3 JUN 2026
37% Pekerja Ubah Jam Kerja Demi Piala Dunia — Potensi Rugi Rp305 T

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / 37% Pekerja Ubah Jam Kerja Demi Piala Dunia — Potensi Rugi Rp305 T
Makro

37% Pekerja Ubah Jam Kerja Demi Piala Dunia — Potensi Rugi Rp305 T

Tim Redaksi Feedberry ·3 Juni 2026 pukul 11.48 · Sumber: Katadata ↗
6 Skor

Meski survei tidak mencakup Indonesia, antusiasme sepak bola nasional yang tinggi dan keberadaan perusahaan multinasional membuat potensi gangguan produktivitas relevan untuk diantisipasi.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung 11 Juni hingga 19 Juli diproyeksikan mengganggu produktivitas kerja global. Survei perusahaan teknologi manajemen tenaga kerja Ultimate Kronos Group (UKG) terhadap 8.000 pekerja di delapan negara maju menemukan bahwa 37% pekerja berencana mengubah jadwal kerja demi mengikuti pertandingan. Rinciannya, 27% akan mengurangi jam kerja — datang terlambat, pulang awal, atau tidak masuk — sementara 14% mengaku akan menonton siaran langsung atau cuplikan secara diam-diam selama jam kerja. Lebih mengkhawatirkan, 11% pekerja menyatakan kemungkinan tetap bekerja setelah mengonsumsi alkohol saat menonton. Akibatnya, UKG memperkirakan kerugian produktivitas global mencapai US$17 miliar atau setara Rp305 triliun (kurs Rp17.900). Amerika Serikat menjadi negara dengan potensi kerugian terbesar: US$11,7 miliar, disusul Jerman US$1,34 miliar.

Antusiasme tidak hanya di kalangan karyawan: 42% manajer berencana mengambil cuti, dan 45% lainnya akan mengajukan pengaturan kerja fleksibel. Fenomena ini menunjukkan tantangan serius bagi perusahaan dalam menjaga produktivitas selama event besar, terutama karena edisi 2026 menjadi yang terbesar dalam sejarah dengan 48 negara peserta dan 104 pertandingan. UKG sendiri merupakan perusahaan hasil merger Ultimate Software dan Kronos Incorporated pada 2020, yang fokus pada solusi HR, penggajian, dan manajemen tenaga kerja. Data ini berasal dari survei yang dilakukan di Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Meksiko, Belanda, Inggris, dan AS — belum mencakup Indonesia.

Meski demikian, antusiasme sepak bola di Indonesia yang sangat tinggi, ditambah dengan maraknya diskusi dan tayangan Piala Dunia, membuat potensi gangguan serupa patut diantisipasi oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri. Perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia, terutama yang memiliki tenaga kerja muda dan terhubung dengan budaya global, kemungkinan akan menghadapi tekanan produktivitas yang mirip. Dampak ini tidak hanya berupa absensi fisik, tetapi juga presenteeism — hadir di kantor tetapi tidak fokus bekerja — yang menurut Chief Product Officer UKG Suresh Vittal sama meruginya. Penurunan produktivitas skala besar bisa mengganggu pengalaman pelanggan, menurunkan moral tim karena beban kerja tambahan, dan pada akhirnya menekan bottom line perusahaan.

Sektor yang berpotensi diuntungkan justru adalah tempat nonton bareng (nobar), penyedia layanan streaming, restoran dan bar, serta penjual merchandise dan elektronik — karena permintaan untuk menonton pertandingan meningkat. Bagi perusahaan di Indonesia, langkah antisipatif seperti pengaturan jam kerja fleksibel, work-from-home selama pertandingan, atau bahkan mengadakan nonton bareng internal bisa menjadi strategi untuk mengelola produktivitas sambil tetap menjaga semangat karyawan.

Mengapa Ini Penting

Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi event olahraga dengan dampak produktivitas terukur terbesar, karena skalanya yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi perusahaan Indonesia — terutama yang memiliki eksposur global atau tenaga kerja muda — fenomena ini menjadi ujian nyata dalam mengelola keseimbangan antara antusiasme karyawan dan target bisnis. Pola yang terungkap dari survei global bisa menjadi preseden bagaimana event serupa di masa depan akan mempengaruhi produktivitas, mengingat tren fleksibilitas kerja yang semakin marak pasca-pandemi.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan multinasional dan lokal di Indonesia dengan basis karyawan milenial/gen Z berisiko mengalami penurunan produktivitas signifikan selama Piala Dunia, yang bisa menekan target penjualan, layanan pelanggan, dan penyelesaian proyek dalam jangka pendek.
  • Sektor yang justru diuntungkan: tempat hiburan (nobar, bar, restoran), platform streaming olahraga, produsen merchandise, dan penjual elektronik (TV, sound system) karena lonjakan permintaan konsumsi selama turnamen.
  • Fenomena presenteeism (hadir tapi tidak produktif) dan bekerja setelah mengonsumsi alkohol menimbulkan risiko keselamatan kerja dan kualitas output, yang dapat meningkatkan biaya operasional dan potensi tuntutan hukum jika terjadi kecelakaan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kebijakan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia — apakah akan memberlakukan jam kerja fleksibel atau work-from-home selama Piala Dunia, yang bisa menjadi tolok ukur adaptasi SDM di negara ini.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi lonjakan absensi dan penurunan produktivitas di sektor manufaktur dan jasa yang memiliki jam kerja tetap, serta dampak pada rantai pasok jika banyak pekerja tidak masuk.
  • Sinyal penting: data penjualan dari penyedia layanan nobar, streaming, dan elektronik selama dua minggu pertama turnamen — jika melonjak drastis, ini mengonfirmasi bahwa pola global juga terjadi di Indonesia, sehingga perusahaan perlu segera menyusun strategi mitigasi untuk event serupa di masa depan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.