Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Klaim cadangan emas yang lebih besar dari Freeport dan potensi keekonomian tambang Onto berimplikasi pada penerimaan negara, hilirisasi, dan industri pertambangan nasional — bukan hanya isu eksplorasi.
- Komoditas
- Emas
- Harga Terkini
- Tidak disebutkan dalam artikel
- Faktor Supply
-
- ·Potensi tambang emas di NTB oleh Sumbawa Timur Mining, dengan sumber daya mineral tertunjuk 1,1 miliar ton mengandung 0,56 gram emas per ton dan sumber daya tereka 0,96 miliar ton mengandung 0,44 gram per ton
- Faktor Demand
-
- ·Tak disebutkan dalam artikel
Ringkasan Eksekutif
Indonesian Mining Institute (IMI) mengungkapkan bahwa cadangan emas Indonesia masih sangat besar, bahkan satu perusahaan tambang yang masih tahap eksplorasi disebut berpotensi memiliki cadangan emas lebih besar dari PT Freeport Indonesia (PTFI) di Papua Tengah. Perusahaan tersebut adalah Sumbawa Timur Mining (STM), pengelola Proyek Hu'u di Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Chairman IMI Irwandy Arif menyampaikan hal ini dalam acara Mindialogue 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026), dengan menyebut jalur mineralisasi di NTB sebenarnya sudah lama teridentifikasi, namun baru kini menunjukkan potensi besar. STM tercatat sebagai pemegang Kontrak Karya (KK) generasi ke-7 yang ditandatangani pada 19 Februari 1998. Artinya, perusahaan telah 28 tahun melakukan eksplorasi.
Saham STM mayoritas dimiliki Vale S.A. (80%) melalui Eastern Star Resources Pty Ltd, dan sisanya 20% oleh PT Aneka Tambang Tbk. Data perusahaan terakhir yang dipublikasikan pada 2022 menunjukkan sumber daya mineral tertunjuk deposit Onto mencapai 1,1 miliar ton dengan kadar 0,93% tembaga dan 0,56 gram emas per ton. Sumber daya tereka tercatat 0,96 miliar ton dengan kadar 0,87% tembaga dan 0,44 gram emas per ton. Secara total, potensi emas di deposit ini sangat signifikan — meski perlu dicatat bahwa statusnya masih sumber daya, bukan cadangan terkira yang sudah teruji keekonomiannya. Klaim IMI bahwa cadangan STM bisa melebihi Freeport tentu perlu diverifikasi lebih lanjut.
Freeport selama ini menjadi raksasa tambang emas dan tembaga dunia dengan Grasberg yang telah berproduksi puluhan tahun. Perbandingan langsung antara sumber daya yang masih eksplorasi dengan cadangan yang sudah proven milik Freeport secara metodologi berbeda, namun arahnya sama: Indonesia memiliki potensi mineralisasi emas yang jauh lebih luas dari yang selama ini dikenal. Proyek Hu'u sendiri sejak eksplorasi dimulai 2010 hingga 2021 telah menghabiskan biaya US$200 juta — investasi yang menunjukkan keseriusan pemilik dalam mengembangkan tambang ini. Sebagai konteks, berita ini muncul di tengah dinamika industri pertambangan yang sedang berubah: Freeport sedang memulihkan produksi Grasberg setelah insiden tanah basah, menunda produksi tambang bawah tanah Kucing Liar ke 2029, dan mengajukan perpanjangan IUPK sebelum 2041.
Jika STM benar-benar berhasil mengembangkan Proyek Hu'u menjadi tambang beroperasi, ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen emas global dan menambah sumber penerimaan negara di tengah defisit APBN yang telah mencapai Rp240,1 triliun hingga Maret 2026.
Mengapa Ini Penting
Artikel ini bukan sekadar soal temuan tambang baru — ini tentang pergeseran peta persaingan industri pertambangan Indonesia. Jika Sumbawa Timur Mining berhasil memproduksi emas, akan ada pemain besar baru yang menyaingi Freeport, sekaligus membuka peluang hilirisasi di NTB. Bagi pemerintah yang sedang mengejar penerimaan di tengah defisit anggaran, keberadaan proyek ini bisa menjadi tambahan pemasukan jangka panjang yang signifikan. Namun risikonya juga nyata: KK generasi ke-7 yang sudah berumur hampir tiga dekade menimbulkan pertanyaan tentang kepastian hukum dan negosiasi ulang kontrak di masa depan.
Dampak ke Bisnis
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebagai pemegang 20% saham STM berpotensi mendapatkan keuntungan jangka panjang jika Proyek Hu'u beroperasi — diversifikasi dari bisnis nikel dan emas yang sudah ada.
- Pemerintah daerah NTB dan pusat akan menerima tambahan pendapatan pajak, royalti, dan dividen jika tambang berproduksi, membantu mengurangi tekanan defisit APBN yang sudah mencapai Rp240,1 triliun.
- Kontraktor tambang, jasa konstruksi, dan pemasok peralatan di Indonesia berpeluang mendapat kontrak besar jika STM melanjutkan ke tahap konstruksi — sektor jasa penunjang pertambangan ikut terangkat.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: publikasi hasil studi kelayakan (feasibility study) terbaru Proyek Hu'u dan konversi sumber daya menjadi cadangan — sinyal kunci apakah klaim 'melebihi Freeport' benar-benar terwujud.
- Risiko yang perlu dicermati: nasib perpanjangan Kontrak Karya STM yang berpotensi menjadi negosiasi ala IUPK Freeport — perubahan ketentuan royalti atau kepemilikan dapat mengubah keekonomian proyek.
- Sinyal penting: respons resmi dari Freeport Indonesia dan pemerintah mengenai klaim cadangan ini, serta perkembangan harga emas global yang akan menentukan kecepatan pengembangan proyek.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.