7 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Kebijakan / Tambang Diminta Tangani Karhutla Kalteng, 9.000 Ha Gambut
Kebijakan

Tambang Diminta Tangani Karhutla Kalteng, 9.000 Ha Gambut

Tim Redaksi Feedberry ·6 November 2026 pukul 20.36 WIB · Sumber: Katadata ↗
6.7 Skor

Peran spesifik korporasi tambang belum dirumuskan, tetapi arahnya jelas: memindahkan beban restorasi gambut ke neraca perusahaan, bersamaan dengan tekanan kepatuhan lingkungan dari jalur dagang dan legislasi domestik.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Kementerian Koordinator Bidang Pangan melibatkan unit usaha pertambangan di Kalimantan Tengah untuk menangani kebakaran hutan dan lahan, dengan fokus Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas. Arahan itu disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq dalam rapat pemantauan dan evaluasi penanggulangan karhutla pada KSPEAN Kalimantan Tengah, Jumat (6/11). Luas area yang menjadi fokus penanganan lebih dari 9.000 hektare. Bentuk konkret keterlibatan tambang belum ada — detailnya baru akan dirumuskan setelah pertemuan perdana. Sebelumnya, kementerian yang sama telah menggandeng unit usaha perkebunan dan kehutanan di wilayah tersebut. Karakater medan menjelaskan mengapa sektor tambang yang dipilih.

Pulang Pisau didominasi lahan gambut berfungsi lindung dengan kedalaman rata-rata melebihi 3 meter, dan kondisinya tertekan akibat pembukaan lahan pada era 90-an sehingga tanah tidak lagi mampu menyerap dan menahan air. Pada gambut dalam yang sudah rusak, pemadaman bukan soal mematikan api permukaan, melainkan menjaga kelembapan lapisan bawah agar tidak menyala kembali. Hanif menyebut area itu harus terus dibasahi. Pekerjaan semacam ini menuntut pompa berkapasitas besar, penataan kanal, dan mobilitas alat berat di medan lunak — kapabilitas yang memang dimiliki operasi tambang, bukan armada pemadam konvensional. Pembagian beban antar sektor sudah terbentuk. Wilayah Talawang Raya seluas 362 hektare dan Sabaru seluas 312 hektare, total hampir 670-680 hektare, ditangani GAPKI dan APHI.

Artinya porsi terbesar — area fokus di atas 9.000 hektare — diarahkan ke pemegang konsesi tambang. Di sinilah substansi ekonominya: biaya restorasi gambut berpotensi berpindah dari anggaran negara ke biaya operasional korporasi, tanpa kerangka pembiayaan atau dasar kewajiban yang jelas. Dengan posisi rupiah di 18.004 per dolar AS dan Brent di US$97,76, pengoperasian alat berat, pompa, dan logistik lapangan masuk kategori mahal. Emiten batu bara dengan konsesi di Kalimantan Tengah menanggungnya paling langsung, disusul rantai pasok sawit dan pulp yang lahannya bersinggungan dengan area terbakar. Kalteng dalam artikel ini disebut sebagai sentra swasembada pangan, energi, dan air.

Framing itu mengubah karhutla dari bencana daerah menjadi risiko terhadap agenda ketahanan pangan dan energi nasional — dan menjelaskan mengapa koordinasi dilakukan Kemenko Pangan, bukan hanya BNPB. Tekanan kepatuhan bergerak berlapis: amandemen undang-undang kabut asap lintas batas di Singapura dan kajian perampasan aset untuk pelaku karhutla di Komisi III DPR berjalan seiring, sehingga biaya kepatuhan tidak berhenti pada alat berat di lapangan.

Mengapa Ini Penting

Ini bukan sekadar imbauan gotong royong, melainkan pergeseran pembiayaan restorasi gambut dari kas negara ke kas perusahaan — tanpa payung kewajiban, tarif kompensasi, atau mekanisme pemulihan biaya. Yang paling terasa: pemegang konsesi di Kalimantan Tengah kini menghadapi pengeluaran operasional baru yang tidak masuk perencanaan modal, pada saat biaya bahan bakar dan logistik sedang tidak ringan. Ada ironi struktural yang jarang disebut: sektor yang diminta memperbaiki hidrologi gambut adalah sektor yang model operasinya bergantung pada pengelolaan kanal dan drainase. Bila tidak dibingkai sebagai program restorasi bersama yang terukur, permintaan ini berisiko berhenti sebagai beban kepatuhan tanpa hasil ekologis.

Dampak ke Bisnis

  • Pemegang konsesi tambang di Kalimantan Tengah — terutama batu bara — menghadapi permintaan penyediaan pompa, alat berat, dan personel untuk pembasahan gambut di area di luar konsesi mereka, dengan biaya bahan bakar yang ditentukan pergerakan Brent dan kurs.
  • Rantai pasok sawit dan pulp yang lahannya berdekatan dengan area terbakar menanggung dampak tidak langsung: gangguan jadwal angkut tandan buah segar dan tambahan biaya logistik, meski secara formal porsi penanganan mereka lebih kecil melalui GAPKI dan APHI.
  • Kontraktor alat berat, penyedia pompa, dan jasa logistik darat berpotensi mencatat permintaan baru, tetapi sifatnya musiman dan bergantung pada kesepakatan yang belum dirumuskan — sehingga kecil kemungkinan masuk proyeksi pendapatan tahunan.
  • Dalam 3-6 bulan ke depan, eksposur yang paling sering terlewat adalah sisi pembiayaan: bank dan pembeli global lazimnya meminta bukti tindakan sebelum legislasi selesai, sehingga biaya kepatuhan menetap lebih lama daripada musim kabut asapnya sendiri.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil pertemuan perdana Kemenko Pangan dengan asosiasi tambang — status keterlibatan menentukan apakah ini biaya sukarela atau kewajiban yang mengikat secara operasional.
  • Risiko yang perlu dicermati: area fokus di atas 9.000 hektare jauh lebih luas dari porsi yang sudah ditangani GAPKI dan APHI; bila serah terima tanggung jawab tidak diikuti kapasitas alat, penanganan berisiko tertunda hingga musim kering berikutnya.
  • Sinyal penting: perkembangan jalur hukum — amandemen undang-undang kabut asap lintas batas di Singapura dan kajian perampasan aset di Komisi III DPR; keduanya bergerak lebih lambat dari tekanan komersial, tetapi menentukan besaran biaya kepatuhan jangka panjang.
  • Perhatikan: pergerakan IHSG di 5.050 dan AALI di 9.450 — sejauh ini pasar belum memberi premi risiko atas isu karhutla, sehingga perubahan sikap pelaku pasar akan menjadi penanda bahwa cerita ini bergeser dari lingkungan ke produksi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.