28 JUL 2026
Biaya Tambang Grafit Naik 79%, Pasokan Non-China Makin Mahal

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Biaya Tambang Grafit Naik 79%, Pasokan Non-China Makin Mahal
Pasar

Biaya Tambang Grafit Naik 79%, Pasokan Non-China Makin Mahal

Tim Redaksi Feedberry ·27 Juli 2026 pukul 15.21 · Sinyal menengah · Sumber: MINING.com ↗
5 Skor

Berita ini tidak langsung berdampak pada pasar Indonesia hari ini, tetapi relevan untuk rantai pasok baterai EV di mana Indonesia berinvestasi besar.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
5
Analisis Komoditas
Komoditas
Grafit
Harga Terkini
USD1.138 per ton (asumsi studi kelayakan)
Perubahan Harga
-4,4% dari asumsi sebelumnya USD1.191 per ton
Proyeksi Harga
Studi mengasumsikan harga jual USD1.138 per ton, namun biaya modal yang naik 79% menekan margin proyeksi. Jika harga grafit bertahan di
Faktor Supply
  • ·Kapasitas saat ini 17.000 ton/tahun, direncanakan ekspansi hingga 150.000 ton/tahun dalam stage 2
  • ·Cadangan terbukti dan terkira 82,5 juta ton dengan kadar 6,27% grafit karbon
  • ·Terdapat tiga modul pemrosesan 50.000 ton/tahun dalam ekspansi dua tahap
Faktor Demand
  • ·Permintaan grafit serpih untuk baterai kendaraan listrik terus meningkat
  • ·Perjanjian offtake dengan Mitsubishi Chemical Group untuk grafit murni dan spheronized
  • ·Produsen baterai global mencari pasokan di luar China untuk mengurangi risiko rantai pasok

Ringkasan Eksekutif

NextSource Materials merilis update studi kelayakan untuk tambang grafit Molo di Madagaskar. Studi menunjukkan NPV (diskonto 8%) turun 6% menjadi USD348,4 juta, sementara IRR turun dari 29% menjadi 20%. Biaya modal naik 79% menjadi USD290,8 juta, meskipun umur tambang diperpanjang dari 25 menjadi 37 tahun. Kapasitas produksi ekspansi stage 2 tetap 150.000 ton per tahun, naik dari kapasitas saat ini 17.000 ton per tahun. Harga asumsi konsentrat grafit turun dari USD1.191 menjadi USD1.138 per ton. Perusahaan juga memiliki perjanjian offtake dengan Mitsubishi Chemical Group untuk grafit murni dan spheronized yang akan dipasok dari fasilitas pabrik anoda di Uni Emirat Arab.

Molo adalah salah satu deposit grafit terbesar di dunia dengan cadangan terbukti dan terkira 82,5 juta ton pada kadar 6,27% karbon grafit. Ini adalah proyek yang sudah berproduksi sejak 2023, dan update ini menegaskan komitmen ekspansi di tengah tantangan biaya yang meningkat. Bagi ekosistem baterai global, berita ini mengindikasikan bahwa pasokan grafit dari luar China tetap mungkin tetapi dengan ongkos yang lebih tinggi. Permintaan grafit untuk baterai kendaraan listrik diperkirakan terus tumbuh, mendorong proyek-proyek baru. Namun, kenaikan biaya modal yang signifikan bisa menekan margin dan memerlukan harga jual yang lebih tinggi agar proyek layak secara ekonomi. Dampak terhadap Indonesia cukup relevan: Indonesia sedang membangun industri baterai terintegrasi dari hulu (nikel) hingga hilir (pabrik sel baterai).

Saat ini Indonesia belum memiliki tambang grafit skala besar dan masih mengimpor bahan anode. Jika pasokan grafit non-China seperti Molo harus dibeli dengan harga premium, hal itu dapat meningkatkan biaya produksi baterai di Indonesia.

Di sisi lain, proyek-proyek ini membuka peluang bagi investor atau perusahaan Indonesia untuk menjalin kemitraan di bidang pengolahan grafit.

Mengapa Ini Penting

Bagi Indonesia yang tengah membangun ekosistem baterai kendaraan listrik, berita ini mengingatkan bahwa pasokan grafit non-China masih menghadapi tantangan biaya yang signifikan. Ini berarti biaya bahan baku anode baterai di Indonesia bisa lebih tinggi jika mengandalkan impor dari proyek-proyek baru di luar China. Di sisi lain, ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan sumber daya grafit domestik atau menjalin kemitraan strategis guna mengamankan pasokan dengan harga lebih kompetitif.

Dampak ke Bisnis

  • Biaya impor grafit untuk bahan anode baterai di Indonesia berpotensi naik, karena proyek-proyek non-China seperti Molo memiliki biaya produksi lebih tinggi. Ini dapat menekan margin produsen baterai lokal jika mereka tidak memiliki akses ke grafit China yang lebih murah.
  • Peluang investasi di sektor grafit Indonesia semakin terbuka. Dengan proyek global yang mahal, pemerintah dan investor bisa mendorong eksplorasi dan pengembangan tambang grafit di Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor dan menekan biaya rantai pasok baterai.
  • Risiko geopolitik: jika ketegangan antara AS-China semakin membatasi akses ke grafit China, harga grafit non-China bisa naik lebih tinggi lagi. Indonesia yang belum memiliki cadangan grafit signifikan akan menjadi pihak yang dirugikan karena harus membayar mahal untuk bahan baku baterai.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: harga grafit spot global di indeks Fastmarkets atau Benchmark Mineral Intelligence — jika turun di bawah USD1.000 per ton, kelayakan proyek Molo terancam dan sinyal over supply.
  • Risiko yang perlu dicermati: perlambatan permintaan EV global akibat penurunan subsidi atau resesi dapat menekan rencana ekspansi tambang grafit dan membuat pasokan jangka panjang menjadi tidak pasti.
  • Sinyal penting: pengumuman perjanjian pasokan atau pendanaan dari pemerintah AS (misal melalui Defense Production Act) untuk proyek grafit non-China — akan memperkuat posisi tawar proyek-proyek ini dan memberi kepastian bagi pembeli seperti Indonesia.

Konteks Indonesia

Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia dan pengembang industri baterai kendaraan listrik terintegrasi, masih sangat bergantung pada impor grafit untuk bahan anode. Proyek-proyek tambang grafit di luar China seperti Molo di Madagaskar dan Graphite One di AS menunjukkan bahwa pasokan alternatif mulai terbentuk, namun dengan biaya modal dan operasi yang lebih tinggi. Hal ini dapat mempengaruhi struktur biaya produksi baterai di Indonesia jika tidak ada pengembangan tambang grafit domestik. Pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat eksplorasi sumber daya grafit dalam negeri serta menjalin kerja sama dengan negara-negara produsen grafit non-China guna mengamankan pasokan dengan harga yang lebih stabil.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.