26 MEI 2026
CEO Next Peringatkan Krisis Lowongan Entry-Level di Inggris — Pelamar per Lowongan Naik Hampir Dua Kali Lipat

Foto: BBC Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / CEO Next Peringatkan Krisis Lowongan Entry-Level di Inggris — Pelamar per Lowongan Naik Hampir Dua Kali Lipat
Makro

CEO Next Peringatkan Krisis Lowongan Entry-Level di Inggris — Pelamar per Lowongan Naik Hampir Dua Kali Lipat

Tim Redaksi Feedberry ·25 Mei 2026 pukul 23.51 · Sinyal tinggi · Sumber: BBC Business ↗
4 Skor

Berita ini menandakan tekanan struktural di pasar tenaga kerja Inggris yang bisa memperlambat ekonomi dan berdampak ke sentimen global, namun dampak langsung ke Indonesia terbatas.

Urgensi
4
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
3

Ringkasan Eksekutif

CEO Next, Lord Wolfson, memperingatkan bahwa jumlah lowongan pekerjaan entry-level di Inggris mengalami penurunan dramatis. Dalam dua tahun terakhir, rata-rata pelamar per lowongan di toko Next naik dari 10 menjadi 19 orang — hampir dua kali lipat. Menurutnya, doubling ini menunjukkan krisis pengangguran pemuda yang serius. Data terbaru mencatat tingkat pengangguran usia 16-24 tahun di Inggris mencapai 16,2%, tertinggi sejak 2014, dan tiga kali lipat dari tingkat pengangguran nasional yang sebesar 5%. Faktor utama yang disebut adalah kebijakan pemerintah seperti larangan kontrak zero-hours yang mulai berlaku tahun depan, kenaikan iuran National Insurance untuk pemberi kerja, dan kenaikan upah minimum. Lord Wolfson menegaskan bahwa solusi utama bukanlah memotong upah, melainkan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah Inggris membela kebijakannya dengan menyebutkan bahwa kenaikan upah minimum telah meningkatkan pendapatan lebih dari 200.000 pekerja muda, dan paket dukungan ketenagakerjaan pemuda senilai £2,5 miliar akan menciptakan satu juta kesempatan kerja di seluruh negeri. Namun, bisnis ritel dan perhotelan — yang biasanya menjadi pintu masuk pertama bagi pekerja muda — mulai mengurangi jumlah staf. Next, misalnya, kini memiliki lebih sedikit staf di setiap toko, meskipun bisnis onlinenya berkembang. Hal ini mengonfirmasi bahwa kebijakan yang menaikkan biaya tenaga kerja justru mendorong perusahaan untuk beralih ke otomatisasi dan pengurangan jam kerja. Dampak dari situasi ini tidak terbatas pada Inggris. Sebagai salah satu ekonomi terbesar di Eropa, perlambatan di Inggris dapat menekan permintaan ekspor global, termasuk dari Indonesia.

Komoditas dan produk manufaktur Indonesia seperti tekstil, alas kaki, dan minyak sawit mentah (CPO) dapat terpengaruh jika konsumen Inggris mengurangi belanja. Selain itu, sentimen risk-off yang dipicu oleh kekhawatiran pengangguran pemuda yang tinggi dapat memperkuat dolar AS dan menekan mata uang emerging market seperti rupiah. Data dari FRED menunjukkan pengangguran AS juga berada di 4,3%, dan yield US 10 tahun di 4,57% — menciptakan tekanan tambahan bagi pasar Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena menunjukkan trade-off antara perlindungan pekerja dan penciptaan lapangan kerja entry-level — dilema yang juga dihadapi Indonesia dalam implementasi UU Cipta Kerja. Jika kebijakan pro-pekerja tanpa pertumbuhan, justru bisa memicu otomatisasi dan pengangguran pemuda. Ini menjadi pelajaran bagi pengambil kebijakan dan investor yang memantau perkembangan ketenagakerjaan di negara tujuan ekspor.

Dampak ke Bisnis

  • Perlambatan ekonomi Inggris dapat mengurangi permintaan ekspor Indonesia, terutama produk tekstil, alas kaki, dan furnitur yang memiliki pangsa pasar di Inggris. UMKM yang bergantung pada pesanan dari ritel Inggris seperti Next perlu waspada terhadap penurunan volume pesanan.
  • Kebijakan larangan kontrak zero-hours dan kenaikan biaya tenaga kerja mendorong perusahaan ritel global untuk mempercepat otomatisasi dan efisiensi digital. Hal ini bisa menjadi sinyal bagi perusahaan Indonesia yang berencana ekspansi ke Inggris untuk meninjau ulang model bisnis dan struktur biaya tenaga kerja.
  • Sentimen risk-off global akibat kekhawatiran pengangguran pemuda di negara maju dapat memperkuat dolar AS dan menekan rupiah. Perusahaan Indonesia dengan utang valas atau ketergantungan impor bahan baku akan menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rilis data tingkat pengangguran pemuda Inggris untuk periode Mei-Juni 2026 — jika tren naik berlanjut di atas 16,2%, ekspektasi perlambatan ekonomi Inggris akan semakin kuat.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika Bank of England menahan suku bunga lebih lama karena tekanan inflasi dari kenaikan biaya tenaga kerja, maka GBP bisa tetap kuat relatif terhadap USD, namun permintaan domestik tertekan — berdampak ke impor dari emerging markets.
  • Sinyal penting: perkembangan negosiasi kontrak zero-hours di Inggris dan dampaknya terhadap biaya operasional perusahaan multinasional yang juga beroperasi di Indonesia — bisa menjadi preseden bagi kebijakan ketenagakerjaan domestik.

Konteks Indonesia

Meskipun berita ini spesifik Inggris, ada dua jalur dampak ke Indonesia. Pertama, jalur perdagangan: Inggris adalah mitra dagang non-tradisional yang cukup signifikan — ekspor Indonesia ke Inggris mencapai sekitar $2 miliar per tahun, didominasi tekstil, alas kaki, dan minyak sawit. Jika pengangguran pemuda tinggi mendorong penurunan konsumsi ritel, permintaan produk Indonesia bisa berkurang. Kedua, jalur sentimen global: kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja di negara maju dapat memperkuat arus modal ke aset safe haven (dolar, obligasi AS), menekan nilai tukar rupiah dan IHSG. Data FRED menunjukkan VIX di 16,76 masih dalam zona normal-cautious, namun jika sentimen memburuk, Indonesia sebagai emerging market dengan defisit APBN Rp240 triliun menjadi lebih rentan terhadap outflow asing.

Konteks Indonesia

Meskipun berita ini spesifik Inggris, ada dua jalur dampak ke Indonesia. Pertama, jalur perdagangan: Inggris adalah mitra dagang non-tradisional yang cukup signifikan — ekspor Indonesia ke Inggris mencapai sekitar $2 miliar per tahun, didominasi tekstil, alas kaki, dan minyak sawit. Jika pengangguran pemuda tinggi mendorong penurunan konsumsi ritel, permintaan produk Indonesia bisa berkurang. Kedua, jalur sentimen global: kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja di negara maju dapat memperkuat arus modal ke aset safe haven (dolar, obligasi AS), menekan nilai tukar rupiah dan IHSG. Data FRED menunjukkan VIX di 16,76 masih dalam zona normal-cautious, namun jika sentimen memburuk, Indonesia sebagai emerging market dengan defisit APBN Rp240 triliun menjadi lebih rentan terhadap outflow asing.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.