18 SEP 2026
CFTC Buka Jalan Wallet Kripto Tawarkan Derivatif

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / CFTC Buka Jalan Wallet Kripto Tawarkan Derivatif
Forex & Crypto

CFTC Buka Jalan Wallet Kripto Tawarkan Derivatif

Tim Redaksi Feedberry ·17 September 2026 pukul 19.30 · Sinyal tinggi · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

Relaksasi CFTC mengubah peta distribusi derivatif kripto secara global dan menandai strategi regulator AS menggerakkan aturan lewat otoritas yang ada setelah CLARITY Act gagal di Senat — dampaknya ke Indonesia bersifat tidak langsung namun struktural bagi industri aset digital.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
No-action position untuk penyedia passive software yang menghubungkan pengguna dengan firma derivatif dan bursa teregistrasi CFTC
Penerbit
Commodity Futures Trading Commission (CFTC), Divisi Market Participants — Amerika Serikat
Berlaku Sejak
Berlaku sejak penerbitan pada Kamis pekan ini; tanggal spesifik tidak disebutkan sumber
Perubahan Kunci
  • ·CFTC tidak akan merekomendasikan penindakan terhadap penyedia passive software yang memenuhi syarat maupun personelnya karena gagal mendaftar sebagai introducing broker atau associated person saat memfasilitasi perdagangan dengan firma dan bursa teregistrasi CFTC.
  • ·Penyedia wajib memenuhi syarat yang membatasi peran mereka dalam transaksi, termasuk larangan menjalankan diskresi atas order pengguna.
  • ·Dompet kripto dan aplikasi lain dapat menawarkan akses ke derivatif teregulasi, termasuk perpetual contract dan prediction market, tanpa menjadi introducing broker teregulasi CFTC.
  • ·Pada hari yang sama, SEC menyetujui pengecualian sementara bagi platform memenuhi syarat untuk memfasilitasi perdagangan onchain terbatas atas saham AS yang ditokenisasi melalui automated market maker dan liquidity pool berizin.
Pihak Terdampak
Penyedia dompet kripto non-kustodial dan pengembang perangkat lunak passive softwareIntroducing broker dan associated person yang teregistrasi di CFTCFirma derivatif teregistrasi dan bursa yang menjadi mitra distribusiPlatform yang memfasilitasi perdagangan saham AS ditokenisasi

Ringkasan Eksekutif

CFTC memperluas relaksasi regulasi bagi penyedia "passive software" — langkah yang membuka jalan bagi dompet kripto dan aplikasi lain menawarkan akses ke derivatif teregulasi serta prediction market tanpa wajib terdaftar sebagai introducing broker. Divisi Market Participants CFTC menerbitkan no-action position pada Kamis, menyatakan tidak akan merekomendasikan penindakan terhadap penyedia yang memenuhi syarat maupun personelnya karena tidak mendaftar sebagai introducing broker atau associated person saat memfasilitasi perdagangan dengan firma dan bursa yang teregistrasi di CFTC. Syaratnya jelas membatasi ruang gerak penyedia: peran mereka dalam transaksi harus terbatas dan dilarang menjalankan diskresi atas order pengguna.

Posisi ini memperluas surat serupa yang diberikan kepada Phantom Technologies pada Maret untuk perangkat lunak dompet kripto self-custodial, yang memungkinkan Phantom menyediakan dan memasarkan perangkat lunak penghubung ke broker futures dan bursa teregistrasi tanpa registrasi sebagai introducing broker. Phantom bersama Hyperliquid Policy Center sebelumnya mendorong perlindungan lebih luas pada Juli, meminta CFTC melindungi penyedia dompet non-kustodial dari kewajiban introducing broker dan memperjelas penerapan aturan lama pada pengembang blockchain. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah momentum politik di baliknya. Langkah CFTC terbit dua hari setelah CLARITY Act gagal maju di Senat — mosi cloture hanya memperoleh 49 suara dari 60 yang dibutuhkan untuk membuka debat.

Setelah pemungutan suara, Ketua CFTC Michael Selig dan Ketua SEC Paul Atkins menegaskan agensi mereka akan terus melangkah di bawah kewenangan yang ada. Selig menyatakan CFTC siap merilis aturan untuk lanskap keuangan baru, sementara Atkins menegaskan SEC akan bertindak dengan atau tanpa legislasi. Pada hari yang sama, SEC menyetujui pengecualian sementara yang memungkinkan platform memenuhi syarat memfasilitasi perdagangan onchain terbatas atas saham AS yang ditokenisasi melalui automated market maker dan liquidity pool yang berizin. Dampaknya terbagi tajam. Penyedia dompet dan aplikasi konsumen berpotensi naik kelas dari sekadar alat penyimpanan menjadi kanal distribusi produk derivatif — peran yang selama ini dipegang introducing broker dan perantara kustodial.

