rendahnya kesadaran konsumen akan kerapuhan sistem GPS — orang menganggap titik biru di ponsel akan selalu ada. Konteks yang tidak tampak dari headline: kontrak ini lahir dari meningkatnya gangguan sinyal GPS, terutama di Timur Tengah dan di langit Ukraina serta Rusia. Militer AS sendiri dilaporkan bereksperimen dengan jamming GPS, yang bahkan diduga berkontribusi pada kecelakaan pesawat medevac awal tahun ini.

Kongres dan Presiden Trump pada periode pertama pemerintahannya telah berupaya mengembangkan teknologi navigasi resilien non-GPS. Rekan pendiri Tern, Brett Harrison, seorang veteran yang pernah bertugas di Afghanistan dalam gugus tugas operasi khusus, menyebut kontrak ini sebagai validasi setelah bertahun-tahun pembuktian. Ia pernah menguji teknologi itu dalam perjalanan 1.300 mil antara Austin dan Laguna Beach, California, dan mengklaim posisi kendaraannya tidak pernah hilang sepanjang perjalanan, sementara GPS konvensional terputus puluhan kali. Dampaknya meluas melampaui militer. Ketergantungan global pada GPS menyentuh pelayaran, aviasi, logistik, hingga telekomunikasi. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lalu lintas pelayaran padat, teknologi navigasi alternatif membuka pertanyaan tentang kedaulatan teknologi dan ketahanan infrastruktur. Namun adopsi di dalam negeri masih menghadapi hambatan regulasi, kesiapan industri pertahanan, dan biaya.

Dalam 1-4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Yang berubah bukan nilai kontraknya, melainkan asumsinya: militer terbesar dunia mulai membayar untuk teknologi yang dirancang beroperasi tanpa GPS. Ini menandai dimulainya diversifikasi navigasi sebagai prioritas anggaran pertahanan, bukan sekadar proyek riset. Bagi negara yang seluruh mobilitas logistiknya bergantung pada satelit, sinyal ini lebih penting daripada angkanya.

Dampak ke Bisnis

  • Sektor pertahanan dan teknologi navigasi memasuki fase baru: permintaan terhadap sensor inersia, pemrosesan di tepi jaringan, dan perangkat navigasi mandiri berpotensi tumbuh. Pemasok komponen untuk aplikasi militer maupun sipil akan merasakan dorongan permintaan ini lebih dulu.
  • Pihak yang tidak disebut artikel tetapi terdampak: operator pelayaran, aviasi, dan logistik di Indonesia yang bergantung pada GPS untuk rute antarpulau. Gangguan sinyal di jalur padat seperti Selat Malaka dan Laut China Selatan berdampak langsung pada keselamatan dan efisiensi bahan bakar, meski solusi berbiaya rendah belum tersedia di pasar lokal.
  • Implikasi yang baru terasa dalam 3-6 bulan ke depan: jika militer AS memperluas kontrak serupa, startup navigasi alternatif akan menarik modal ventura lebih besar, memicu gelombang inovasi yang menekan harga perangkat. Efek turunannya bisa sampai ke sektor komersial, termasuk armada logistik Indonesia, tetapi dengan jeda waktu dan bergantung pada kesiapan regulasi domestik.
  • Dimensi geopolitik: teknologi yang lebih sulit dijamming memperkuat posisi operasional negara yang memilikinya, sekaligus mendorong negara lain mempercepat program serupa — termasuk melalui pengadaan alutsista dan kerja sama pertahanan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rincian teknis dan skala penerapan kontrak Tern dalam 2-4 minggu ke depan — apakah AS mengumumkan uji lapangan atau perluasan unit, karena itu menjadi penanda apakah ini proyek percontohan atau pengadaan permanen.
  • Risiko yang perlu dicermati: meningkatnya aktivitas jamming GPS di jalur pelayaran dan penerbangan regional — jika gangguan meluas ke rute logistik Indonesia, operator pelayaran dan aviasi akan menghadapi kenaikan biaya operasional serta risiko keselamatan.
  • Sinyal penting: reaksi pengembang teknologi navigasi inersia dan pesaing non-GPS terhadap kontrak ini, serta apakah militer negara lain mengikuti langkah AS — ini menjadi marker apakah diversifikasi navigasi berubah dari proyek niche menjadi arus utama anggaran pertahanan.

Konteks Indonesia

Dampak langsung ke Indonesia tidak bersifat segera, tetapi relevansinya jelas. Sebagai negara kepulauan, Indonesia bergantung pada navigasi satelit untuk pelayaran antarpulau, penerbangan, dan distribusi logistik. Kerapuhan sinyal GPS — seperti yang memicu kontrak ini — menyentuh keselamatan pelayaran di jalur padat dan efisiensi operasional armada. Namun adopsi teknologi navigasi alternatif di dalam negeri masih terbatas oleh regulasi kendaraan dan perangkat, kesiapan industri pertahanan lokal, serta biaya perangkat. Perkembangan ini lebih relevan sebagai sinyal arah industri global yang perlu diantisipasi, bukan sebagai peristiwa yang mengubah lanskap bisnis Indonesia dalam waktu dekat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.