23 JUN 2026
China Balas AS: Larang Pembelian dari 46 Perusahaan & Tekan Ekspor ke 10 Entitas

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / China Balas AS: Larang Pembelian dari 46 Perusahaan & Tekan Ekspor ke 10 Entitas
Pasar

China Balas AS: Larang Pembelian dari 46 Perusahaan & Tekan Ekspor ke 10 Entitas

Tim Redaksi Feedberry ·22 Juni 2026 pukul 19.13 · Sinyal tinggi · Sumber: Asia Times ↗
6.7 Skor

Eskalasi perang dagang-teknologi AS-China berdampak langsung ke rantai pasok global dan sentimen pasar, termasuk Indonesia yang bergantung pada ekspor komoditas dan investasi dari kedua negara.

Urgensi
7
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

China membalas langkah Amerika Serikat yang memperluas daftar perusahaan militer China dengan dua sanksi balasan yang diumumkan pada hari Senin. Pertama, Kementerian Keuangan China melarang lembaga pemerintah membeli produk dari 46 kontraktor pertahanan AS, dipimpin oleh Lockheed Martin dan Raytheon Missiles & Defense. Larangan ini berlaku efektif segera, tetapi mengecualikan perusahaan yang didanai AS yang beroperasi di dalam China. Kedua, Kementerian Perdagangan China menambahkan 10 entitas AS ke dalam daftar kontrol ekspor berdasarkan Undang-Undang Kontrol Ekspor China, yang melarang eksportir China memasok barang-barang dual-use kepada mereka. Daftar ini mencakup penambang rare earth MP Materials Corp dan USA Rare Earth, serta pembuat drone dan elektronik pertahanan seperti Red Cat Holdings, Teal Drones, dan Ball Aerospace & Technologies Corp.

Tindakan ini merupakan respons langsung setelah Washington menambahkan puluhan perusahaan China, termasuk Alibaba, BYD, dan Baidu, ke dalam daftar perusahaan yang diduga terkait militer AS. Beberapa perusahaan China telah menolak pencantuman tersebut sebagai tindakan yang tidak berdasar. Seorang pejabat Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa langkah ini demi melindungi keamanan nasional dan memenuhi komitmen non-proliferasi. Li Yong, anggota dewan eksekutif China Society for WTO Studies, mengatakan kepada Global Times bahwa langkah China memiliki batasan yang jelas, hanya menargetkan barang terkait pasokan militer dan manufaktur militer, berbeda dengan AS yang memperluas cakupan secara sewenang-wenang. Eskalasi ini terjadi beberapa minggu setelah Presiden AS Donald Trump mengambil langkah-langkah perdagangan sebelumnya. Dampak dari sanksi ini tidak terbatas pada hubungan bilateral.

Larangan impor pemerintah China terhadap 46 perusahaan pertahanan AS akan memengaruhi pendapatan kontraktor besar seperti Lockheed Martin, meskipun dampak langsung mungkin terbatas karena sebagian besar penjualan mereka ke pemerintah AS dan sekutu. Namun, sanksi ekspor terhadap 10 perusahaan AS, terutama di sektor rare earth, berpotensi mengganggu rantai pasok global untuk mineral kritis yang digunakan dalam elektronik, pertahanan, dan energi hijau. MP Materials dan USA Rare Earth adalah pemain kunci dalam upaya AS untuk mengurangi ketergantungan pada China untuk rare earth. Dengan dilarangnya pasokan dari China, kedua perusahaan harus mencari sumber alternatif atau menghadapi keterlambatan produksi. Ini justru dapat mempercepat investasi di luar China, termasuk di Indonesia yang memiliki cadangan nikel dan potensi rare earth.

