Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Tokenisasi aset riil tumbuh eksponensial dan mengubah infrastruktur pasar modal global. Indonesia dengan pasar kripto ritel besar dan regulasi yang belum siap menghadapi tekanan capital outflow dan kebutuhan regulasi baru.
Ringkasan Eksekutif
Pasar tokenized real-world assets (RWA) mencatat lonjakan 589% dari awal 2025 hingga Juni 2026, menurut laporan Binance Research. Sektor obligasi dan pasar uang memimpin dalam nilai dolar, tumbuh 83% dan menambah US$6,5 miliar. Saham tokenized mencatat pertumbuhan tercepat dengan kenaikan nilai pasar 422%, didorong oleh platform seperti Ondo Global Markets yang berhasil melampaui US$1 miliar total value locked (TVL) dalam delapan bulan. Logam mulia tokenized juga menarik minat, menambah US$1,5 miliar atau 39%, dengan emas tokenized sempat melampaui US$6 miliar sebelum terkoreksi seiring harga emas global turun. Artikel mencatat bahwa 2026 menjadi tahun pematangan tokenisasi RWA dari sekadar instrumen Treasury menjadi ekosistem imbal hasil yang terdiversifikasi. Faktor pendorong utama meliputi adopsi institusional yang cepat.
Platform xStocks milik Payward mencatat volume perdagangan kumulatif lebih dari US$25 miliar dalam delapan bulan — dengan tokenized shares SpaceX menjadi sorotan. Di sektor real estate, Apex Group mulai menggunakan platform aset digital Goldman Sachs untuk layanan dana. Bank-bank besar juga mulai menjajaki jaringan tokenized deposit untuk memodernisasi sistem pembayaran dan bersaing dengan stablecoin. Namun semua ini terjadi di tengah pelemahan pasar kripto secara umum: Bitcoin dan aset digital utama jatuh tajam pada awal Juni akibat ekspektasi suku bunga tinggi, ketidakpastian RUU CLARITY di AS, dan aksi jual oleh Strategy. Dampak global dari tren ini sangat luas. Tokenisasi memungkinkan perdagangan 24/7, penyelesaian instan, dan fractional ownership yang memangkas biaya perantara.
Citi memproyeksikan pasar tokenized securities bisa mencapai US$5,5 triliun pada 2030. Infrastruktur inti seperti DTCC, Nasdaq, dan NYSE mulai mengadopsi blockchain. Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi serius. Indonesia memiliki pasar kripto ritel teraktif di Asia Tenggara, namun regulasi tokenized securities dari OJK dan Bappebti belum eksplisit. Tanpa kerangka hukum yang jelas, investor Indonesia berisiko terekspos produk asing tanpa perlindungan, dan potensi capital outflow ke platform global yang menawarkan yield lebih tinggi akan meningkat — terutama di tengah tekanan rupiah yang berada di level 18.166 per dolar AS (berdasarkan data pasar terkini) dan suku bunga global yang masih tinggi.
Mengapa Ini Penting
Perkembangan ini bukan sekadar tren kripto, melainkan transformasi infrastruktur pasar modal global. Tokenisasi mengubah cara aset keuangan diterbitkan, diperdagangkan, dan diselesaikan — dengan implikasi langsung pada daya saing sistem keuangan Indonesia. Tanpa respons regulasi yang cepat, Indonesia berisiko kehilangan momentum inovasi dan mengalami capital outflow ke platform global yang lebih canggih, sementara investor ritel lokal terekspos produk asing tanpa perlindungan memadai.
Dampak ke Bisnis
- Pasar kripto Indonesia yang sangat aktif (salah satu volume perdagangan tertinggi di Asia Tenggara) akan merasakan dampak langsung: tokenized assets dapat menjadi produk baru bagi exchange lokal, namun juga meningkatkan persaingan dengan platform global seperti Bybit yang menawarkan tokenized IPO SpaceX. Exchange lokal perlu berinovasi atau berisiko kehilangan pangsa pasar.
- Regulator Indonesia (OJK, Bappebti, dan BI) menghadapi tekanan untuk menyusun kerangka hukum tokenized securities dan tokenized deposits. Tanpa regulasi yang jelas, institusi keuangan domestik seperti bank BUMN dan manajer investasi tidak bisa meluncurkan produk tokenized, sementara investor akan mencari yield di luar negeri — menambah tekanan pada rupiah dan sistem perbankan.
- Perbankan Indonesia dan manajer investasi bisa memanfaatkan teknologi tokenisasi untuk menerbitkan produk reksa dana tokenized atau obligasi digital, memperluas akses investor ritel ke instrumen yang sebelumnya hanya untuk institusi. Namun hal ini membutuhkan investasi infrastruktur, kepatuhan, dan interoperabilitas dengan sistem existing — yang baru akan terasa dalam 3-6 bulan ke depan jika regulasi segera dirilis.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: respons regulator Indonesia — apakah OJK atau Bappebti mengeluarkan pernyataan atau rancangan aturan baru tentang tokenized securities dalam 1-4 minggu ke depan. Ini akan menjadi sinyal awal apakah Indonesia siap mengadopsi atau justru membatasi.
- Risiko yang perlu dicermati: potensi capital outflow ke platform tokenized global — jika rupiah terus melemah (USD/IDR di 18.166) dan suku bunga global tetap tinggi, investor Indonesia mungkin semakin tertarik pada produk tokenized berdenominasi dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, memperburuk tekanan pada neraca pembayaran.
- Sinyal penting: adopsi oleh institusi keuangan global besar seperti BlackRock — jika mereka meluncurkan produk tokenized fund yang bisa diakses investor ritel global, sentimen di pasar kripto Indonesia bisa terangkat, dan pressure pada regulator untuk menyesuaikan diri semakin kuat.
Konteks Indonesia
Indonesia memiliki pasar kripto ritel teraktif di Asia Tenggara, namun regulasi tokenized securities dari OJK dan Bappebti belum eksplisit. Perkembangan global ini menekan regulator untuk segera menyusun kerangka hukum. Tanpa regulasi yang jelas, investor Indonesia berisiko terekspos produk asing tanpa perlindungan, dan potensi capital outflow ke platform tokenized global yang menawarkan yield lebih tinggi akan meningkat — terutama di tengah tekanan rupiah yang melemah ke level 18.166 per dolar AS (berdasarkan data terkini) dan suku bunga global yang masih tinggi. Di sisi lain, bank BUMN dan manajer investasi Indonesia bisa memanfaatkan teknologi ini untuk menerbitkan produk reksa dana tokenized atau obligasi digital, memperluas akses investor ritel. Namun langkah tersebut membutuhkan investasi infrastruktur dan kepatuhan yang tidak kecil.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.