6 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Pasar / Bunga Deposito Bank Digital 8% — Sinyal Biaya Dana Meningkat
Pasar

Bunga Deposito Bank Digital 8% — Sinyal Biaya Dana Meningkat

Tim Redaksi Feedberry ·6 November 2026 pukul 10.55 WIB · Sinyal menengah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
5.3 Skor

Bukan berita kejutan, tetapi struktur bunga deposito bank digital mengungkap biaya dana yang harus dibayar sektor perbankan saat rupiah berada di 18.125 dan pasar sedang risk-off.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
6
Analisis Data Pasar
Instrumen
Bunga deposito reguler bank digital (plafon)
Harga Terkini
8% per tahun (Krom Max, tenor 12 bulan)
Katalis
  • ·Kompetisi penghimpunan dana antar bank digital
  • ·Kebutuhan pendanaan tanpa basis giro-tabungan murah
  • ·Penyesuaian tarif bertahap sepanjang September 2026

Ringkasan Eksekutif

Bank digital masih menawarkan bunga deposito tinggi, dengan plafon bunga reguler mencapai 8% per tahun. Berdasarkan penelusuran per 6 November 2026, Krom Bank menempati posisi teratas melalui produk Krom Max pada tenor 12 bulan. Superbank dan Allo Bank menyusul di 7,50%, Bank Jago di 6,25%, SeaBank di 6%, dan blu di 5,50%. Seluruh angka adalah bunga sebelum pajak dan belum memasukkan tambahan dari program promosi, sehingga 8% harus dibaca sebagai batas atas yang terlihat, bukan batas atas riil.

Di sisi lain, Bank Raya hadir dalam daftar sebagai pembanding melalui produk Saku Jaga Optimal. Yang tidak terlihat dari headline adalah arah bertingkat bunga berdasarkan besar penempatan. Superbank memberikan 7,50% untuk penempatan hingga Rp1 miliar, tetapi hanya 6,50% untuk dana di atas ambang itu — insentif yang jelas menyasar dana ritel kecil. Allo Bank bergerak sebaliknya: penempatan Rp1 juta hingga Rp100 juta hanya memperoleh 5,50% sampai 6%, sementara dana di atas Rp500 juta mendapat 7,50%. Bank Jago dan blu menempatkan bunga tertinggi pada kelompok di atas Rp1 miliar. Dua pola ini menandakan dua strategi pendanaan yang berbeda: satu bank mengumpulkan dana granular dari banyak nasabah, tiga lainnya memburu dana besar dengan tiket besar. Tanggal efektif juga membentuk pola tersendiri.

Krom Bank memberlakukan ketentuan itu sejak 1 Mei 2026, Allo Bank sejak 17 September 2026, dan blu menaikkan bunga ke 5,50% mulai 22 September 2026 — September tampak menjadi bulan penyesuaian tarif, bukan sekadar daftar statis yang dicetak ulang. Bagi deposan, jarak antara 8% di satu ujung dan 5,50% di ujung lain setara 2,5 poin persentase untuk risiko rupiah yang secara umum sama. Namun setelah pajak final atas bunga deposito, selisih bersihnya menyusut, dan itu belum memperhitungkan konsekuensi likuiditas bila dana terkunci pada tenor 12 bulan. Bagi bank, struktur ini membuka sisi lain yang jarang dibahas: bank digital tanpa basis dana murah giro dan tabungan harus membayar premi untuk menarik dana.

Biaya dana yang tinggi tidak berhenti di laporan laba rugi bank, melainkan menular ke sisi aset — bunga kredit konsumsi, paylater, dan pembiayaan lain harus disesuaikan agar margin tetap terjaga. Konteks eksternal tidak membantu. Dengan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di 4,95%, indeks dolar broad tertimbang-dagang di 121,67, dan VIX di 20,83, tawaran rupiah 8% tidak otomatis menarik bagi pemilik dana valas. Kurs USD/IDR di 18.125 juga membuat biaya konversi kembali ke rupiah menjadi pertimbangan tersendiri bagi investor asing. Ada empat hal

Mengapa Ini Penting

Bunga deposito adalah cermin biaya dana, dan biaya dana adalah harga dasar seluruh kredit. Ketika bank digital harus membayar 8% untuk rupiah, bunga kredit konsumsi dan pembiayaan digital tidak mungkin turun — lapisan ekonomi yang paling bergantung pada kredit kecil akan menanggungnya. Yang tidak disebut daftar ini justru pihak yang paling diuntungkan: bank besar dengan basis giro-tabungan murah dapat mempertahankan bunga rendah sambil menikmati pergeseran dana nasabah yang tidak mau pindah ke bank digital karena faktor kepercayaan.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi pelaku usaha yang memakai pinjaman digital atau paylater, struktur bunga deposito ini adalah sinyal awal bahwa bunga pinjaman sulit turun. Bank yang membayar 8% untuk dana tidak akan meminjamkan di bawah biaya dana ditambah premi risiko.
  • Bank besar konvensional dengan dana murah dari giro dan tabungan tidak perlu mengikuti tarif ini, sehingga selisih biaya dana melebar. Efeknya bukan penurunan pangsa pasar, melainkan keleluasaan lebih besar untuk memilih nasabah kredit berkualitas.
  • Pada tenor 12 bulan, dana deposan terkunci dan tidak tersedia untuk kebutuhan mendadak. Bagi pemilik usaha kecil yang menempatkan modal kerja di deposito berjangka tinggi, biaya peluang muncul ketika arus kas terganggu — likuiditas jangka pendek lenyap demi selisih bunga.
  • Risiko yang baru terasa dalam beberapa bulan: bila bank digital menaikkan tarif lagi untuk mempertahankan dana, margin bunga bersih tertekan dan ruang untuk menyerap kredit bermasalah menyempit. Ini masalah yang biasanya baru muncul setelah satu-dua siklus pencadangan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: apakah Krom Bank mempertahankan bunga 8% untuk tenor 12 bulan — penurunan tarif akan menjadi penanda pertama bahwa perang bunga mereda dan tekanan biaya dana mulai longgar.
  • Risiko yang perlu dicermati: perubahan ambang penempatan di Superbank, Bank Jago, atau blu — bila batas Rp1 miliar diturunkan, itu indikasi bank tersebut masih membutuhkan dana besar dan bersedia membayar lebih mahal.
  • Sinyal penting: arah IHSG dari level 4.935 dan kurs USD/IDR di 18.125 — bila tekanan pasar berlanjut, bank digital menghadapi pilihan menaikkan bunga lagi atau memperlambat penyaluran kredit.
  • Yang perlu diawasi: pernyataan otoritas pengawas mengenai kompetisi tarif deposito — setelah kasus bank digital ueno di Paraguay berujung pada krisis kepercayaan, disiplin rasio menjadi perhatian yang lebih sensitif.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.