Sebaliknya, perantara yang bisnisnya bergantung pada fungsi registrasi dan kepatuhan menghadapi erosi nilai tambah, karena sebagian fungsi mereka kini bisa dijalankan langsung oleh perangkat lunak tanpa izin. Bagi Indonesia, jalur transmisinya bersifat tidak langsung namun nyata. Pasar kripto ritel domestik aktif dan pengawasannya berada di ranah Bappebti serta OJK, sehingga preseden CFTC dan SEC menjadi rujukan yang mungkin memengaruhi arah kebijakan aset digital dalam negeri. Dompet dan aplikasi lokal yang selama ini menghadapi keterbatasan produk dapat menemukan model serupa, namun juga berhadapan dengan pemain global yang distribusinya melebar tanpa hambatan registrasi.

Latar makro menambah lapisan risiko: imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di 5% dan indeks dolar broad berada di level tinggi, kondisi yang secara historis menekan selera risiko di pasar berkembang dan menahan arus modal ke aset berisiko, sementara rupiah berada di kisaran 17.748 per dolar AS.

Mengapa Ini Penting

Ini bukan sekadar keringanan administratif, melainkan pergeseran cara regulator AS mengatur aset digital: ketika jalur legislasi mentok, kewenangan agensi dijadikan instrumen utama. Bagi pasar, efeknya adalah redistribusi peran — penyedia perangkat lunak menang atas perantara terdaftar, dan negara yang bergantung pada pagar lisensi formal berpotensi kehilangan sebagian daya kendali atas aliran produk derivatif ke investor ritelnya.

Dampak ke Bisnis

  • Penyedia dompet kripto, baik global maupun lokal, memperoleh payung hukum untuk naik dari alat penyimpanan menjadi kanal distribusi derivatif — memperluas sumber pendapatan berbasis volume perdagangan, bukan sekadar penyimpanan aset. Introducing broker dan perantara terdaftar menghadapi erosi fungsi, karena sebagian pekerjaan mereka kini dapat dijalankan perangkat lunak tanpa izin.
  • Bursa dan firma derivatif teregistrasi di AS justru mendapatkan kanal distribusi baru tanpa harus membangun kemitraan perantara formal. Sektor yang tidak disebut artikel namun terkena imbas adalah penyedia infrastruktur kepatuhan dan KYC, yang model bisnisnya bertumpu pada kebutuhan registrasi pihak ketiga.
  • Untuk Indonesia, implikasi baru terasa dalam 3–6 bulan ke depan. Pengembang dompet dan fintech lokal dapat merujuk preseden ini ketika berdiskusi soal batas layanan dengan pengawas, namun masuknya pemain global dengan produk derivatif dan pasar prediksi berpotensi memperketat persaingan di segmen ritel. Risiko lain yang jarang dibahas: investor ritel domestik dapat mengakses produk berleverage lintas yurisdiksi sebelum kerangka perlindungan konsumen setempat siap.
  • Harga saham AS yang ditokenisasi melalui automated market maker berizin membuka pintu bagi produk yang mempertemukan pasar ekuitas dan aset digital — segmen yang belum memiliki padanan jelas dalam kerangka pengawasan aset digital Indonesia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: apakah CFTC melanjutkan no-action position ini menjadi aturan formal — jika proses rulemaking dibuka, cakupan produk yang boleh didistribusikan lewat dompet bisa berubah dan menentukan arah kepatuhan pemain global.
  • Risiko yang perlu dicermati: batas "diskresi atas order pengguna" masih berupa prinsip, belum parameter teknis. Jika penafsirannya melebar, pengawas di yurisdiksi lain termasuk Indonesia berpotensi memperketat syarat bagi aplikasi asing yang menawarkan derivatif ke investor ritel.
  • Sinyal penting: respons pengawas aset digital Indonesia terhadap preseden ini, serta apakah dompet non-kustodial besar menyusul mengajukan permintaan serupa. Keduanya menjadi penanda seberapa cepat model distribusi tanpa lisensi menyebar ke pasar domestik.
  • Risiko yang perlu dicermati: latar makro eksternal — imbal hasil US Treasury 10 tahun di 5% dan indeks dolar broad yang tinggi menekan selera risiko pasar berkembang. Selera risiko yang memburuk dapat memukul volume perdagangan aset digital dan menurunkan daya tarik model bisnis berbasis volume ini.

Konteks Indonesia

Indonesia bukan yurisdiksi yang diatur CFTC, sehingga dampaknya bersifat tidak langsung. Jalur transmisinya: preseden regulator AS kerap menjadi rujukan pembentukan kerangka aset digital di negara lain, termasuk di Indonesia yang pengawasan aset kriptonya berada di ranah Bappebti dan OJK. Penyedia dompet dan aplikasi lokal berpotensi meniru model distribusi derivatif tanpa registrasi perantara, namun juga menghadapi persaingan lebih ketat dari pemain global yang cakupan layanannya melebar. Konteks makro memperbesar sensitivitas: rupiah berada di kisaran 17.748 per dolar AS dan imbal hasil US Treasury 10 tahun di 5% — kombinasi yang secara historis menekan selera risiko investor pasar berkembang dan membuat arus modal ke aset berisiko lebih selektif.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.