25 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Kebijakan / Tar-Nikotin Rokok Belum Final, Kemenkes: Masih Dibahas
Kebijakan

Tar-Nikotin Rokok Belum Final, Kemenkes: Masih Dibahas

Tim Redaksi Feedberry ·24 Oktober 2026 pukul 23.16 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Kontan ↗
5.7 Skor

Belum ada keputusan final, tetapi angka ambang 10 mg tar dan 1 mg nikotin menentukan kelayakan produk seluruh industri hasil tembakau, menyeret petani, tenaga kerja, dan basis penerimaan cukai.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Aturan turunan PP Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan — pembatasan kadar tar dan nikotin serta larangan zat tambahan pada produk tembakau
Penerbit
Kementerian Kesehatan (koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan)
Perubahan Kunci
  • ·Usulan batas maksimal kadar tar 10 miligram dan nikotin 1 miligram per jenis produk
  • ·Larangan zat tambahan pada produk tembakau
  • ·Perumusan batas kadar yang dibedakan menurut jenis produk, dengan mempertimbangkan karakteristik produk dan kesiapan industri
  • ·Pembahasan pasal telah rampung, tetapi sejumlah substansi masih memerlukan pendalaman dan penyelarasan lintas kementerian dan lembaga
Pihak Terdampak
Industri hasil tembakau nasional, termasuk produsen rokok kretekPetani tembakau dan daerah sentra produksiKementerian dan lembaga yang tergabung dalam pembahasan lintas sektorAkademisi dan masyarakat sipil yang memberikan masukanKonsumen produk tembakau

Ringkasan Eksekutif

Kementerian Kesehatan memastikan aturan turunan PP Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan — khususnya pembatasan kadar tar dan nikotin serta larangan zat tambahan pada produk tembakau — belum final. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyatakan besaran batas kadar dan rumusan ketentuannya masih memerlukan pembahasan lebih lanjut, dalam pernyataan Jumat (23/10/2026). Pembahasan dikoordinasikan Kemenko PMK bersama kementerian dan lembaga lain, dengan draf yang telah melewati konsultasi publik kini masuk forum pleno lintas sektor untuk merumuskan usulan batas per jenis produk. Pernyataan itu merespons keberatan industri hasil tembakau terhadap usulan ambang maksimal tar 10 miligram dan nikotin 1 miligram, yang dinilai kalangan industri tidak realistis bagi rokok kretek nasional. Status belum final itu sendiri adalah informasi pasar.

Pasal-pasalnya sudah rampung dibahas, tetapi sejumlah substansi masih memerlukan pendalaman dan penyelarasan, dan jadwal penetapan belum dapat dipastikan. Yang tertunda bukan penulisan norma, melainkan keputusan atas angka ambang — dan angka itulah yang menentukan produk mana yang tetap boleh diproduksi. Kemenkes menyatakan penetapan batas kadar harus mempertimbangkan karakteristik produk dan kesiapan industri, tanpa mengesampingkan tujuan perlindungan kesehatan masyarakat serta dasar ilmiah kebijakan. Tekanan politik atas ambang tersebut sudah terbukti efektif sekali: unjuk rasa petani tembakau di kantor Kemenko PMK pada Juli lalu berujung pada kesepakatan menunda pembahasan batas maksimal kadar. Artinya, ruang negosiasi industri tidak tertutup, dan arah kebijakan masih dapat bergerak menjauh dari draf awal. Dampaknya menjalar jauh melampaui pabrikan.

Produsen rokok kretek menghadapi ketidakpastian dalam reformulasi produk, belanja modal lini produksi, dan perencanaan portofolio — keputusan yang biasanya diambil dalam siklus tahunan, bukan mingguan. Ketidakpastian yang berlarut menahan investasi dan membuat biaya kepatuhan sulit dianggarkan. Petani tembakau dan daerah sentra produksi berada di ujung rantai yang sama: perubahan ambang kadar mengubah komposisi bahan baku yang diserap, dan penundaan berarti ketidakpastian harga kontrak musim berikutnya. Yang luput dari headline adalah kaitannya dengan fiskal. Cukai hasil tembakau adalah salah satu penopang penerimaan negara; bila ambang baru mempersempit portofolio produk, basis cukai ikut bergeser — dan itu terjadi justru ketika pemerintah mengejar target penerimaan.

Konteks biaya juga tidak membantu industri: rupiah berada di 18.050 per dolar AS, sehingga komponen impor dan energi dalam struktur biaya produksi relatif mahal, mempersempit ruang menyerap biaya reformulasi tanpa menaikkan harga jual.

Mengapa Ini Penting

Inti persoalan bukan sehat atau tidak sehat, melainkan bahwa ambang teknis 10 mg tar dan 1 mg nikotin bekerja sebagai definisi ulang arsitektur produk, bukan sekadar standar mutu. Selama angka itu belum ditetapkan, seluruh ekosistem — pabrikan, petani, hingga perencana penerimaan cukai — beroperasi tanpa parameter. Yang lebih penting, preseden Juli memperlihatkan bahwa aturan turunan PP 28/2024 dapat digeser jadwalnya oleh tekanan lapangan; itu menjadikan setiap pasal lain dalam rangkaian PP yang sama rentan terhadap pola yang sama, dan menurunkan bobot komitmen jadwal regulator di mata pelaku usaha.

Dampak ke Bisnis

  • Produsen rokok kretek menahan keputusan reformulasi produk dan belanja modal lini produksi sampai ambang kadar pasti — semakin lama tertunda, semakin besar biaya penyesuaian yang harus dikejar dalam waktu sempit ketika aturan terbit.
  • Petani tembakau dan ekonomi daerah sentra produksi terpapar lewat komposisi serapan bahan baku; penundaan memperpanjang ketidakpastian harga kontrak dan pola tanam musim berikutnya, sementara larangan zat tambahan berpotensi mengubah preferensi rasa yang selama ini menopang permintaan segmen tertentu.
  • Yang paling luput: kaitan ke penerimaan cukai dan ke produsen bahan baku non-tembakau. Ambang kadar yang lebih ketat mempersempit portofolio produk dan menggeser basis cukai, sementara pemasok yang selama ini memasok komponen tertentu ke industri rokok kehilangan volume tanpa pernah disebut dalam perdebatan.
  • Efek yang baru terasa dalam 3–6 bulan: biaya kepatuhan dan pengujian laboratorium untuk membuktikan kadar tar dan nikotin per varian, yang secara proporsional lebih memberatkan pemain dengan portofolio lebar dibanding pemain dengan sedikit varian.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil forum pleno lintas sektor yang dikoordinasikan Kemenko PMK — apakah usulan 10 mg tar dan 1 mg nikotin dipertahankan, dilunakkan, atau dibedakan per jenis produk; ini penentu langsung kelayakan portofolio industri.
  • Risiko yang perlu dicermati: tidak adanya jadwal penetapan yang pasti — tanpa tenggat, status quo berlanjut dan pelaku usaha menunda penyesuaian, sehingga begitu aturan terbit biaya kepatuhan harus dikejar sekaligus dalam waktu pendek.
  • Sinyal penting: respons ekosistem pertembakauan, termasuk petani dan asosiasi industri — pola Juli menunjukkan tekanan lapangan mampu mengubah urutan prioritas kebijakan, sehingga intensitas respons menjadi penanda arah akhir ambang kadar.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.