17 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Tokenisasi dan Stablecoin: Likuiditas Jadi Tantangan
Forex & Crypto

Tokenisasi dan Stablecoin: Likuiditas Jadi Tantangan

Tim Redaksi Feedberry ·16 Oktober 2026 pukul 17.27 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5.3 Skor

Ringkasan konferensi industri yang menandai pergeseran struktural tokenisasi dan stablecoin — dampak langsung ke pasar terbatas, tetapi arah jangka menengahnya menyentuh sistem pembayaran dan pasar modal.

Urgensi
4
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Cointelegraph menggelar CONNECT di Singapura, mempertemukan pendiri Web3, investor, dan eksekutif industri dalam sejumlah panel yang membahas tokenisasi, pembayaran stablecoin, infrastruktur perdagangan onchain, hingga exit modal ventura. Benang merahnya jelas: teknologi blockchain sudah cukup matang, tetapi likuiditas dan pengalaman pengguna justru menjadi hambatan berikutnya. Alex Taaffe menyoroti ketidakseimbangan pasokan dan permintaan pada aset dunia nyata (RWA) yang ditokenisasi. Pasokan melimpah — hampir setiap manajer aset ingin melakukan pembentukan modal secara onchain — namun permintaan belum mengejar. Persoalan bertambah karena makin banyak penerbit dan blockchain memecah likuiditas ke kolam-kolam terpisah. Lingling Jiang dari DWF Labs menegaskan fragmentasi ini masih menjadi tantangan, terutama ketika penerbit berbeda menokenisasi aset dasar yang sama namun membangun kolam likuiditas sendiri.

Meski begitu, ia menilai likuiditas kripto sudah membaik signifikan dibanding beberapa tahun lalu. Di sisi stablecoin, Mike Silagadze dari ether.fi menilai kemudahan transfer lintas batas belum otomatis mendorong adopsi. Contohnya Singapura: konsumen bisa memegang USDC tetapi tetap butuh mata uang lokal untuk membayar tagihan. Inilah jurang antara infrastruktur pembayaran blockchain dan layanan keuangan harian. Yvonne Chia dari USDD menekankan pengalaman pengguna sebagai faktor penentu, sementara Ashna Vaghela dari Mercuryo menginginkan pembayaran stablecoin sesederhana Apple Pay. Ilya Podoynitsyn dari FinHarbor menambahkan hambatan regulasi: aturan yang berbeda di tiap yurisdiksi memaksa penyedia menyesuaikan infrastruktur dan sistem kepatuhan per pasar. Momentum tokenisasi juga terlihat dari lompatan saham Securitize lebih dari 10% setelah meluncurkan ekuitas AS yang ditokenisasi di Solana.

Yang tidak terlihat dari headline ini adalah pergeseran pusat gravitasi nilai. Ketika pasokan aset tertokenisasi melimpah tetapi likuiditas terpecah, pemenangnya bukan penerbit aset, melainkan pemain infrastruktur: agregator likuiditas, penyedia kepatuhan lintas yurisdiksi, kustodian, dan jaringan pembayaran yang mampu menjembatani stablecoin ke mata uang lokal. Penerbit yang hanya menumpuk pasokan tanpa permintaan berisiko terjebak di kolam yang tipis. Bagi perbankan dan penyedia kartu, stablecoin yang menyatu ke point of sale menjadi ancaman sekaligus peluang — pihak yang menguasai rel fiat lokal justru memegang kunci adopsi. Bagi Indonesia, jalur transmisinya bersifat struktural dan bertahap. Adopsi stablecoin untuk pembayaran lintas batas berpotensi menekan biaya remitansi dan mengubah lanskap jasa pembayaran, sedangkan tokenisasi aset dapat mengguncang infrastruktur pasar modal dalam jangka menengah.

Otoritas seperti Bappebti dan OJK menghadapi tuntutan menyesuaikan kerangka regulasi aset digital, sejalan dengan pengembangan Rupiah Digital oleh BI.

Dalam jangka pendek, sentimen pasar aset digital tetap menjadi barometer risk appetite global yang memengaruhi arus modal ke pasar domestik. IHSG berada di level 5.185 dan rupiah di Rp17.943 per dolar AS — level yang mencerminkan tekanan risk-off yang sedang berlangsung.

Mengapa Ini Penting

Kemenangan dalam gelombang tokenisasi tidak akan jatuh ke tangan penerbit aset, melainkan ke pemilik infrastruktur likuiditas dan kepatuhan lintas yurisdiksi. Fragmentasi membuat skala menjadi penentu — pemain yang mampu menyatukan kolam likuiditas sekaligus menjembatani stablecoin ke mata uang lokal akan memungut nilai ekonomi terbesar. Bagi Indonesia, implikasi strukturalnya terletak pada sistem pembayaran dan pasar modal, bukan pada pergerakan harga kripto harian.

Dampak ke Bisnis

  • Penerbit aset dan manajer investasi yang berbondong menokenisasi aset menghadapi risiko likuiditas tipis — pasokan melimpah tanpa permintaan memadai menekan spread dan memperlambat eksekusi. Beban penyediaan likuiditas ini merembet ke kustodian dan bursa yang harus menutup celah tersebut.
  • Bank, penyedia kartu, dan dompet digital menghadapi pergeseran posisi: stablecoin yang menyatu ke point of sale menjadi ancaman sekaligus peluang, dan pihak yang menguasai rel fiat lokal memegang tawar paling kuat dalam menentukan adopsi.
  • Dampak yang baru terasa dalam tiga hingga enam bulan ke depan: penyedia jasa pembayaran lintas batas dan remitansi berpotensi menghadapi tekanan biaya kompetitif, sementara kecepatan regulator merespons aset tertokenisasi akan menentukan siapa yang boleh beroperasi di pasar mana.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: konsolidasi kolam likuiditas tokenisasi — jika penerbit mulai menggabungkan pool, itu tanda pasar menuju kematangan; jika fragmentasi berlanjut, adopsi institusional tertunda.
  • Risiko yang perlu dicermati: keragaman aturan lintas yurisdiksi — penyedia yang gagal menyesuaikan kepatuhan per pasar berisiko keluar dari wilayah tertentu, memengaruhi ketersediaan layanan di kawasan termasuk Indonesia.
  • Sinyal penting: meluasnya penerbitan ekuitas tertokenisasi — indikator awal tekanan struktural pada model perantara pasar modal konvensional.

Konteks Indonesia

Adopsi stablecoin untuk pembayaran lintas batas berpotensi menekan biaya remitansi dan mengubah lanskap jasa pembayaran di Indonesia, sementara tokenisasi aset dunia nyata dapat mengguncang infrastruktur pasar modal dalam jangka menengah. Pengembangan Rupiah Digital oleh BI serta penyesuaian kerangka regulasi aset digital oleh Bappebti dan OJK menjadi jalur domestik yang menentukan seberapa cepat perkembangan ini merembes ke sistem keuangan nasional. Sentimen pasar aset digital global tetap menjadi barometer risk appetite yang memengaruhi arus modal ke pasar domestik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.