22 AGS 2026
Backlog Rumah Sulsel 1,2 Juta — Makassar Tertinggi

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Backlog Rumah Sulsel 1,2 Juta — Makassar Tertinggi
Makro

Backlog Rumah Sulsel 1,2 Juta — Makassar Tertinggi

Tim Redaksi Feedberry ·22 Agustus 2026 pukul 14.00 · Sinyal menengah · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
7.7 Skor

Backlog perumahan 1,2 juta keluarga di Sulsel menuntut respons kebijakan cepat dan berdampak luas ke properti, perbankan, konstruksi, serta daya beli masyarakat.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Sebanyak 430 ribu keluarga di Sulawesi Selatan diperkirakan belum memiliki rumah sendiri, sementara sekitar 825 ribu lainnya menempati rumah yang belum layak huni. Berdasarkan dashboard MyPKP, dari total 3,1 juta keluarga di Sulsel, lebih dari 1,2 juta keluarga atau sekitar 40,34% masih tercatat memiliki persoalan backlog perumahan. Angka ini merupakan estimasi indikatif, bukan hasil pemutakhiran langsung di lapangan, sehingga potensi kebutuhan riil bisa lebih besar atau lebih kecil tergantung verifikasi data. Kota Makassar menjadi wilayah dengan backlog kepemilikan rumah tertinggi, sedangkan Kabupaten Bone lebih menonjol pada backlog kualitas hunian yang tidak layak.

Mengapa Ini Penting

Backlog perumahan bukan sekadar masalah sosial, tetapi cerminan daya beli dan kesehatan ekonomi regional. Ketimpangan antara kebutuhan hunian dan kemampuan masyarakat membeli rumah menunjukkan tekanan pada sektor konstruksi, perbankan, dan bahan bangunan yang selama ini menjadi penggerak ekonomi daerah. Data yang masih estimatif juga menjadi sinyal bahwa perencanaan subsidi dan insentif pemerintah berisiko meleset jika tidak didukung pemutakhiran angka yang akurat.

Dampak ke Bisnis

  • Developer properti yang fokus pada segmen rumah subsidi mendapat peluang besar di Sulsel, namun tantangan utamanya adalah daya beli masyarakat yang terbatas dan biaya konstruksi yang terus meningkat.
  • Perbankan penyalur KPR akan menghadapi tekanan ganda: potensi permintaan besar dari backlog, tetapi risiko kredit macet lebih tinggi jika suku bunga kredit masih tinggi dan pendapatan masyarakat tidak tumbuh memadai.
  • Pemerintah daerah dan pusat harus mengalokasikan anggaran rehabilitasi rumah tidak layak huni — jika pendanaan tersendat, dampaknya baru terasa dalam 3-6 bulan ke depan dalam bentuk lambatnya perbaikan kualitas hunian dan meluasnya permukiman kumuh.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi program pembangunan dan rehabilitasi rumah di Sulsel dalam 1-2 bulan ke depan — apakah ada serapan APBN/APBD yang signifikan atau justru tertahan oleh keterbatasan fiskal.
  • Risiko yang perlu dicermati: kenaikan harga bahan bangunan dan suku bunga kredit — jika keduanya naik bersamaan, backlog kepemilikan rumah berisiko membengkak karena semakin banyak keluarga yang tidak mampu membeli rumah layak.
  • Sinyal penting: pemutakhiran data backlog oleh pemerintah melalui sistem MyPKP — jika angka estimatif diperbarui menjadi data mikro yang lebih akurat, arah kebijakan subsidi dan insentif akan lebih tepat sasaran dan dapat menjadi katalis bagi sektor properti regional.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.