Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Tokenized TradFi Tumbuh 5x ke $6,6 M — Bursa Kripto Makin ke Aset Tradisional
Tren tokenisasi aset tradisional di bursa kripto menunjukkan percepatan adopsi global yang berpotensi mengubah lanskap investasi ritel Indonesia, meski urgensi jangka pendek masih moderat karena regulasi lokal belum siap.
Ringkasan Eksekutif
Berdasarkan studi CoinGecko yang dirilis Rabu lalu, kapitalisasi pasar tokenized traditional assets (logam mulia, saham AS, komoditas, indeks global, dan forex) di enam bursa kripto terpusat — Binance, OKX, Bybit, Bitget, Gate, dan MEXC — tumbuh hampir lima kali lipat dari US$1,4 miliar pada Januari 2025 menjadi US$6,6 miliar pada Juni 2026. Pertumbuhan awal didorong oleh tokenized precious metals, namun sejak pertengahan 2026, perpetual futures saham AS telah melampaui logam mulia dalam volume perdagangan dan open interest, terutama karena minat investor terhadap saham semikonduktor dan antisipasi IPO besar. Dominasi derivatif sangat mencolok: perpetual futures menyumbang hampir seluruh volume perdagangan, sementara pasar spot masih sangat kecil.
CoinGecko mencatat bahwa bursa memilih melisting kontrak perpetual karena tidak perlu menerbitkan atau mengelola underlying asset tokenized secara langsung. Ekspansi ini merupakan respons terhadap persaingan ketat dari decentralized exchange (DEX) yang menggerus pangsa pasar, serta brokerage tradisional seperti Robinhood yang kian memperluas penawaran aset digital mereka. Di sisi institusional, Standard Chartered memproyeksikan tokenisasi bisa mendorong DeFi menjadi pasar senilai US$2,7 triliun pada 2030 lewat adopsi real-world assets. Sementara Bernstein memperkirakan pasar tokenisasi secara luas bisa mencapai US$4 triliun pada akhir dekade ini. Implikasinya bagi Indonesia sangat relevan karena ekosistem kripto ritel domestik tergolong aktif dan sensitif terhadap tren global.
Peluncuran Tokenized Stocks oleh Tokocrypto pada awal Juli 2026 — yang memberikan akses ke saham global seperti SpaceX, Micron, dan Nvidia — merupakan contoh konkret adopsi tren ini di pasar lokal. Namun, kondisi makro Indonesia saat ini tidak sepenuhnya mendukung: rupiah berada di level tertekan (Rp17.994 per dolar AS dalam artikel terkait), suku bunga global masih tinggi, dan imbal hasil US Treasury 10 tahun di atas 4,4%. Faktor-faktor ini menekan aset berisiko termasuk aset digital, dan bisa membatasi minat investor ritel di tengah volatilitas. Selain itu, kerangka regulasi OJK dan Bappebti untuk aset digital masih dalam penyusunan, menciptakan ketidakpastian hukum bagi produk tokenized. Jika regulasi tidak segera memberikan kepastian, adopsi bisa terhambat meskipun permintaan global terus menguat.
Sebaliknya, jika kerangka hukum jelas, tokenized stocks berpotensi menjadi jembatan antara pasar modal konvensional dan ekosistem kripto di Indonesia, memperluas inklusi keuangan dan menarik minat investor asing.
Mengapa Ini Penting
Kenaikan lima kali lipat tokenized assets di bursa kripto global bukan sekadar tren sesaat — ini menandai konvergensi struktural antara keuangan tradisional dan infrastruktur blockchain. Bagi investor Indonesia, tokenized stocks membuka akses langsung ke saham global tanpa rekening sekuritas luar negeri, yang selama ini sulit dijangkau ritel. Namun, ketiadaan kerangka regulasi yang jelas di Indonesia bisa membuat adopsi terhambat atau justru berisiko jika terjadi sengketa kepemilikan aset. Dengan kata lain, peluang diversifikasi terbuka lebar, tetapi perlindungan hukum masih abu-abu. Siapa yang menang dalam skenario ini? Bursa kripto lokal yang first-mover seperti Tokocrypto, serta investor ritel yang melek teknologi. Siapa yang kalah? Regulator yang lambat merespons bisa kehilangan kendali atas pasar, sementara investor yang tidak paham risiko derivatif bisa terjebak dalam produk berleveras tinggi.
Dampak ke Bisnis
- Ekosistem kripto Indonesia: Exchange lokal seperti Tokocrypto, Rekeningku, dan Pintu akan terdorong untuk mengadopsi produk tokenized stocks agar tidak kehilangan pangsa pasar. Persaingan antar platform akan semakin ketat, dengan fitur perpetual futures dan akses saham global menjadi diferensiasi utama. Biaya pengembangan produk dan kepatuhan regulasi bisa meningkat, namun potensi pendapatan dari volume perdagangan baru sangat besar.
- Investor ritel Indonesia: Tokenized stocks memberikan akses ke saham blue-chip global (Nvidia, SpaceX, Micron) dengan modal kecil dan perdagangan 24 jam. Ini bisa mengubah pola alokasi portofolio investor lokal yang sebelumnya terbatas pada IHSG dan reksadana. Namun, risiko leverage dari perpetual futures dan volatilitas kripto tetap tinggi. Investor perlu diedukasi agar tidak over-leverage.
- Industri jasa keuangan tradisional: Broker saham konvensional seperti Mandiri Sekuritas atau BCA Sekuritas menghadapi tekanan untuk menyediakan produk serupa atau kehilangan nasabah muda yang lebih tertarik pada platform kripto. Bank dan manajer investasi juga perlu mempertimbangkan tokenisasi aset riil sebagai strategi distribusi produk di masa depan.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: Volume perdagangan tokenized stocks dari Tokocrypto pada Juli–Agustus 2026 — apakah ada lonjakan signifikan atau justru sepi karena sentimen risk-off global dan rupiah lemah.
- Risiko yang perlu dicermati: Sikap regulator Indonesia (OJK dan Bappebti) terhadap produk tokenized — jika melarang atau membatasi secara ketat, adopsi bisa terhenti dan exchange lokal kehilangan daya saing. Sebaliknya, jika regulator memberikan kerangka sandbox, inovasi bisa berakselerasi.
- Sinyal penting: Pergerakan Bitcoin dan indeks saham teknologi AS (Nasdaq) dalam 2 minggu ke depan — sebagai barometer risk appetite global. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas $60.000 dan saham teknologi pulih, tokenized stocks bisa menarik minat baru. Jika koreksi berlanjut, permintaan produk ini bisa menurun.
Konteks Indonesia
Tren tokenisasi aset tradisional di bursa kripto global berdampak langsung ke Indonesia melalui peluncuran Tokenized Stocks oleh Tokocrypto pada Juli 2026. Produk ini memberikan akses investor ritel Indonesia ke saham global seperti SpaceX, Micron, dan Nvidia, dengan sistem 1:1 Proof-of-Collateral. Namun, kondisi makro domestik — rupiah di Rp17.994 per dolar AS, Fed Funds rate 3,63%, dan yield US 10 tahun di 4,48% — menekan aset berisiko. Regulasi OJK dan Bappebti yang masih belum final menjadi hambatan utama. Ketidakpastian hukum bisa membuat adopsi melambat meskipun permintaan global tumbuh. Di sisi lain, basis investor kripto Indonesia yang besar dan aktif menciptakan pasar potensial yang siap menyerap produk baru ini, asalkan regulator memberikan kepastian dan perlindungan konsumen yang memadai.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.