7 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Strive Beli 15.124 BTC, Laba US$509 Juta dari Gain Akuntansi
Forex & Crypto

Strive Beli 15.124 BTC, Laba US$509 Juta dari Gain Akuntansi

Tim Redaksi Feedberry ·7 November 2026 pukul 01.22 WIB · Sumber: Cointelegraph ↗
4.7 Skor

Bukan guncangan sistemik, tetapi membuka lapisan risiko pada model treasury Bitcoin korporasi — laba bertumpu pada gain valuasi dan pembiayaan memakai saham preferen berdividen 15%, sementara sahamnya sendiri sudah turun 32,15% dalam sebulan.

Urgensi
5
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Strive membeli 15.124 Bitcoin sepanjang Oktober, membawa total kepemilikannya menjadi 43.124 BTC. Pada periode yang sama, perseroan melaporkan laba bersih US$509 juta untuk kuartal ketiga. Angka itu sebagian besar berasal dari keuntungan belum terealisasi atas kepemilikan Bitcoin senilai US$533,7 juta — laba tersebut bertumpu pada penyesuaian valuasi, bukan arus kas operasi. Pendanaan akuisisi datang dari penerbitan saham preferen perpetual SATS pada Oktober yang menghimpun sekitar US$609 juta bersih, dengan tingkat dividen tahunan 15%. Perseroan belum menetapkan berapa porsi hasil penerbitan itu yang akan dialokasikan ke pembelian Bitcoin. Struktur pembiayaan itulah inti persoalannya, bukan besar-kecilnya angka pembelian.

Menerbitkan instrumen berbunga 15% untuk membeli aset tanpa arus kas menciptakan ambang batas yang harus dilampaui: apresiasi Bitcoin mesti melebihi biaya modal tersebut agar transaksi bersifat akretif bagi pemegang saham. Ketika harga bergerak datar atau menurun, beban dividen tetap berjalan sementara nilai aset menyesuaikan ke bawah. Pasar tampak sudah membaca lapisan itu. Saham Strive (ASST) turun 1,97% ke US$20,19 pada perdagangan Jumat pagi, memperpanjang pelemahan sebulan terakhir menjadi 32,15%. Dengan kata lain, perseroan memperbesar eksposur justru ketika valuasi ekuitasnya sendiri sedang dikoreksi — kombinasi yang secara mekanis menaikkan biaya modal di setiap penerbitan berikutnya. Posisi Strive tidak berdiri sendiri. Sepanjang tahun ini, pembeli korporasi berfungsi sebagai permintaan yang relatif tidak sensitif harga dan menopang pasar Bitcoin.

Kini penopang itu mengendur: Strategy Inc tercatat hanya membeli ratusan BTC dalam dua pekan berturut-turut di pertengahan Oktober, jauh dari laju pembelian mingguan yang sempat melampaui 20.000 BTC pada awal tahun, sementara ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat membukukan arus keluar bersih sekitar US$515 juta sepanjang Oktober. Di saat bersamaan, laba American Bitcoin senilai US$126 juta hampir seluruhnya berasal dari keuntungan nonkas atas kepemilikan Bitcoin, bukan dari operasi penambangan. Pola yang berulang di tiga entitas berbeda ini menunjukkan satu hal: laporan keuangan emiten treasury Bitcoin sedang mencerminkan harga aset, bukan kualitas bisnis. Ambisi Strive melangkah lebih jauh dari sekadar menimbun koin.

Perseroan menyatakan sedang mengevaluasi peluang di perbankan, pialang, keuangan terdesentralisasi, reasuransi, dan tokenisasi sebagai bagian dari strategi memanfaatkan neraca keuangannya. Rencana itu belum disertai target waktu maupun rincian. Jika terealisasi, Strive tidak lagi menjadi pemegang Bitcoin, melainkan calon konglomerat jasa keuangan yang landasan modalnya bergerak mengikuti harga satu aset volatil — profil risiko yang berbeda sama sekali dari institusi keuangan konvensional.

