9 JUN 2026
Zepto Incar IPO $1 Miliar — Pendapatan Iklan Tumbuh 151%, Kerugian Melebar

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Zepto Incar IPO $1 Miliar — Pendapatan Iklan Tumbuh 151%, Kerugian Melebar
Teknologi

Zepto Incar IPO $1 Miliar — Pendapatan Iklan Tumbuh 151%, Kerugian Melebar

Tim Redaksi Feedberry ·9 Juni 2026 pukul 05.07 · Sumber: TechCrunch ↗
4.3 Skor

Berita IPO startup India ini tidak memiliki dampak langsung ke Indonesia, tetapi memberikan sinyal penting bagi ekosistem startup dan model monetisasi marketplace di dalam negeri, serta memperkuat kekhawatiran investor tentang profitabilitas startup pertumbuhan tinggi.

Urgensi
4
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Zepto, startup quick-commerce asal India, resmi mengajukan rencana IPO dengan valuasi sekitar $1 miliar. Dalam prospektus yang dirilis Senin, perusahaan mengungkapkan pendapatan iklan melonjak 151% year-on-year menjadi ₹16,4 miliar (sekitar $171 juta) — melampaui pertumbuhan pendapatan operasional yang ‘hanya’ 104% menjadi ₹115,5 miliar ($2,4 miliar). Pertumbuhan iklan yang lebih cepat ini menandai pergeseran strategi monetisasi: Zepto mulai meniru model Amazon yang menjadikan marketplace sebagai platform iklan yang sangat menguntungkan dari para pedagang yang sama. Namun, di balik pertumbuhan topline yang impresif, Zepto masih mencatatkan kerugian bersih yang melebar. Rugi bersih mencapai ₹59,1 miliar (sekitar $617 juta) pada tahun fiskal 2026, naik dari ₹47,0 miliar ($492 juta) tahun sebelumnya.

Perusahaan secara eksplisit mengakui dalam filing bahwa kerugian dapat berlanjut dan pertumbuhan historis mungkin tidak berkelanjutan — pengakuan standar namun tetap menjadi sinyal tekanan bagi investor publik yang mengincar valuasi tinggi sebelum profitabilitas tercapai. Jumlah pesanan tahunan hampir dua kali lipat menjadi 640 juta, dengan pengguna tahunan mencapai hampir 48 juta, menunjukkan permintaan masih deras. IPO Zepto akan terdiri dari penerbitan saham baru hingga ₹80,1 miliar ($837 juta), ditambah penawaran jual oleh investor eksisting seperti Nexus Venture Partners, Contrary, dan Razor Ventures. Valuasi terakhir Zepto di putaran pendanaan Oktober 2025 mencapai $7 miliar, sehingga IPO $1 miliar ini menunjukkan penurunan valuasi yang signifikan — sebuah realitas pahit yang dihadapi banyak startup teknologi di tengah tekanan likuiditas global.

Pendiri Zepto, Aadit Palicha dan Kaivalya Vohra, adalah alumni Stanford dropouts yang mendirikan startup pada 2021, dan kini bersaing ketat dengan Blinkit (milik Zomato) dan Instamart (milik Swiggy), serta Amazon dan Flipkart yang juga gencar di segmen quick-commerce. Bagi Indonesia, cerita Zepto relevan dalam dua hal. Pertama, model monetisasi iklan yang tumbuh lebih cepat dari bisnis inti menunjukkan potensi besar platform e-commerce menjadi mesin pendapatan iklan — strategi yang sudah diadopsi oleh Tokopedia, Shopee, dan Blibli di tanah air. Kedua, pelebaran kerugian Zepto mengingatkan investor bahwa pertumbuhan pengguna dan pesanan tidak otomatis menghasilkan profitabilitas, sebuah pelajaran yang sudah terbukti pahit bagi GOTO dan BUKA di BEI.

Mengapa Ini Penting

IPO Zepto menjadi barometer bagi investor global untuk melihat apakah model quick-commerce dengan pendapatan iklan yang kuat bisa menjadi jalan menuju profitabilitas. Di Indonesia, model serupa diadopsi oleh platform e-commerce dan layanan on-demand, sehingga valuasi dan respons pasar Zepto bisa memengaruhi persepsi investor terhadap startup lokal seperti GOTO, Blibli, atau bahkan pemain baru di segmen quick-commerce. Jika Zepto tetap kesulitan profitabel meski pendapatan iklan tumbuh pesat, maka tekanan terhadap valuasi startup teknologi Asia akan semakin berat.

Dampak ke Bisnis

  • IPO Zepto dapat menjadi referensi valuasi bagi startup quick-commerce di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Valuasi IPO yang lebih rendah dari valuasi putaran terakhir ($7 miliar menjadi $1 miliar) menegaskan bahwa investor publik lebih skeptis terhadap profitabilitas jangka pendek — tekanan ini bisa menular ke proses IPO startup Indonesia yang masih merugi.
  • Pertumbuhan pendapatan iklan Zepto yang 151% menunjukkan potensi besar lini bisnis iklan bagi platform marketplace. Di Indonesia, emiten seperti GOTO dan Blibli yang sudah memiliki unit iklan bisa mendapatkan angin segar jika Zepto sukses, karena memperkuat narasi bahwa iklan adalah mesin pertumbuhan kedua yang kredibel.
  • Pelebaran kerugian Zepto menjadi peringatan bagi investor ritel dan institusi di Indonesia yang memegang saham startup teknologi. Pola 'tumbuh cepat, rugi besar' masih menjadi ciri khas sektor ini, dan sikap investor global yang semakin demanding terhadap profitabilitas bisa memperpanjang tekanan harga saham GOTO, BUKA, dan emiten teknologi lainnya di BEI.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons pasar saat Zepto resmi listing di bursa India — apakah sahamnya disambut positif atau langsung terkoreksi. Ini akan menjadi sinyal sentimen investor terhadap sektor quick-commerce dan startup teknologi Asia.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika Zepto terus membukukan kerugian besar setelah IPO, investor bisa kehilangan kepercayaan terhadap model bisnis quick-commerce secara umum. Dampaknya bisa menekan sentimen terhadap startup serupa di Indonesia yang juga mengandalkan pertumbuhan volume pesanan.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Zomato (Blinkit) atau Swiggy (Instamart) terkait dampak IPO Zepto terhadap strategi mereka. Jika kompetitor mulai meniru strategi iklan Zepto, persaingan pendapatan iklan di sektor ini akan semakin sengit dan dapat memengaruhi margin semua pemain.

Konteks Indonesia

Berita IPO Zepto relevan bagi Indonesia karena model bisnis quick-commerce dan monetisasi iklan yang serupa diadopsi oleh platform e-commerce lokal seperti Tokopedia, Shopee, dan Blibli. Zepto yang merugi meski pendapatan iklan melonjak mengingatkan investor Indonesia bahwa pertumbuhan pengguna dan pendapatan belum menjamin profitabilitas — pelajaran yang sudah terbukti pada saham GOTO dan BUKA di BEI. Selain itu, valuasi IPO Zepto yang jauh lebih rendah dari valuasi private terakhir ($1 miliar vs $7 miliar) dapat memengaruhi ekspektasi valuasi startup Indonesia yang tengah mempersiapkan IPO. Sentimen investor global terhadap startup teknologi juga bisa terpengaruh, yang pada gilirannya memengaruhi aliran modal asing ke saham teknologi Indonesia. Meski dampak langsung minimal, cerita Zepto menjadi studi kasus penting bagi investor dan manajemen startup di Indonesia dalam menyikapi tekanan antara pertumbuhan dan profitabilitas.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.