1 JUL 2026
Trump Potong Fulbright 80% — Soft Power AS Anjlok, Dampak ke RI?

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Trump Potong Fulbright 80% — Soft Power AS Anjlok, Dampak ke RI?
Kebijakan

Trump Potong Fulbright 80% — Soft Power AS Anjlok, Dampak ke RI?

Tim Redaksi Feedberry ·30 Juni 2026 pukul 08.41 · Sinyal tinggi · Sumber: Asia Times ↗
6.7 Skor

Kebijakan ini belum final (masih proposal anggaran), namun jika terealisasi akan memangkas soft power AS secara global, termasuk di Indonesia yang menjadi salah satu negara mitra utama Fulbright.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
6
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Proposed Budget Cut to Fulbright Program in US Fiscal Year 2027 Budget
Penerbit
White House (Trump Administration) — Office of Management and Budget
Berlaku Sejak
proposed for fiscal year starting October 1, 2026; subject to Congressional approval
Perubahan Kunci
  • ·Mengusulkan pengurangan pendanaan Fulbright Program hampir 80% dibandingkan anggaran sebelumnya
  • ·Mengancam keberlangsungan program yang beroperasi di lebih dari 80% negara di dunia
Pihak Terdampak
Seluruh peserta Fulbright di 160+ negara termasuk Indonesia (akademisi, mahasiswa, peneliti, seniman, profesional)Lembaga pendidikan dan riset mitra Fulbright di Indonesia (universitas, pusat studi, think tank)Alumni Fulbright Indonesia yang saat ini menduduki posisi strategis di pemerintahan, akademisi, dan bisnis

Ringkasan Eksekutif

Presiden AS Donald Trump mengusulkan pemotongan anggaran Fulbright Program hampir 80% dalam Rancangan Anggaran Fiskal 2027. Fulbright, yang memasuki tahun ke-80 pada 2026, adalah program pertukaran pendidikan unggulan pemerintah AS dan beroperasi dengan lebih dari 80% negara di dunia. Pemotongan drastis ini mengancam kelangsungan program yang telah menghasilkan 62 peraih Nobel, 82 MacArthur Fellowship, 98 Pulitzer, dan 44 kepala negara atau mantan kepala negara. Artikel Asia Times mengidentifikasi krisis legitimasi yang mendalam sebagai penyebab kerentanan Fulbright terhadap pemotongan ini.

Secara spesifik, program yang awalnya bertujuan untuk meningkatkan saling pengertian dan diplomasi budaya kini lebih banyak digunakan oleh diaspora Amerika (khususnya imigran India-Amerika) untuk kembali ke tanah leluhur mereka — yang disebut sebagai 'cultural rediscovery' — daripada membangun jembatan antarbangsa yang sejati. Penulis artikel, yang pernah menjadi Fulbrighter dua kali di India, mencatat peningkatan demografis signifikan dalam jumlah penerima hibah keturunan India-Amerika, yang menggunakan program ini untuk tinggal di properti keluarga di India. Hal ini menggerus misi diplomasi budaya asli Fulbright. Dampak terhadap Indonesia tidak langsung bersifat ekonomi dalam jangka pendek, tetapi signifikan dalam konteks soft power dan pendidikan. Indonesia adalah salah satu negara penerima Fulbright terbanyak di Asia Tenggara.

Setiap tahun, puluhan akademisi, peneliti, dan profesional Indonesia mendapatkan kesempatan belajar dan mengajar di AS melalui program ini. Sebaliknya, warga negara Amerika juga datang ke Indonesia untuk penelitian dan pengajaran. Pemotongan 80% berarti pengurangan drastis jumlah peserta dari kedua arah. Ini akan mengurangi kapasitas riset kolaboratif Indonesia-AS, memperlambat transfer pengetahuan, dan menghilangkan jalur penting bagi talenta Indonesia untuk mengakses jaringan akademik global AS.

Dalam jangka menengah, hal ini bisa memperlebar kesenjangan kualitas SDM Indonesia di bidang-bidang strategis seperti sains, teknologi, dan kebijakan publik. Selain itu, penurunan soft power AS membuka peluang bagi negara-negara lain — seperti China melalui beasiswa Pemerintah China (CSC) atau Australia melalui Australia Awards — untuk memperluas pengaruh pendidikan di Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Pemotongan Fulbright bukan sekadar masalah anggaran AS — ini adalah perubahan struktural dalam diplomasi publik yang selama 80 tahun menjadi pilar hubungan AS-Indonesia di bidang pendidikan. Bagi Indonesia, program ini menghasilkan alumni yang menduduki posisi strategis di pemerintahan, akademisi, dan bisnis. Hilangnya Fulbright secara efektif akan memperlemah jaringan riset dan inovasi yang menghubungkan universitas dan pusat riset Indonesia dengan lembaga mitra di AS. Dalam konteks persaingan geopolitik di kawasan, vacuum soft power ini bisa dimanfaatkan oleh kekuatan lain untuk memperkuat pengaruh pada generasi muda dan cendekiawan Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Penurunan jumlah tenaga riset dan dosen Indonesia yang terlatih di AS dapat menekan kualitas inovasi di sektor pendidikan tinggi dan riset swasta, mengurangi daya saing sumber daya manusia Indonesia dalam jangka menengah.
  • Perusahaan multinasional AS yang beroperasi di Indonesia sering merekrut alumni Fulbright karena jaringan dan kompetensi bahasa Inggris/Amerika mereka. Berkurangnya pasokan talenta ini bisa meningkatkan biaya rekrutmen dan pelatihan.
  • Lembaga pendidikan Indonesia yang selama ini menjadi mitra universitas AS melalui program Fulbright (seperti penelitian bersama, pertukaran dosen) akan kehilangan sumber pendanaan dan koneksi, memaksa mereka mencari mitra alternatif di China, Eropa, atau Australia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pembahasan RUU Anggaran Fiskal 2027 di Kongres AS — jika Kongres mengembalikan sebagian besar dana Fulbright, skenario pemotongan penuh bisa dihindari.
  • Risiko yang perlu dicermati: efek domino ke program pertukaran lainnya (seperti Humphrey, Gilman) jika Fulbright dipotong drastis — ini bisa menjadi preseden pemotongan soft power AS secara luas.
  • Sinyal penting: respons resmi Kementerian Luar Negeri RI dan Kemendikbudristek — apakah Indonesia akan menjajaki kerja sama bilateral langsung dengan AS untuk mempertahankan jumlah beasiswa, atau beralih ke negara lain.

Konteks Indonesia

Indonesia adalah salah satu mitra terbesar Fulbright di Asia Tenggara. Program ini telah mengirim ratusan akademisi dan profesional Indonesia ke AS serta mendatangkan ahli AS ke Indonesia sejak 1950-an. Jika Fulbright dipotong 80%, jumlah penerima hibah dari dan ke Indonesia bisa anjlok drastis. Ini akan mengurangi kesempatan bagi peneliti Indonesia untuk mengakses laboratorium, data, dan jaringan akademik AS; memperlemah riset kolaboratif di bidang seperti perubahan iklim, energi terbarukan, dan kesehatan tropis; serta memberikan keuntungan kompetitif bagi negara lain (China, Australia) yang terus memperbesar program beasiswa mereka untuk Indonesia. Dampak jangka panjang bisa berupa pergeseran orientasi internasional komunitas akademik Indonesia dari AS ke negara lain.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.