Bagi pasar keuangan, eskalasi ini menambah ketidakpastian. Investor akan mencermati respons AS selanjutnya — apakah akan ada sanksi balasan baru atau eskalasi lebih lanjut. Sektor teknologi global, terutama semikonduktor dan pertahanan, rentan terhadap gangguan. Untuk Indonesia sebagai negara yang bergantung pada perdagangan global dan investasi asing, ketegangan ini dapat mempengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, dan prospek ekspor komoditas. Rupiah yang sudah berada di level lemah (Rp17.825 per dolar AS berdasarkan data pasar) berpotensi mendapat tekanan tambahan jika ketidakpastian meningkat.

Mengapa Ini Penting

Sanksi China tidak hanya menekan perusahaan pertahanan dan rare earth AS, tetapi juga mengirim sinyal bahwa Beijing siap menggunakan leverage ekonominya — termasuk kontrol ekspor mineral kritis — sebagai senjata dalam persaingan geopolitik. Bagi Indonesia, ini berarti meningkatnya risiko fragmentasi rantai pasok global, yang dapat mendorong relokasi investasi rare earth dan mineral lainnya ke negara-negara seperti Indonesia, tetapi juga meningkatkan tekanan harga dan biaya produksi di sektor terkait. Jika AS membalas dengan sanksi baru terhadap teknologi China, rantai pasok semikonduktor dan elektronik global akan semakin terganggu, berdampak pada industri manufaktur Indonesia yang mengimpor komponen.

Dampak ke Bisnis

  • Eskalasi sanksi AS-China dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan global, termasuk IHSG. Sektor komoditas Indonesia — terutama nikel dan batu bara — berpotensi terkena dampak melalui perubahan permintaan ekspor ke China atau sentimen risiko global yang mendorong investor keluar dari pasar negara berkembang.
  • Perusahaan pertahanan dan teknologi global yang terkena sanksi langsung dari China dapat melihat penurunan prospek bisnis. Bagi Indonesia, kerja sama pertahanan dengan AS dan China perlu dicermati, namun dampak langsung terhadap kontraktor lokal tampaknya terbatas karena skala industri pertahanan Indonesia yang masih kecil.
  • Sektor rare earth menjadi sorotan. Dengan China membatasi ekspor ke perusahaan AS, Indonesia yang memiliki cadangan nikel dan potensi rare earth dapat menjadi tujuan alternatif investasi. Namun, diperlukan waktu dan investasi infrastruktur yang signifikan untuk merealisasikan peluang ini. Dalam jangka pendek, harga rare earth global berpotensi naik, mempengaruhi biaya produksi elektronik dan kendaraan listrik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons resmi Gedung Putih — apakah AS akan memberlakukan sanksi balasan baru terhadap China, dan sektor apa yang menjadi target. Jika AS menargetkan ekspor semikonduktor China lebih lanjut, rantai pasok global akan terganggu.
  • Risiko yang perlu dicermati: pelemahan rupiah lebih lanjut — jika eskalasi meningkat, investor asing dapat keluar dari pasar obligasi dan saham Indonesia, menekan rupiah yang sudah berada di level Rp17.825. BI mungkin perlu intervensi lebih agresif.
  • Sinyal penting: pergerakan harga rare earth dan logam tanah jarang di pasar global — jika harga melonjak, itu akan mengonfirmasi gangguan pasokan signifikan. Peningkatan investasi pertambangan di Indonesia juga perlu dipantau sebagai indikator realokasi rantai pasok.

Konteks Indonesia

Ketegangan AS-China yang memuncak dapat mempengaruhi Indonesia melalui tiga jalur: pertama, arus perdagangan — jika permintaan China terhadap komoditas Indonesia melemah akibat sanksi atau perlambatan ekonomi, ekspor Indonesia tertekan; kedua, arus modal — ketidakpastian global dapat memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia; ketiga, peluang investasi — sanksi pada rare earth mendorong AS dan sekutunya mencari sumber alternatif, dan Indonesia dengan sumber daya mineralnya berpotensi menarik investasi pertambangan dan pemrosesan. Namun, peluang ini baru akan terlihat dalam jangka menengah dan membutuhkan kebijakan yang kondusif.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.