Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Visa Investasi di Stablecoin dan AI — Sinyal Perubahan Struktur Pembayaran Global
Visa sebagai raksasa pembayaran global mulai mengintegrasikan stablecoin dan AI secara eksplisit — dampaknya akan terasa di seluruh ekosistem pembayaran dan kripto Indonesia dalam 1-2 tahun ke depan.
Ringkasan Eksekutif
Visa mengumumkan strategi investasi di seluruh lapisan ekosistem stablecoin dalam panggilan pendapatan kuartal III. Perusahaan mencatat pendapatan fiskal kuartal III sebesar $11,6 miliar, naik 14% dari tahun sebelumnya, didorong oleh pertumbuhan volume pembayaran dua digit, volume lintas batas, dan transaksi yang diproses. Visa menyatakan telah bergabung dengan konsorsium OpenStandard yang berencana menerbitkan stablecoin OpenUSD untuk pergerakan uang global. Platform stablecoin Visa dirancang untuk memungkinkan mitra menyelesaikan transaksi dengan Visa menggunakan stablecoin, menyediakan infrastruktur dompet on-chain sebagai layanan, serta memindahkan uang antara mata uang fiat dan stablecoin — dimulai dengan OpenUSD. Platform ini juga akan terintegrasi dengan Pismo untuk mendukung tokenized deposits bagi lembaga keuangan.
Selain stablecoin, Visa menyebut kecerdasan buatan (AI) sebagai area pertumbuhan jangka panjang lainnya, menggambarkan stablecoin dan AI sebagai teknologi yang saling melengkapi: jika stablecoin membentuk kembali backend commerce, AI mengubah frontend. Volume lintas batas meningkat 13% year-over-year, atau 12% tidak termasuk intra-Eropa, sementara transaksi yang diproses naik 10%.
Langkah ini menunjukkan bahwa Visa tidak hanya mengamati tren industri kripto, tetapi secara aktif membangun infrastruktur untuk mengakomodasi stablecoin dan tokenized deposits dalam sistem pembayaran arus utama. Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, adopsi stablecoin oleh Visa dapat mempercepat legitimasi aset digital di mata regulator dan perbankan domestik. Bank Indonesia dan OJK saat ini tengah menyusun kerangka untuk aset digital dan stablecoin — langkah Visa bisa menjadi acuan global. Namun di sisi lain, stablecoin berbasis dolar seperti OpenUSD berpotensi mempercepat capital flight saat tekanan nilai tukar, seperti yang diperingatkan IMF. Dengan rupiah yang masih terdepresiasi dan defisit APBN melebar, risiko ini perlu diantisipasi.
Artikel terkait juga menunjukkan tren serupa di kawasan: Bank of the Philippine Islands (BPI) akan menguji coba stablecoin untuk pembayaran pekerja lepas, sementara perusahaan logistik Jepang AZ-COM Maruwa Holdings berencana membayar mitra bisnis menggunakan stablecoin JPYC. Ini memperkuat sinyal bahwa adopsi stablecoin korporasi dan institusional sudah berlangsung di Asia.
Mengapa Ini Penting
Visa bukan sekadar mengamati, tetapi berinvestasi di setiap lapisan stablecoin — dari blockchain, penerbitan, dompet, infrastruktur, hingga aplikasi. Ini adalah sinyal bahwa stablecoin akan menjadi bagian permanen dari infrastruktur pembayaran global, bukan sekadar aset spekulatif. Bagi Indonesia, ini berarti tekanan untuk memiliki regulasi stablecoin yang jelas semakin mendesak, karena pelaku industri lokal akan tertinggal atau terkena dampak perubahan biaya dan kecepatan transaksi lintas batas. Perusahaan fintech dan perbankan Indonesia yang tidak bersiap menghadapi era pembayaran berbasis stablecoin dan AI berisiko kehilangan pangsa pasar ke pemain global.
Dampak ke Bisnis
- Perbankan dan fintech Indonesia: Bank-bank seperti BCA, Mandiri, dan BRI yang sudah mengadopsi AI untuk layanan pelanggan perlu mempertimbangkan integrasi tokenized deposits dan stablecoin untuk mempertahankan daya saing. Platform seperti GoTo Financial dan Octo dapat memanfaatkan infrastruktur Visa untuk memperluas layanan lintas batas dengan biaya lebih rendah.
- Pasar kripto Indonesia: Stablecoin yang teregulasi oleh Visa dapat meningkatkan kepercayaan investor ritel di platform lokal, mendorong volume perdagangan. Namun, exchange kripto lokal harus bersaing dengan infrastruktur Visa yang lebih mapan dan memiliki jangkauan global.
- Pengiriman uang (remitansi): Indonesia sebagai salah satu penerima remitansi terbesar dunia — biaya pengiriman yang saat ini 5-10% bisa ditekan dengan stablecoin. Perusahaan seperti Western Union dan MoneyGram akan tertekan, sementara platform digital lokal yang mengadopsi stablecoin lebih awal bisa meraih pangsa pasar.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: respons regulator Indonesia (OJK & Bappebti) terhadap strategi Visa — apakah akan ada percepatan penyusunan aturan stablecoin atau pernyataan resmi dalam 1-2 bulan ke depan.
- Risiko yang perlu dicermati: potensi capital flight melalui stablecoin dolar — jika rupiah terus melemah, penggunaan stablecoin untuk menyimpan nilai bisa meningkat dan memperburuk tekanan nilai tukar.
- Sinyal penting: uji coba stablecoin oleh bank-bank Asia Tenggara seperti BPI di Filipina — jika berhasil dan diperluas, bank Indonesia seperti BRI atau Mandiri kemungkinan akan mengikuti dalam 6-12 bulan ke depan.
Konteks Indonesia
Visa adalah mitra utama bagi banyak bank dan fintech di Indonesia — QRIS, kartu kredit, dan pembayaran digital. Keputusan Visa untuk mengintegrasikan stablecoin dan AI akan memengaruhi peta persaingan pembayaran digital di Indonesia. Bank Indonesia yang sedang mengembangkan Rupiah Digital (CBDC) perlu mempertimbangkan interoperabilitas dengan stablecoin global seperti OpenUSD. Sementara itu, regulator OJK dan Bappebti harus menyeimbangkan inovasi dengan stabilitas sistem keuangan. Dengan volume remitansi Indonesia yang besar dan basis investor kripto ritel yang aktif, adopsi stablecoin bisa menjadi pedang bermata dua: efisiensi biaya vs risiko stabilitas moneter.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.