2 JUN 2026
The Mall: Aplikasi Universal Feed Belanja Online — Konsep Baru bagi E-commerce Global

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / The Mall: Aplikasi Universal Feed Belanja Online — Konsep Baru bagi E-commerce Global
Teknologi

The Mall: Aplikasi Universal Feed Belanja Online — Konsep Baru bagi E-commerce Global

Tim Redaksi Feedberry ·1 Juni 2026 pukul 17.50 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
4.3 Skor

Startup AS luncurkan aplikasi agregator belanja lintas merek; meski belum masuk Indonesia, konsepnya relevan dengan tantangan konsumen dan peluang bagi ekosistem e-commerce domestik.

Urgensi
3
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

The Mall, sebuah startup asal Amerika Serikat yang didirikan pada Oktober 2025, meluncurkan aplikasi yang memungkinkan pengguna membuat feed personal dari merek favorit mereka, melacak diskon, peluncuran produk, dan menemukan barang dari ribuan retailer. Aplikasi ini menggunakan teknologi scraping untuk mengumpulkan katalog produk dan informasi harga dari situs e-commerce, serta memanfaatkan large language models (LLM) untuk melabeli data yang masuk. Pada peluncurannya, database The Mall mencakup lebih dari 10.000 merek, dan pengguna dapat menambahkan merek lain hanya dengan membagikan akun Instagram atau TikTok merek tersebut — startup kemudian akan menentukan apakah ada situs e-commerce yang cocok dan menambahkan katalognya. Ketika pengguna ingin membeli, aplikasi membuka halaman browser di dalam aplikasi yang mengarah ke situs web merek untuk menyelesaikan transaksi.

Latar belakang pendiri menunjukkan kejelian terhadap masalah konsumen modern. Co-founder dan COO Ellie Konsker memiliki pengalaman di Tom Ford dan Carla Otto, serta sebelumnya mendirikan marketplace fesyen berkelanjutan. Di sana ia melihat konsumen harus membuka 20 tab sekaligus, mendaftar newsletter, dan berusaha melacak merek secara real-time — sebuah proses yang membuat belanja menjadi frustrasi. Bersama co-founder dan CEO Shreya Halder, lulusan ilmu komputer Stanford, mereka membangun The Mall dengan visi menciptakan database universal untuk fesyen dan belanja, mirip dengan Spotify untuk musik atau Goodreads untuk buku. Mereka memilih jalur scraping sebagai pengganti kemitraan resmi atau API, karena dianggap lebih cepat dan komprehensif. Dampak dari model ini berlapis.

Bagi konsumen, The Mall menawarkan pengalaman belanja yang terpadu di tengah fragmentasi toko online. Bagi merek, aplikasi ini bisa menjadi saluran distribusi baru tanpa perlu integrasi teknis — tetapi juga menimbulkan risiko tergantung pada legalitas scraping. Di Indonesia, ekosistem e-commerce didominasi oleh platform marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada yang menyediakan pengalaman all-in-one. Konsumen Indonesia sudah terbiasa dengan pencarian, perbandingan harga, dan pembayaran dalam satu aplikasi. The Mall menawarkan pendekatan berbeda: tidak menjual langsung, melainkan mengarahkan ke toko masing-masing merek. Ini bisa menguntungkan merek global yang ingin mempertahankan kontrol penuh atas toko online mereka sekaligus menjangkau konsumen baru. Namun, untuk merek lokal UMKM, aplikasi ini kurang relevan karena mayoritas belum memiliki situs e-commerce mandiri.

Mengapa Ini Penting

Konsep The Mall dapat menjadi blueprint bagi inovasi e-commerce di Indonesia, terutama dalam menyatukan pengalaman belanja lintas merek di tengah fragmentasi platform. Jika model ini terbukti berkelanjutan secara bisnis dan hukum, ia bisa mendorong lahirnya startup serupa yang memanfaatkan data publik dari ribuan brand untuk memberikan kontrol lebih kepada konsumen atas pengalaman belanja mereka. Di sisi lain, praktik scraping yang menjadi inti operasional The Mall menghadapi tantangan legal dan etika yang sama di Indonesia, terutama setelah berlakunya UU PDP yang mengatur penggunaan data pribadi.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi marketplace Indonesia (Shopee, Tokopedia): Jika aplikasi agregator seperti The Mall masuk ke Indonesia, mereka bisa kehilangan sebagian lalu lintas karena konsumen langsung menuju ke situs merek. Namun, The Mall saat ini hanya mencakup merek global, sehingga dampak langsung terhadap ekosistem UMKM di marketplace masih terbatas.
  • Bagi brand fashion dan lifestyle terutama yang sudah memiliki situs e-commerce mandiri: Mereka mendapatkan kanal baru untuk visibilitas tanpa harus membayar komisi tinggi ke marketplace. Ini dapat menurunkan ketergantungan pada platform besar dan memperkuat direct-to-consumer (D2C) strategy.
  • Bagi konsumen Indonesia: Potensi kemudahan dalam melacak promo dan peluncuran produk dari merek favorit, terutama di segmen premium yang tersebar di banyak situs terpisah. Namun, adopsi akan bergantung pada preferensi konsumen yang sudah terbiasa dengan kemudahan one-stop-shop di marketplace.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: Ekspansi The Mall ke Asia atau kemitraan dengan penyedia logistik global — indikasi konkret masuknya ke Indonesia atau setidaknya peluncuran versi untuk kawasan Asia Tenggara.
  • Risiko yang perlu dicermati: Potensi gugatan hukum dari retailer besar atas praktik scraping — jika terjadi putusan pengadilan yang membatasi scraping, hal itu akan menjadi preseden yang memengaruhi semua platform serupa, termasuk yang mungkin muncul di Indonesia.
  • Sinyal penting: Munculnya startup agregator belanja di Indonesia yang mengadopsi model serupa — bisa menjadi inovasi disruptif bagi struktur pasar e-commerce saat ini. Perhatikan juga apakah investor lokal tertarik mendanai model ini.

Konteks Indonesia

Meskipun The Mall belum beroperasi di Indonesia, model bisnisnya mencerminkan kebutuhan konsumen Indonesia yang juga mengalami fragmentasi belanja online, terutama di segmen merek global dan premium. Dengan penetrasi internet dan e-commerce yang tinggi (data internal menunjukkan pengguna aktif belanja online terus bertambah), Indonesia merupakan pasar potensial bagi aplikasi semacam ini. Namun, dominasi platform marketplace dan preferensi konsumen terhadap pengalaman all-in-one menjadi hambatan adopsi. Selain itu, regulasi perlindungan data pribadi yang baru berlaku dapat memengaruhi legalitas scraping — praktik inti The Mall. Oleh karena itu, perkembangan regulasi dan respons pelaku industri lokal akan menentukan relevansi model ini di Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.