26 SEP 2026
← Kembali
Beranda / Teknologi / Synthesia Bikin Avatar AI Jurnalis — Valuasi US$4 Miliar
Teknologi

Synthesia Bikin Avatar AI Jurnalis — Valuasi US$4 Miliar

Tim Redaksi Feedberry ·26 September 2026 pukul 14.00 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
4.7 Skor

Bukan krisis atau kebijakan, tapi menandai pergeseran model adopsi AI ke pelatihan korporat dan komunikasi — dampak ke Indonesia bersifat tidak langsung dan bertahap.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Synthesia, startup pembuat video berbasis AI asal Inggris yang kini berkantor di New York, memamerkan produk avatar digital interaktifnya dengan cara yang jarang dilakukan perusahaan teknologi: membuat avatar digital dari seorang jurnalis TechCrunch, lengkap dengan wajah dan suaranya. Perusahaan ini mencatat valuasi US$4 miliar pada tahun ini, setelah menyatakan pendapatan berulang tahunan (ARR) menembus US$100 juta pada tahun sebelumnya. Avatar tersebut dibangun dari kombinasi model voice-to-text, video, language, dan text-to-voice, dan hanya dilatih untuk menjawab pertanyaan seputar satu artikel investigasi — sebuah pembatasan lingkup yang penting untuk dipahami sebelum menilai klaim kemampuan produk semacam ini. Konteks kompetitifnya menjelaskan arah industri.

Synthesia bersaing dengan D-ID, HeyGen, dan Colossyan di segmen yang sama, tetapi posisi produknya bergeser dari sekadar video presentasi ke alat kerja korporat. Produk Roleplay Sessions memungkinkan karyawan berlatih, misalnya, presentasi penjualan dengan avatar AI interaktif yang menanggapi dan menilai respons mereka. Di sinilah nilai ekonominya terletak: pelatihan berskala besar yang sebelumnya menuntut instruktur, ruang, dan jadwal kini dapat diproduksi sekali dan direplikasi tanpa batas. Proses pembuatan avatar itu sendiri relatif ringan — sesi foto di studio mini dan rekaman suara sekitar dua menit — dengan persetujuan eksplisit dari subjek sebagai prasyarat. Artinya, hambatan teknis untuk menggandakan penampilan seseorang sudah turun ke level yang bisa dijangkau perusahaan menengah, bukan hanya korporasi besar. Implikasinya menyebar ke beberapa arah.

Pertama, anggaran pelatihan dan pengembangan (L&D) serta komunikasi internal korporasi berpotensi berpindah dari vendor produksi video konvensional ke platform berbasis AI — menekan agensi produksi, rumah produksi materi pelatihan, dan talent presenter lepas. Kedua, fungsi kehumasan dan pelatihan tenaga penjualan menjadi pintu masuk adopsi AI yang lebih mudah diterima dibanding penggunaan untuk konten publik, karena risikonya terbatas di lingkungan internal. Ketiga, muncul beban baru yang sering luput: hak atas citra dan suara, masa berlaku persetujuan, serta penyimpanan data biometrik karyawan. Di Indonesia, korporasi besar dan lembaga dengan pelatihan berskala masif — termasuk perbankan dan BUMN — adalah kandidat adopsi paling awal karena volume pesertanya besar dan materi pelatihannya relatif repetitif.

Namun, tingkat adopsi domestik masih sangat bergantung pada kesiapan tata kelola data pribadi dan kapasitas infrastruktur digital, sehingga dampaknya tidak serta-merta terasa dalam waktu dekat.

Mengapa Ini Penting

Yang berubah bukan sekadar kemampuan membuat video, melainkan bergesernya AI avatar dari alat pemasaran menjadi infrastruktur pelatihan korporat — sebuah anggaran yang dimiliki hampir setiap perusahaan besar dan relatif tahan terhadap pemotongan biaya. Pemenangnya adalah pemilik platform model dan korporasi dengan kebutuhan pelatihan masif; yang tertekan adalah rantai pasok produksi video konvensional, agensi, dan tenaga presenter lepas. Bagi Indonesia, pertaruhannya ada pada siapa yang menguasai lapisan teknologi dan siapa yang hanya menjadi pengguna — pola yang sudah berulang di sektor digital lain.

