Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Terobosan DLE di AS mempercepat komersialisasi lithium dari geothermal brine, berpotensi mengubah peta pasokan global; Indonesia sebagai produsen nikel dan calon produsen lithium harus mencermati dampak pada daya saing hilirisasi baterai nasional.
- Jenis Aksi
- ekspansi
- Timeline
- Setelah demonstrasi sukses pada 2026, BHE Renewables berencana membangun pabrik komersial di Imperial County (tanpa jadwal spesifik).
- Alasan Strategis
- Mengamankan pasokan lithium kemurnian tinggi untuk mendukung elektrifikasi dan penyimpanan energi yang andal, serta mengomersialkan portofolio teknologi DLE.
- Pihak Terlibat
- TerraLithium (Occidental)BHE Renewables (Berkshire Hathaway)
Ringkasan Eksekutif
TerraLithium (anak usaha Occidental) dan BHE Renewables (grup Berkshire Hathaway) mengumumkan kemajuan signifikan dalam teknologi Direct Lithium Extraction (DLE) di kompleks geothermal California, AS. Mereka berhasil memproduksi lithium klorida dari air panas bumi, lalu mengonversinya menjadi lithium karbonat baterai-grade dan langsung mengubahnya menjadi lithium hidroksida melalui elektrolizer skala komersial. Capaian ini memvalidasi bahwa portofolio DLE TerraLithium dapat menghasilkan senyawa lithium kemurnian tinggi sesuai standar pemrosesan komersial. Kedua perusahaan tergabung dalam joint venture yang dibentuk tahun 2024 untuk mengomersialkan teknologi tersebut. Setelah demonstrasi sukses, BHE Renewables berencana membangun, memiliki, dan mengoperasikan fasilitas produksi lithium komersial di Imperial County. Terobosan ini menjadi signifikan karena DLE dianggap lebih ramah lingkungan dan lebih cepat daripada penambangan konvensional atau evaporasi brine.
Bagi Indonesia, berita ini merupakan sinyal ganda: di satu sisi menunjukkan bahwa alternatif pasokan lithium global semakin beragam dan kompetitif, yang bisa menekan harga lithium dan mengurangi urgensi pengembangan lithium domestik; di sisi lain, Indonesia memiliki potensi geothermal yang sangat besar (sekitar 40% cadangan dunia) dan telah mulai mengeksplorasi lithium dari brine panas bumi melalui kerja sama dengan perusahaan seperti Pertamina Geothermal Energy dan pihak asing. Keberhasilan TerraLithium dan BHE Renewables membuktikan bahwa DLE secara teknis dan ekonomis layak, membuka peluang bagi Indonesia untuk mengadopsi atau berkolaborasi dalam teknologi serupa guna mempercepat produksi lithium lokal. Namun, tanpa investasi dan kebijakan yang tepat, Indonesia berisiko tertinggal dalam rantai pasok baterai global yang semakin terintegrasi.
Ke depan, pemerintah dan pelaku industri perlu mencermati roadmap komersialisasi TerraLithium serta respons negara produsen lithium lain, karena perkembangan ini dapat menggeser keseimbangan pasokan dan harga lithium dunia dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Mengapa Ini Penting
Berita ini mempertegas bahwa teknologi DLE telah meninggalkan fase laboratorium dan mendekati skala komersial. Jika TerraLithium dan BHE berhasil membangun pabrik komersial dalam waktu dekat, mereka akan menjadi pemain baru yang signifikan di pasar lithium AS, mengurangi ketergantungan pada China dan memperkuat rantai pasok baterai domestik AS. Bagi Indonesia, ini menjadi alarm karena negara-negara maju semakin mandiri dalam bahan baku baterai, sehingga permintaan terhadap nikel dan lithium Indonesia di masa depan mungkin tidak sebesar proyeksi awal. Indonesia yang mengandalkan hilirisasi nikel dan berambisi memproduksi lithium dari geothermal harus mempercepat riset, investasi, dan kemitraan teknologi agar tidak menjadi penonton dalam ekosistem baterai global.
Dampak ke Bisnis
- Potensi penurunan harga lithium global dalam 2-3 tahun ke depan akibat tambahan pasokan dari proyek DLE komersial di AS dan negara lain. Ini dapat menekan margin proyek lithium Indonesia jika biaya produksinya lebih tinggi, namun juga bisa menarik investasi pengolahan lithium hilir yang lebih murah.
- Emiten geothermal Indonesia seperti Pertamina Geothermal Energy (PGEO) dan Medco Power berpeluang menjajaki teknologi DLE untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya panas bumi. Namun, mereka harus bersaing dengan pemain global yang sudah unggul dalam penguasaan teknologi. Kemitraan atau lisensi teknologi akan menjadi kunci.
- Perusahaan baterai dan kendaraan listrik yang berinvestasi di Indonesia (contoh: LG, CATL, Foxconn, Hyundai) akan memonitor perkembangan ini. Jika sumber lithium AS lebih murah dan stabil secara geopolitik, mereka bisa mengalihkan sebagian pengadaan lithium ke AS, mengurangi kebutuhan akan pengembangan lithium di Indonesia.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pengumuman lebih lanjut dari TerraLithium dan BHE Renewables mengenai jadwal dan skala pabrik komersial di Imperial County. Jika konstruksi dimulai dalam 12 bulan, itu akan menjadi ancaman nyata bagi proyek lithium global lainnya.
- Risiko yang perlu dicermati: kebijakan AS yang mendorong onshoring rantai pasok baterai (Inflation Reduction Act). Subsidi produksi lithium lokal di AS dapat menekan biaya lebih rendah dari proyek di Indonesia yang masih bergantung pada impor peralatan dan teknologi.
- Sinyal penting: respons Pertamina dan Kementerian ESDM terhadap berita ini — apakah akan mengumumkan akselerasi studi DLE di Indonesia, menjalin kemitraan baru, atau justru mengindikasikan pergeseran prioritas ke hilirisasi nikel yang sudah matang.
Konteks Indonesia
Indonesia memiliki sumber daya lithium dari brine geothermal yang diperkirakan melimpah, terutama di daerah panas bumi seperti Jawa Barat, Sumatera, dan Sulawesi. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Pertamina telah melakukan studi awal untuk mengekstraksi lithium dari geothermal. Keberhasilan TerraLithium/BHE membuktikan bahwa DLE dapat bekerja secara teknis dan ekonomis, sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengadopsi atau melisensi teknologi serupa. Namun, kemajuan cepat di AS juga menandakan bahwa persaingan dalam penyediaan lithium global semakin ketat; Indonesia harus bertindak cepat agar tidak kehilangan momentum. Di sisi lain, jika harga lithium global turun akibat pasokan baru, proyek lithium Indonesia yang masih dalam tahap sangat awal bisa kehilangan daya tarik investasi. Oleh karena itu, pemerintah perlu merumuskan strategi yang kredibel, termasuk insentif fiskal, kemitraan teknologi, dan kepastian regulasi, untuk memastikan Indonesia tetap menjadi pemain dalam rantai pasok baterai global.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.