13 JUL 2026
AI Microbusiness Bisa Dorong Volume Stablecoin $262 Miliar pada 2033: Swyftx

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / AI Microbusiness Bisa Dorong Volume Stablecoin $262 Miliar pada 2033: Swyftx
Forex & Crypto

AI Microbusiness Bisa Dorong Volume Stablecoin $262 Miliar pada 2033: Swyftx

Tim Redaksi Feedberry ·13 Juli 2026 pukul 05.24 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5.7 Skor

Prediksi jangka panjang; dampak langsung rendah tapi potensi disrupsi di sistem pembayaran dan remitansi Indonesia signifikan jika adopsi stablecoin melonjak.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Laporan industri kuartal kedua dari bursa kripto Australia Swyftx memperkirakan pasar pembayaran global untuk pekerja lepas dan gig economy akan mencapai US$2,1 triliun pada 2033. Dari jumlah tersebut, kontribusi pekerja yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI-native) diperkirakan mencapai US$775 miliar. Dalam skenario dasar, Swyftx memproyeksikan US$262 miliar dari pangsa itu akan diselesaikan menggunakan stablecoin, dengan asumsi tingkat adopsi sekitar 33%. Proyeksi ini muncul di tengah pertumbuhan pesat jumlah pekerja lepas solo — diperkirakan dari 6–10 juta saat ini menjadi 17 juta dalam satu dekade. Mereka adalah para wiraswasta digital yang beroperasi lintas batas negara, mengirimkan invoice dalam jumlah kecil namun sering, dan sangat sensitif terhadap biaya transfer dan waktu settlement.

Sistem perbankan tradisional yang mengenakan biaya tinggi dan membutuhkan waktu berhari-hari dianggap tidak optimal. Swyftx menyebut stablecoin dapat menghemat ribuan dolar per tahun bagi pengguna ritel. Lebih dalam lagi, laporan ini mengidentifikasi bahwa lapisan penyelesaian institusional — termasuk likuiditas over-the-counter, layanan kustodi, dan imbal hasil untuk platform yang merutekan pembayaran — bisa menangkap pendapatan baru hingga US$1,3 miliar pada 2033, dengan asumsi biaya total 0,5% dari volume transaksi. Ini menandakan bahwa stablecoin tidak lagi sekadar aset spekulatif, melainkan mulai berfungsi sebagai infrastruktur pembayaran riil. Rekor volume transaksi stablecoin yang mencapai US$1,79 triliun pada Juni 2026 turut mengonfirmasi meningkatnya permintaan akan jalur pembayaran alternatif.

Pav Hundal, analis pasar utama Swyftx, menekankan bahwa adopsi terjadi ketika ekonominya menarik dan aturannya jelas — dua kondisi yang mulai terpenuhi. Dampak terhadap Indonesia patut dicermati. Indonesia memiliki salah satu pasar kripto ritel teraktif di Asia, dengan basis pengguna yang besar di kalangan pekerja lepas dan pelaku usaha mikro. Potensi penghematan biaya remitansi lintas batas sangat relevan, mengingat banyak pekerja Indonesia di luar negeri mengirim uang ke dalam negeri. Namun, perlu diingat peringatan IMF dalam working paper terbaru: stablecoin berbasis dolar AS bisa mempercepat capital flight saat tekanan nilai tukar meningkat. Di tengah defisit APBN yang melebar dan rupiah yang terdepresiasi, penggunaan stablecoin secara masif tanpa pengawasan bisa memperburuk stabilitas moneter.

OJK dan Bappebti tengah menyusun kerangka regulasi aset digital, tetapi untuk stablecoin belum ada pedoman resmi. Dalam empat minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Proyeksi ini menunjukkan bahwa stablecoin sedang bertransformasi dari instrumen spekulatif menjadi infrastruktur pembayaran utama bagi ekonomi digital global. Bagi Indonesia, jika adopsi terjadi, biaya remitansi lintas batas bisa turun drastis, memberikan keuntungan bagi pekerja lepas dan UKM. Namun, tanpa regulasi yang ketat, stablecoin dolar dapat mempercepat substitusi rupiah dan memicu aliran modal keluar yang tidak terkendali saat tekanan nilai tukar muncul.

Dampak ke Bisnis

  • Bursa kripto Indonesia seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu berpotensi menikmati lonjakan volume trading jika regulasi memungkinkan stablecoin digunakan luas untuk transaksi riil. Pendapatan dari biaya transaksi dan layanan kustodi bisa tumbuh signifikan.
  • Perusahaan fintech dan platform pembayaran yang melayani pekerja lepas — misalnya platform freelance lokal, PayPal, atau layanan remitansi — akan menghadapi tekanan untuk mengadopsi stablecoin sebagai metode pembayaran atau kehilangan pangsa pasar ke kompetitor yang lebih efisien.
  • Bank konvensional, terutama yang bergantung pada biaya transfer internasional, akan kehilangan pendapatan jika volume pengiriman uang beralih ke stablecoin. Ini mendorong perlunya inovasi produk seperti stablecoin berlisensi bank, seperti yang dilakukan Sony Bank di AS.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan volume perdagangan stablecoin di bursa kripto Indonesia sepanjang Juli 2026 — jika terjadi lonjakan tidak wajar, itu bisa menjadi sinyal awal adopsi riil atau tekanan capital outflow.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons OJK dan Bappebti terhadap rekomendasi IMF dan FSB tentang stablecoin — jika regulasi bersifat restriktif, inovasi pindah ke yurisdiksi lain; jika longgar, risiko stabilitas moneter meningkat.
  • Sinyal penting: hasil proof of concept Toss-Optimism di Korea dan persetujuan OCC untuk Sony Bank — jika berhasil, model serupa bisa diadaptasi di Indonesia dan mempercepat adopsi stablecoin institusional.

Konteks Indonesia

Indonesia merupakan salah satu pasar kripto ritel paling aktif di Asia, dengan basis pengguna pekerja lepas dan UMKM yang besar. Proyeksi Swyftx tentang adopsi stablecoin oleh AI microbusiness global berpotensi langsung berdampak pada ekosistem kripto domestik, terutama jika regulator menyediakan kerangka yang jelas. Namun, peringatan IMF tentang risiko capital flight lewat stablecoin menjadi kontra-indikasi yang perlu diantisipasi, terutama di tengah tekanan fiskal dan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, OJK, Bappebti, dan Bank Indonesia perlu menyelaraskan kebijakan antara mendorong inovasi dan menjaga stabilitas moneter.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.