Dampak ke Bisnis

  • Vendor produksi video korporat, agensi kreatif, dan penyedia jasa pelatihan tatap muka menghadapi risiko pergeseran anggaran, karena materi pelatihan yang tadinya diproduksi ulang per batch dapat direplikasi dari satu aset digital tanpa biaya marginal berarti.
  • Fungsi SDM, L&D, dan komunikasi internal menjadi titik masuk adopsi paling realistis — bukan karena teknologinya lebih matang, tetapi karena risiko reputasinya terkendali di lingkungan tertutup. Ini menjelaskan mengapa produk seperti Roleplay Sessions lebih cepat diterima ketimbang avatar untuk siaran publik.
  • Dampak yang baru terasa dalam 3–6 bulan ke depan: biaya kepatuhan. Persetujuan penggunaan wajah dan suara karyawan, masa berlaku izin, penyimpanan data biometrik, serta kewajiban penghapusan aset saat karyawan keluar menciptakan beban hukum baru yang belum familiar bagi sebagian besar perusahaan Indonesia.
  • Pihak yang tidak disebut artikel namun terdampak: penyedia jasa alih daya pelatihan, penerjemah dan penulis skrip materi internal, serta perusahaan teknologi lokal yang menyediakan layanan serupa dengan harga lebih rendah — mereka bersaing pada harga dan konteks lokal, bukan pada kecanggihan model.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman ekspansi komersial Synthesia ke Asia Tenggara atau kemitraan distribusi regional — penanda paling awal produk ini mulai masuk ke perusahaan Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: kesiapan tata kelola data biometrik di perusahaan yang mengadopsi lebih cepat dari kesiapan kebijakannya — persetujuan karyawan yang tidak spesifik dan penyimpanan aset digital tanpa aturan penghapusan berpotensi menjadi sengketa hak citra.
  • Sinyal penting: pengumuman adopsi oleh korporasi atau perbankan Indonesia untuk pelatihan internal — jika muncul, ini menandai bahwa anggaran pelatihan domestik mulai berpindah kanal, bukan sekadar uji coba.
  • Yang perlu diawasi: pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS — biaya berlangganan platform asing berbasis dolar langsung membengkak saat rupiah melemah, sehingga keputusan adopsi teknologi jenis ini makin sensitif terhadap kurs.

Konteks Indonesia

Synthesia adalah perusahaan Inggris-Amerika, sehingga dampak langsungnya ke Indonesia terbatas pada adopsi korporat, bukan peristiwa ekonomi domestik. Relevansinya berjalan lewat dua jalur. Pertama, jalur anggaran: bila produk avatar AI untuk pelatihan diadopsi korporasi Indonesia, sebagian belanja jasa produksi video, pelatihan, dan konten internal berpotensi berpindah ke langganan platform berbasis dolar AS — membebani neraca jasa dan memperbesar ketergantungan pada penyedia asing, terutama saat kurs rupiah berada dalam tekanan. Kedua, jalur tenaga kerja: adopsi AI pada fungsi pelatihan dan komunikasi internal menyentuh pekerja kerah putih — instruktur, penulis skrip, editor video, dan presenter — meski skala dan kecepatannya di Indonesia belum dapat disimpulkan dari sumber ini karena data sektoral domestik tidak tersedia. Peluang bagi pelaku lokal terletak pada lapisan konteks: materi berbahasa Indonesia, kesesuaian budaya, dan pemenuhan kewajiban perlindungan data pribadi. Tanpa kesiapan tata kelola data biometrik, percepatan adopsi justru memperbesar risiko hukum bagi perusahaan yang bergerak lebih dulu.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.