Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Trace Finance Kumpulkan $32 Juta untuk Ekspansi Settlement Stablecoin Lintas Batas
Perkembangan infrastruktur stablecoin global meningkat cepat didorong regulasi; Indonesia dengan basis investor kripto ritel besar dan ketergantungan pada remitansi berpotensi terdampak signifikan meski dampak langsung belum terasa dalam pekan ini.
Ringkasan Eksekutif
Trace Finance, perusahaan infrastruktur pembayaran berbasis blockchain, mengumumkan pendanaan sebesar US$32 juta untuk memperluas layanan settlement stablecoin lintas batas. Pendanaan ini terjadi di tengah percepatan regulasi stablecoin global: Amerika Serikat telah mengesahkan GENIUS Act pada Juli 2025, Hong Kong memberlakukan Stablecoin Ordinance pada Agustus 2025 dan baru saja memberikan lisensi pertama, sementara bank sentral China (PBOC) mulai memantau dampak stablecoin terhadap sistem moneter internasional – meski sebelumnya Gubernur PBOC Pan Gongsheng menyebut stablecoin berisiko tinggi. Kapitalisasi pasar stablecoin global saat ini mencapai sekitar US$315 miliar, menurut DeFiLlama.
Di sisi swasta, beberapa pemain besar juga berekspansi: MassPay bermitra dengan Coinbase untuk menawarkan pembayaran lintas batas berbasis stablecoin, Stripe mengakuisisi startup infrastruktur stablecoin Bridge pada 2025, dan Circle meluncurkan Circle Payments Network pada Mei 2025 yang menghubungkan bank, perusahaan pembayaran, dan dompet digital untuk settlement real-time menggunakan stablecoin. Momentum ini menunjukkan bahwa stablecoin tidak lagi sekadar aset spekulatif, melainkan mulai diadopsi sebagai infrastruktur pembayaran institusional. Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki beberapa implikasi. Pertama, pasar kripto Indonesia termasuk yang paling aktif di Asia Tenggara dengan basis investor ritel yang besar. Volume perdagangan di bursa lokal seperti Pintu, Tokocrypto, dan Indodax sangat dipengaruhi oleh sentimen global.
Ketika stablecoin semakin diadopsi oleh institusi keuangan tradisional, kepercayaan terhadap aset digital secara umum dapat meningkat, yang berpotensi mendorong volume perdagangan dan minat investor Indonesia terhadap stablecoin sebagai alat lindung nilai terhadap pelemahan rupiah. Saat ini, rupiah berada di level Rp17.748 per dolar AS – area yang menunjukkan tekanan. Penggunaan stablecoin USDT dan USDC sebagai sarana hedging sudah lazim di kalangan investor ritel Indonesia. Kedua, adopsi stablecoin untuk remitansi dan pembayaran lintas batas dapat mengurangi biaya dan waktu settlement. Indonesia sebagai pengirim dan penerima remitansi terbesar di kawasan akan diuntungkan jika infrastruktur ini tersedia secara luas. Ketiga, Bank Indonesia yang tengah mengembangkan Rupiah Digital (CBDC) perlu mencermati arah regulasi global.
Keputusan Kongres AS yang melarang CBDC hingga 2030 (seperti dilaporkan dalam artikel terkait) dapat mempengaruhi posisi Indonesia dalam memilih antara CBDC atau stablecoin swasta sebagai solusi digital.
Mengapa Ini Penting
Pendanaan Trace Finance bukan sekadar kabar startup – ini mencerminkan pergeseran struktural: stablecoin mulai menjadi infrastruktur keuangan inti, bukan lagi aset pinggiran. Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang efisiensi remitansi dan hedging rupiah, namun juga menambah tekanan bagi regulator untuk segera memiliki kerangka hukum yang jelas. Tanpa kepastian regulasi, investor dan pelaku usaha berpotensi beralih ke platform asing yang tidak diawasi OJK/Bappebti, meningkatkan risiko pencucian uang dan perlindungan konsumen.
Dampak ke Bisnis
- Bursa kripto lokal (Pintu, Tokocrypto, Indodax) akan menghadapi tekanan untuk menyediakan layanan stablecoin yang patuh terhadap standar global, terutama AML/KYC. Jika tidak, mereka bisa kehilangan pangsa pasar ke platform asing yang lebih likuid atau teregulasi di luar negeri.
- Perusahaan remitansi dan fintech yang melayani pengiriman uang lintas batas (misal: Tcash, Flip, atau penyedia layanan kiriman TKI) dapat memanfaatkan infrastruktur stablecoin untuk memangkas biaya dan waktu settlement – namun harus memastikan kepatuhan terhadap aturan Bank Indonesia dan Bappebti yang masih dalam proses.
- Emiten perbankan dengan layanan treasury atau trade finance yang menggunakan mata uang asing (seperti BBCA, BMRI, BBRI) perlu mencermati apakah adopsi stablecoin akan mengubah pola permintaan dolar AS di pasar spot. Jika stablecoin menjadi alat lindung nilai yang dominan, volume transaksi USD/IDR bisa terpengaruh, mempengaruhi pendapatan fee bank.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: keputusan Treasury AS terhadap aturan AML stablecoin – jika terlalu restriktif, likuiditas stablecoin global bisa turun; jika longgar, adopsi institusional akan semakin cepat.
- Risiko yang perlu dicermati: potensi peningkatan volume perdagangan stablecoin di Indonesia tanpa kerangka regulasi yang jelas – OJK dan Bappebti bisa saja mengambil langkah pembatasan jika menganggap aktivitas tersebut mengandung risiko sistemik atau perjudian.
- Sinyal penting: pernyataan resmi Bank Indonesia mengenai Rupiah Digital dan stablecoin – apakah BI akan mengadopsi pendekatan terbuka terhadap stablecoin swasta yang diatur, atau tetap memprioritaskan CBDC seperti yang sedang diuji coba.
Konteks Indonesia
Perkembangan stablecoin global memiliki dampak langsung ke Indonesia melalui tiga jalur: (1) Pasar kripto Indonesia yang didominasi investor ritel sangat sensitif terhadap sentimen global; adopsi institusional stablecoin dapat meningkatkan kepercayaan dan volume perdagangan di bursa lokal. (2) Remitansi dan pembayaran lintas batas – Indonesia adalah salah satu penerima remitansi terbesar dunia, dan infrastruktur stablecoin berpotensi memangkas biaya dari rata-rata 5-7% menjadi mendekati nol. (3) Regulasi – dengan banyaknya negara yang telah memiliki kerangka hukum untuk stablecoin (AS, Hong Kong, Uni Eropa melalui MiCA), Indonesia menghadapi tekanan untuk segera menyelesaikan regulasi aset digital agar tidak ketinggalan dan tetap bisa menarik investasi di sektor fintech dan blockchain.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.