7 JUN 2026
Bitcoin & Ether Terpuruk Separah Sejak FTX — Pasar Kripto Kehilangan $390 Miliar dalam Seminggu

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin & Ether Terpuruk Separah Sejak FTX — Pasar Kripto Kehilangan $390 Miliar dalam Seminggu
Forex & Crypto

Bitcoin & Ether Terpuruk Separah Sejak FTX — Pasar Kripto Kehilangan $390 Miliar dalam Seminggu

Tim Redaksi Feedberry ·6 Juni 2026 pukul 19.58 · Sumber: CoinDesk ↗
8 Skor

Likuidasi $7 miliar, outflow ETF rekor, dan kompetisi AI picu risk-off global — langsung berdampak ke sentimen pasar modal Indonesia dan stabilitas rupiah

Urgensi
8
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Pasar kripto global mengalami kejatuhan terburuk sejak keruntuhan FTX November 2022 dalam sepekan terakhir. Bitcoin dan Ethereum mencatat pelemahan mingguan paling dalam pasca-FTX, dengan kapitalisasi pasar kripto menyusut sekitar $390 miliar — setara penguapan hampir setengah dari puncak $4,2 triliun pada Oktober. Likuidasi posisi leveraged mencapai $7 miliar, dengan $5,7 miliar berasal dari posisi long (taruhan harga naik), menandakan tekanan jual paksa yang masif. Pelepasan terjadi dari berbagai sisi: pertama, Strategy (MSTR) — pemegang korporat bitcoin terbesar — menjual 32 BTC untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun. Meskipun nilainya kecil, aksi ini mengguncang keyakinan investor terhadap komitmen Michael Saylor sebagai pembeli permanen.

Kedua, arus keluar dari ETF Bitcoin spot AS masih berlanjut dengan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya — dana investasi terus ditarik di tengah ketidakpastian suku bunga. Ketiga, muncul kekhawatiran bahwa investor beralih ke investasi AI yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi, terbukti dari saham AI yang terus mencetak rekor dan IPO SpaceX yang dinantikan. Keempat, The Fed tahun ini menahan suku bunga di level 3,63% dengan ekspektasi pemotongan yang semakin memudar, menekan semua aset berisiko. Di Indonesia, tekanan ini terasa langsung. Rupiah melemah ke level psikologis Rp18.015 per dolar AS — posisi terlemah dalam satu tahun terakhir berdasarkan data yang tersedia — sementara IHSG bertahan di 5.595.

Investor ritel kripto Indonesia yang aktif di platform seperti Reku, Tokocrypto, dan Pintu menghadapi kerugian portofolio signifikan. Volume transaksi kripto di bursa lokal berpotensi turun drastis, sebagaimana pola historis setiap kali Bitcoin terkoreksi dalam. Perusahaan dengan utang dolar AS, khususnya di sektor properti dan infrastruktur, akan merasakan tekanan tambahan dari depresiasi rupiah karena beban pembayaran bunga dan pokok membengkak. Bank Indonesia memiliki ruang intervensi yang terbatas di tengah tekanan eksternal yang tinggi. Ke depan, sinyal kunci adalah kemampuan Bitcoin bertahan di atas $60.000. Jika level ini jebol secara harian, sentimen risk-off global dapat semakin dalam dan memicu outflow lebih besar dari pasar Indonesia.

Sebaliknya, akumulasi posisi short senilai $2,6 miliar di rentang $63.000–$66.000 menciptakan potensi short squeeze yang dapat memantik reli sementara. Data inflasi AS berikutnya dan respons The Fed akan menjadi katalis penentu arah ekspektasi suku bunga. Arus ETF Bitcoin spot juga menjadi indikator utama: jika outflow berlanjut, tekanan jual bisa berkepanjangan; sebaliknya, jika inflow kembali, skenario pemulihan bisa terpicu.

Mengapa Ini Penting

Kehancuran kripto ini bukan sekadar gejolak di pasar aset digital, melainkan indikator dini risk appetite global. Saat kripto terpuruk, investor institusi cenderung melakukan de-risking secara menyeluruh, termasuk menjual aset di pasar emerging seperti Indonesia. Hal ini dapat mempercepat arus keluar modal dari SBN dan IHSG, memperlemah rupiah lebih lanjut, serta menekan likuiditas di pasar keuangan domestik. Yang tidak terlihat adalah bahwa episode ini menandai pergeseran struktural: kompetisi dari AI dan IPO raksasa mulai mengalihkan perhatian investor dari kripto sebagai aset spekulatif, mengubah dinamika permintaan jangka panjang.

Dampak ke Bisnis

  • Investor ritel kripto Indonesia — yang sangat aktif di platform Reku, Tokocrypto, dan Pintu — menghadapi kerugian portofolio signifikan. Volume transaksi di bursa lokal berpotensi turun drastis, mengikuti pola historis setiap kali Bitcoin terkoreksi dalam. Exchange lokal akan merasakan tekanan pada pendapatan dari biaya transaksi.
  • Perusahaan publik dengan eksposur kripto atau yang memiliki utang dalam dolar AS, khususnya di sektor properti dan infrastruktur, akan merasakan tekanan ganda: penurunan valuasi saham akibat sentimen risk-off global, serta beban pembayaran bunga dan pokok yang membengkak karena rupiah melemah ke level psikologis.
  • Sentimen risk-off global berpotensi mendorong arus keluar modal asing dari SBN dan IHSG. Jika outflow terus berlanjut, imbal hasil SUN (yield) bisa naik, meningkatkan biaya pendanaan pemerintah dan korporasi. Sektor perbankan juga bisa tertekan karena kepemilikan SBN yang besar.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kemampuan Bitcoin bertahan di atas $60.000 — jika jebol secara harian, sentimen risk-off global bisa semakin dalam dan memicu outflow lebih besar dari pasar Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: data inflasi AS (CPI) berikutnya — jika lebih tinggi dari ekspektasi, ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed semakin mundur, memperkuat dolar AS dan menekan rupiah serta aset berisiko di emerging market.
  • Sinyal penting: arus ETF Bitcoin spot AS — jika outflow terus berlanjut, tekanan jual kripto bisa berkepanjangan; sebaliknya, jika inflow mulai kembali, skenario short squeeze di rentang $63.000–$66.000 bisa terpicu dan membaikkan sentimen sementara.

Konteks Indonesia

Kripto memiliki pangsa pasar ritel yang besar di Indonesia, sehingga tekanan di pasar global langsung dirasakan oleh investor lokal. Rupiah melemah ke Rp18.015 per dolar AS — posisi terlemah dalam satu tahun terakhir — sementara IHSG bertahan di 5.595. Depresiasi rupiah menambah beban impor dan utang dolar korporasi. Bank Indonesia menghadapi dilema antara menahan suku bunga untuk stabilitas rupiah atau melonggarkan untuk mendorong pertumbuhan di tengah tekanan eksternal yang tinggi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.