14 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Tokenized Saham Capai US$3,3 M — Transaksi Luar Jam Bursa
Forex & Crypto

Tokenized Saham Capai US$3,3 M — Transaksi Luar Jam Bursa

Tim Redaksi Feedberry ·14 Oktober 2026 pukul 02.48 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5 Skor

Pergeseran struktural cara saham AS diperdagangkan di blockchain, tetapi transmisi ke pasar domestik masih tidak langsung dan bergantung pada kepastian regulasi OJK-Bappebti.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Nilai saham yang ditokenisasi (tokenized equities) kini menembus hampir US$3,3 miliar, tumbuh 15% dalam 30 hari terakhir menurut data RWA.xyz. Yang lebih menarik, sebagian besar aktivitasnya tidak terjadi saat Wall Street buka. Data Blockworks yang dikutip The Kobeissi Letter menunjukkan lebih dari 70% volume perdagangan saham tokenized di BNB Chain berlangsung di luar sesi bursa AS pukul 09.30–16.00 waktu Timur. Di Solana angkanya 63%, sementara di Base mendekati 60%. Platform Jupiter di jaringan Solana bahkan melaporkan kenaikan volume perdagangan aset tokenized sebesar 50% secara month-over-month. Pola ini bukan kebetulan statistik. Angka tersebut menunjukkan investor memakai saham tokenized untuk bertransaksi justru ketika bursa tradisional tutup, bukan sekadar mereplikasi aktivitas jam normal.

Artinya proposisi nilai utamanya bukan demokratisasi kepemilikan saham, melainkan perpanjangan jam perdagangan ke 24/7. Nilai pasar yang terakumulasi pun terkonsentrasi pada segelintir penerbit — Ondo Global Markets, xStocks, dan bStocks — yang tokennya diterbitkan dan diperdagangkan lintas blockchain berbeda. Konsentrasi penerbit ini menyiratkan risiko oligopoli yang jarang dibahas: bila salah satu penerbit bermasalah, likuiditas satu ekosistem bisa tertekan. Perkembangan ini berjalan seiring pembukaan pintu regulasi di Amerika Serikat. Bulan lalu, Securities and Exchange Commission (SEC) memperkenalkan "innovation exemption" yang memungkinkan venue berkualifikasi memperdagangkan saham AS terdaftar di blockchain publik. Komisioner SEC Mark Uyeda mensyaratkan venue peserta mempublikasikan data transaksi dalam dolar AS — termasuk harga transaksi, ukuran, timestamp, dan volume harian — serta mengungkap alamat dan saldo liquidity pool.

Produk lama seperti xStocks dan Ondo Global Markets umumnya tidak tersedia bagi investor AS; pengecualian ini membuka penawaran saham AS domestik di jaringan publik dengan syarat hak pemegang saham tetap terjaga dan kewajiban perdagangan serta keterbukaan dipenuhi.

Implikasi lanjutannya adalah pergeseran lanskap kompetisi. Bursa kripto dan venue onchain kini tidak hanya bersaing dengan bursa saham, tetapi juga dengan broker ritel yang selama ini menjadi gerbang tunggal akses saham AS. Kewajiban mengungkap saldo liquidity pool adalah bentuk transparansi yang selama ini ditolak bursa terpusat — dan ini bisa menjadi preseden yang menular ke yurisdiksi lain.

Mengapa Ini Penting

Fakta bahwa mayoritas transaksi terjadi di luar jam bursa menunjukkan tokenized stocks menemukan ceruk yang tidak dilayani broker tradisional — perpanjangan jam, bukan pengganti kepemilikan saham. Bila pola ini bertahan, nilai kompetitifnya bergeser dari "akses" menjadi "waktu", dan itu mengubah struktur biaya serta model bisnis bursa dan broker. Bagi pasar modal global, ini adalah uji pertama apakah kewajiban transparansi likuiditas ala SEC bisa diterapkan pada infrastruktur yang secara desain terbuka dan tanpa jam operasional.

Dampak ke Bisnis

  • Bursa kripto dan platform onchain kini bersaing langsung dengan broker ritel untuk akses saham AS. Keunggulan mereka bukan harga, melainkan jam operasional 24/7 dan ketersediaan lintas jaringan — sesuatu yang model broker konvensional sulit tiru tanpa menanggung risiko likuiditas di luar jam pasar.
  • Kewajiban SEC mengungkap alamat dan saldo liquidity pool menciptakan standar transparansi baru. Vendor market making, penyedia likuiditas, dan operator venue yang memakai skema order book tertutup berpotensi menghadapi tekanan biaya kepatuhan serupa, terutama jika regulator di Eropa dan Asia mengadopsi pendekatan ini.
  • Penerbit saham tokenized yang selama ini melayani investor non-AS — seperti xStocks dan Ondo Global Markets — menghadapi persaingan baru dari venue domestik AS yang dilindungi pengecualian SEC. Efek jangka menengah 3–6 bulan: margin penerbit lama berpotensi tergerus karena pesaing baru dapat menawarkan perlindungan hak pemegang saham yang lebih kuat.
  • Konsentrasi pasar pada segelintir penerbit menciptakan risiko sistemik yang tidak terlihat dari headline. Jika salah satu penerbit menghadapi masalah likuiditas atau hukum, ekosistem tokenized equity secara keseluruhan bisa kehilangan kepercayaan investor ritel — memicu penarikan dana yang cepat dan memukul volume bursa yang menggantungkan diri pada produk ini.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: detail teknis "innovation exemption" SEC — venue mana yang disetujui, aset apa saja yang masuk cakupan, dan apakah muncul syarat tambahan soal perlindungan pemegang saham. Ini penentu apakah model bisnis onchain bisa berjalan tanpa hambatan regulasi.
  • Risiko yang perlu dicermati: konsentrasi penerbit pada Ondo Global Markets, xStocks, dan bStocks — jika salah satu bermasalah, likuiditas satu ekosistem bisa tertekan dan menular ke platform lain yang mengandalkan token serupa.
  • Sinyal penting: keberlanjutan volume di luar jam bursa pada bulan-bulan berikutnya. Jika proporsi transaksi luar jam terus di atas 60%, itu mengonfirmasi perpanjangan jam sebagai proposisi nilai utama, bukan fenomena sesaat yang mengikuti euforia produk baru.

Konteks Indonesia

Perkembangan tokenized saham global ini relevan bagi pasar domestik melalui jalur arus modal ritel dan kerangka pengawasan aset digital yang tengah bergeser dari Bappebti ke OJK. Ekosistem kripto ritel Indonesia cukup aktif dan sensitif terhadap tren global, sehingga venue dalam negeri berpeluang mengadopsi model serupa. Jalur transmisinya jelas: ketersediaan instrumen ini memperluas alternatif investasi bagi investor ritel yang selama ini mengakses saham AS melalui broker tradisional. Namun adopsi akan bergantung pada kepastian hukum atas tokenisasi aset; tanpa kerangka yang jelas, produk semacam ini berisiko menghadapi hambatan compliance meski permintaan global menguat. Yang perlu dicermati, ekspansi instrumen lintas negara juga memperbesar kebutuhan literasi risiko, terutama soal perdagangan di luar jam pasar acuan yang dapat memunculkan selisih harga saat pembukaan kembali.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.