22 JUL 2026
Balance Coin Anjlok 99% Akibat Eksploitasi 42DAO — Gelombang Peretasan DeFi Berlanjut

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Balance Coin Anjlok 99% Akibat Eksploitasi 42DAO — Gelombang Peretasan DeFi Berlanjut
Forex & Crypto

Balance Coin Anjlok 99% Akibat Eksploitasi 42DAO — Gelombang Peretasan DeFi Berlanjut

Tim Redaksi Feedberry ·22 Juli 2026 pukul 03.12 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6.7 Skor

Stablecoin algoritmik ambruk total, memperpanjang tren peretasan DeFi 2026 yang telah merugikan hampir USD 1 miliar; bagi Indonesia dengan basis investor kripto ritel besar, sentimen risk-off dapat memicu aksi jual aset digital dan menekan volume bursa lokal.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Balance Coin, sebuah stablecoin algoritmik yang dirancang untuk menjaga keseimbangan terhadap dolar AS, ambruk lebih dari 99% setelah eksploitasi senilai USD 915.000 terhadap organisasi otonom terdesentralisasi 42DAO, yang mengatur protokol Balance. Hingga saat ini, harga Balance Coin berada di USD 0,001358, turun drastis dari USD 0,9954, berdasarkan data CoinMarketCap. Perusahaan keamanan blockchain PeckShield mengaitkan peristiwa ini dengan dua serangan terpisah di jaringan BNB Chain: serangan pertama melibatkan pencetakan 4,5 juta keping BLC dari alamat null, yang kemudian dikirim ke PancakeSwap V2 dan ditukar dengan USDT dan Bitcoin versi BNB Chain. Serangan kedua terjadi dua jam kemudian, mencetak 5.900 BLC tambahan untuk mengekstrak lebih banyak dana.

Pola ini menegaskan bahwa kerentanan pada mekanisme tata kelola dan kontrak pintar masih menjadi titik lemah utama di ekosistem DeFi.

Mengapa Ini Penting

Peristiwa ini bukan sekadar satu exploit lagi; ini adalah indikasi bahwa kerentanan struktural pada stablecoin algoritmik dan DAO masih belum terselesaikan meskipun banyak serangan serupa sebelumnya. Bagi investor kripto Indonesia, yang sebagian besar adalah ritel dan aktif di bursa lokal seperti Tokocrypto, Reku, dan Pintu, berita semacam ini memperkuat sentimen risk-off yang sudah terbentuk sejak awal 2026 akibat rentetan peretasan DeFi. Jika kepercayaan terhadap keamanan aset digital terus terkikis, volume perdagangan di Indonesia bisa menurun signifikan, dan regulator seperti Bappebti berpotensi memperketat akses ke protokol DeFi asing. Dampak tidak langsung juga bisa menekan saham teknologi di IHSG yang berkorelasi dengan risk appetite global.

Dampak ke Bisnis

  • Erosi kepercayaan terhadap stablecoin algoritmik dan platform DeFi dapat memicu aksi jual aset kripto di pasar Indonesia, terutama stablecoin yang banyak digunakan sebagai alat transaksi dan penyimpan nilai oleh investor ritel.
  • Exchange kripto lokal (Tokocrypto, Reku, Pintu) menghadapi tekanan volume transaksi karena kekhawatiran keamanan; jika tren berlanjut, pendapatan dari biaya perdagangan bisa menurun.
  • Regulator (Bappebti/OJK) kemungkinan akan mempercepat penyusunan aturan lebih ketat terkait listing aset DeFi dan kewajiban audit keamanan bagi platform yang terhubung ke bursa Indonesia — meningkatkan biaya kepatuhan bagi exchange.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: publikasi post-mortem resmi dari tim Balance Protocol dan 42DAO — jika kerentanan bersifat fundamental dan tidak mudah ditambal, kepercayaan terhadap stablecoin algoritmik lain bisa ikut terkikis.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi aksi jual beruntun di aset kripto utama (Bitcoin, Ethereum) jika sentimen risk-off meluas — ini akan menekan nilai portofolio investor Indonesia dan memicu tekanan jual di bursa lokal.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Bappebti atau OJK mengenai langkah antisipatif; jika regulator mengeluarkan peringatan keras atau membatasi akses ke protokol DeFi tertentu, volume dan partisipasi pasar kripto Indonesia bisa menyusut drastis dalam jangka pendek.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki basis investor kripto ritel yang sangat besar dan aktif. Menurut data Bappebti, jumlah investor kripto di Indonesia telah melampaui 18 juta orang pada 2025. Exchange lokal seperti Tokocrypto, Reku, dan Pintu mencatat volume transaksi harian yang signifikan. Sentimen negatif dari peretasan DeFi berulang — seperti Balance Coin, Allbridge Core, Bonzo Lend, SecondFi, dan MEB — secara kumulatif telah menggerus kepercayaan investor ritel. Dengan nilai tukar rupiah yang berada di level Rp17.906 per dolar AS (data terbaru dalam prompt) dan IHSG yang stagnan di 6.338, pelemahan sentimen kripto global dapat menjadi pemicu tambahan arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia. Regulator domestik, Bappebti dan OJK, kemungkinan akan merespons dengan memperketat persyaratan listing aset digital dan meningkatkan literasi risiko bagi investor, termasuk mewajibkan platform untuk memberikan peringatan eksplisit tentang kerentanan protokol DeFi. Langkah ini penting untuk melindungi investor ritel Indonesia yang masih rentan terhadap kerugian akibat eksploitasi teknis.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.