5 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Kebijakan / Bea Masuk LPG 0% Belum Merata, Inaplas Minta Perpanjangan
Kebijakan

Bea Masuk LPG 0% Belum Merata, Inaplas Minta Perpanjangan

Tim Redaksi Feedberry ·5 November 2026 pukul 19.05 WIB · Sinyal menengah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
7 Skor

Fasilitas tarif bahan baku LPG menyentuh langsung daya saing industri olefin-plastik domestik; cakupan yang belum merata menciptakan distorsi biaya, dengan tenggat Januari 2027.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Relaksasi bea masuk impor LPG menjadi 0%
Penerbit
Pemerintah
Berlaku Sejak
Berlaku enam bulan hingga Januari 2027
Perubahan Kunci
  • ·Bea masuk impor LPG diturunkan dari 5% menjadi 0%
  • ·Fasilitas berlaku enam bulan hingga Januari 2027
  • ·Pemerintah diminta memperpanjang atau mempermanenkan fasilitas
Pihak Terdampak
Produsen olefin, aromatik, dan plastikImportir LPGIndustri pengguna LPG sebagai bahan bakuProdusen barang plastik hilir

Ringkasan Eksekutif

Relaksasi bea masuk impor LPG menjadi 0% belum dinikmati merata oleh industri plastik nasional. Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Suhat Miyarso menyatakan kebijakan itu baru dirasakan sebagian kecil pelaku usaha, meski sudah ada perbaikan. Fasilitas tarif bahan baku LPG dari sebelumnya 5% menjadi 0% berlaku enam bulan dan akan berakhir Januari 2027. Inaplas meminta pemerintah memperpanjang—bahkan mempermanenkan—insentif tersebut agar seluruh industri bisa mengaksesnya. Permintaan itu disampaikan dalam pertemuan dengan Menteri Perindustrian di Jakarta, Kamis (5/11/2026). Inti persoalan bukan sekadar besaran tarif. LPG adalah bahan baku alternatif terhadap nafta dalam rantai olefin dan plastik. Suhat menyatakan harga LPG global tidak selalu bersaing dengan nafta; saat ini keduanya hampir sama, bahkan LPG kadang lebih mahal.

Artinya, bea masuk 0% hanya efektif bila harga LPG di pasar global cukup kompetitif. Jika selisih harga LPG dan nafta tipis atau LPG lebih mahal, keringanan tarif tidak otomatis menurunkan biaya bahan baku secara signifikan.

Di sisi lain, fasilitas yang hanya dinikmati sebagian pelaku menciptakan perbedaan biaya di antara produsen dalam industri yang sama. Dampaknya paling langsung terasa pada produsen olefin, aromatik, dan plastik yang menggunakan LPG sebagai bahan baku. Kelompok yang belum mendapat fasilitas menghadapi bea masuk 5% saat impor, sementara pesaing yang sudah mendapat fasilitas membayar 0%. Perbedaan ini dapat menggeser daya saing domestik, terutama bagi produsen dengan volume impor kecil atau yang belum masuk daftar penerima. Tekanan bertambah karena impor LPG dibayar dalam dolar AS; dengan USD/IDR di 18.075, biaya perolehan bahan baku dalam rupiah tetap mahal meski tarifnya nol. Hilirnya, produsen barang plastik dan konsumen akhir berpotensi menanggung sebagian biaya tersebut melalui harga jual.

Mengapa Ini Penting

Kebijakan ini menentukan siapa yang menanggung biaya bahan baku di industri plastik. Jika fasilitas hanya untuk sebagian pelaku, persaingan domestik menjadi timpang: penerima tarif 0% punya struktur biaya lebih rendah daripada yang tetap membayar 5%. Perpanjangan atau permanenisasi akan mengubah insentif investasi di rantai olefin-plastik, tetapi tidak otomatis menyelesaikan masalah jika harga LPG global tetap tidak kompetitif dibanding nafta.

Dampak ke Bisnis

  • Produsen olefin, aromatik, dan plastik yang belum mendapat fasilitas tetap menghadapi bea masuk 5% saat impor LPG; pesaing yang mendapat fasilitas membayar 0%, menciptakan selisih biaya bahan baku dalam industri yang sama.
  • Importir LPG dan produsen dengan ketergantungan bahan baku impor menanggung tambahan biaya rupiah karena USD/IDR berada di 18.075; keringanan tarif bekerja melawan tekanan kurs, bukan menghapusnya.
  • Jika fasilitas berakhir Januari 2027 tanpa perpanjangan, seluruh importir LPG menghadapi bea masuk 5% kembali; dampaknya merambat ke produsen barang plastik, kemasan, dan konsumen akhir melalui harga jual.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: keputusan pemerintah soal perpanjangan atau permanenisasi fasilitas — tenggatnya Januari 2027, sehingga arah kebijakan dalam 1–4 minggu menjadi sinyal awal.
  • Risiko yang perlu dicermati: selisih harga LPG global versus nafta — jika LPG tetap sama atau lebih mahal, perpanjangan tarif 0% tidak otomatis menurunkan biaya bahan baku.
  • Sinyal penting: kriteria dan cakupan penerima fasilitas — perluasan akses ke lebih banyak pelaku akan mengurangi disparitas biaya, sementara cakupan sempit mempertahankan distorsi persaingan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.