3 JUL 2026
BEI Hapus 3 Kriteria Papan Pemantauan Khusus — Free Float & Likuiditas Tak Lagi Jadi Syarat

Foto: IDXChannel — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / BEI Hapus 3 Kriteria Papan Pemantauan Khusus — Free Float & Likuiditas Tak Lagi Jadi Syarat
Pasar

BEI Hapus 3 Kriteria Papan Pemantauan Khusus — Free Float & Likuiditas Tak Lagi Jadi Syarat

Tim Redaksi Feedberry ·3 Juli 2026 pukul 14.00 · Sinyal menengah · Sumber: IDXChannel ↗
7 Skor

Revisi ini mengubah peta risiko dan akses pencatatan bagi emiten kecil dan keluarga, serta berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kualitas pasar modal Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Revisi Mekanisme Papan Pemantauan Khusus BEI
Penerbit
Bursa Efek Indonesia (BEI)
Perubahan Kunci
  • ·Penghapusan kriteria 6 (syarat free float) dari daftar kriteria masuk papan pemantauan khusus
  • ·Penghapusan kriteria 7 (rendahnya likuiditas) dari daftar kriteria
  • ·Penghapusan kriteria 10 (suspensi efek lebih dari satu hari akibat aktivitas perdagangan)
  • ·Penerapan non-cancellation period dalam mekanisme perdagangan FCA, dengan tahapan Order Collection, Non-Cancellation Period, Random Closing, dan Order Matching
  • ·Non-Cancellation Period akan berlaku untuk kelima sesi perdagangan
Pihak Terdampak
Emiten dengan free float rendah dan likuiditas tipisInvestor ritel dan institusi yang bertransaksi di papan pemantauan khususPerusahaan sekuritas dan manajer investasi yang mengelola portofolio reksa danaTrader algoritmik dan high-frequency trader

Ringkasan Eksekutif

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengusulkan penghapusan tiga dari sebelas kriteria yang digunakan untuk menetapkan saham dalam papan pemantauan khusus yang diperdagangkan dengan metode full-call auction (FCA). Ketiga kriteria yang dihapus adalah kriteria 6 (syarat free float), kriteria 7 (rendahnya likuiditas), dan kriteria 10 (penghentian sementara alias suspensi efek lebih dari satu hari akibat aktivitas perdagangan). Sementara itu, tujuh kriteria lain seperti harga rata-rata di bawah Rp51 (kriteria 1) dan ekuitas negatif (kriteria 5) tetap dipertahankan. Khusus kriteria 11 akan disesuaikan, meski belum ada rincian lebih lanjut. Selain perubahan kriteria, BEI juga mengusulkan penerapan non-cancellation period dalam mekanisme perdagangan di papan pemantauan khusus. Tahapan perdagangan secara berurutan akan menjadi Order Collection, Non-Cancellation Period, Random Closing, dan Order Matching.

Non-Cancellation Period akan berlaku untuk seluruh lima sesi perdagangan.

Langkah ini merupakan bagian dari komitmen BEI untuk menyempurnakan mekanisme perdagangan yang lebih adil dan transparan, berdasarkan evaluasi dan pengembangan bertahap. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah perubahan ini dapat mengubah komposisi dan karakteristik saham-saham yang masuk papan pemantauan khusus. Penghapusan kriteria free float dan likuiditas membuka kemungkinan masuknya saham-saham dengan struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi dan volume transaksi yang sangat rendah ke dalam mekanisme FCA. Ini berpotensi menjadi pedang bermata dua: di satu sisi memperluas akses perdagangan, di sisi lain meningkatkan risiko bagi investor ritel yang mungkin tidak menyadari likuiditas yang sangat tipis. Sektor yang paling terdampak adalah emiten dengan kapitalisasi kecil dan menengah yang selama ini kesulitan memenuhi syarat free float.

Bagi emiten keluarga atau perusahaan dengan pemegang saham pengendali dominan, penghapusan kriteria ini memberikan kelonggaran untuk tetap tercatat di bursa tanpa tekanan untuk memperbesar free float. Namun, bagi investor institusi yang membutuhkan likuiditas untuk keluar masuk posisi, saham-saham ini menjadi kurang menarik. Dalam 1-4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Usulan revisi ini mengubah kontrak sosial antara bursa dan investor. Dengan menghapus kriteria free float dan likuiditas, BEI secara implisit menurunkan standar minimum untuk saham yang memerlukan pengawasan ketat. Bagi investor, terutama ritel dan institusi domestik, ini berarti risiko informasi asimetris dan kesulitan likuiditas semakin besar pada saham-saham di papan pemantauan khusus. Di sisi lain, emiten kecil mendapat napas lebih panjang tanpa tekanan untuk memperbaiki struktur modal atau volume perdagangan. Dampak jangka panjangnya adalah potensi penurunan kepercayaan investor asing yang telah terbiasa dengan standar free float global, dan dapat memengaruhi valuasi IHSG secara keseluruhan.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten dengan free float rendah dan likuiditas tipis dapat menghindari masuk papan pemantauan khusus atau keluar dari mekanisme FCA, sehingga mengurangi tekanan jual dan potensi koreksi harga. Namun, investor yang memegang saham tersebut tetap menghadapi risiko likuiditas ekstrem saat ingin keluar.
  • Perusahaan sekuritas dan manajer investasi harus menyesuaikan parameter risikonya. Saham-saham yang sebelumnya lolos kriteria free float mungkin tidak lagi cukup likuid untuk dimasukkan dalam portofolio reksa dana atau produk institusi, yang bisa memicu aksi jual oleh fund manager.
  • Penerapan non-cancellation period mengubah dinamika perdagangan di papan pemantauan khusus. Trader algoritmik dan high-frequency trader harus menyesuaikan strategi mereka karena tidak bisa membatalkan order dalam periode tertentu, yang dapat mengurangi volume dan meningkatkan volatilitas intraday.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rincian penyesuaian kriteria 11 dan jadwal implementasi resmi dari BEI dalam 2-4 minggu ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: reaksi investor asing—jika ada penurunan net foreign flow ke saham-saham LQ45 setelah pengumuman ini, itu bisa menjadi sinyal penurunan kepercayaan terhadap tata kelola bursa.
  • Sinyal penting: perubahan rating MSCI atau FTSE untuk Indonesia jika revisi ini dianggap menurunkan standar pasar—rating yang lebih rendah bisa memicu outflow dana indeks global.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.