Mengapa Ini Penting

Model treasury Bitcoin selama ini dinilai pasar sebagai cara cerdas mengekspos diri ke aset digital lewat ekuitas. Angka Strive memperlihatkan sisi lain: laba kuartalan bisa dibentuk oleh keuntungan valuasi, sementara biaya modal riil dibayar tunai lewat kupon 15%. Selisih antara keduanya menentukan apakah pemegang saham mendapat nilai tambah atau justru menanggung dilusi yang mahal — dan selisih itu baru terlihat jelas saat harga aset berhenti naik.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten treasury Bitcoin kini punya tiga sumber tekanan sekaligus: beban dividen saham preferen yang tetap, laba yang bergantung pada penyesuaian valuasi, dan valuasi ekuitas yang terkoreksi. Bagi pemegang saham, urutan risikonya berbalik — dari sebelumnya mengejar eksposur Bitcoin, kini menanggung struktur permodalan yang tidak lentur ketika harga aset melemah.
  • Penopang permintaan yang selama ini tidak sensitif harga sedang menyusut. Melambatnya laju pembelian korporasi dan arus keluar ETF menghapus sebagian pembeli yang biasanya menyerap pasokan tanpa melihat grafik. Implikasinya bukan pada satu emiten, melainkan pada kedalaman likuiditas pasar Bitcoin secara keseluruhan.
  • Rencana ekspansi ke perbankan, pialang, reasuransi, dan tokenisasi memperluas kompetisi di ranah jasa keuangan digital. Bagi pasar domestik, arah tokenisasi aset yang sedang dievaluasi korporasi global ini bersinggungan langsung dengan kerangka regulasi aset digital yang tengah disiapkan otoritas, dan dengan rencana pengembangan infrastruktur pembayaran digital nasional.
  • Dampak yang baru terasa dalam tiga sampai enam bulan: jika sejumlah emiten treasury terpaksa menghentikan atau memperlambat akumulasi karena biaya modal naik, sebagian permintaan struktural yang selama ini menopang pasar akan hilang, dan itu mengubah lanskap likuiditas bagi seluruh pelaku, termasuk exchange lokal yang pendapatannya berbasis volume.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: alokasi dana SATS ke Bitcoin — tanpa keterangan resmi soal porsinya, pasar belum bisa menilai apakah model bisnis berjalan sesuai janji atau justru menahan kas untuk menutup beban dividen.
  • Risiko yang perlu dicermati: keberlanjutan pelemahan saham ASST — jika koreksi berlanjut, penerbitan saham preferen berikutnya menuntut kupon lebih tinggi, dan biaya modal yang membengkak mempersempit ruang akumulasi.
  • Sinyal penting: laju pembelian korporasi lain dan arus dana ETF — keduanya penanda apakah permintaan yang tidak sensitif harga masih menopang pasar atau sudah berganti tangan ke investor yang jauh lebih peka terhadap pergerakan harga.

Konteks Indonesia

Jalur transmisi ke pasar domestik berjalan lewat selera risiko investor ritel aset digital dan pendapatan exchange lokal yang berbasis volume transaksi. Ketika pembeli korporasi global mengendur dan harga bergerak di sekitar level penentu, aktivitas perdagangan di platform domestik biasanya menyusut lebih dulu sebelum terlihat pada laporan keuangan penyedia jasa aset digital. Pada saat yang sama, IHSG berada di 5.050 setelah naik 2,66% dan rupiah tercatat di Rp18.004 per dolar AS — kombinasi dolar mahal dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di 4,9% membuat daya tarik aset tanpa arus kas menurun, sehingga basis investor ritel kripto domestik menjadi yang paling rentan terhadap perubahan sentimen. Rencana korporasi global ini mengevaluasi tokenisasi juga bersinggungan dengan arah pengembangan aset digital yang diatur otoritas domestik, khususnya kesiapan infrastruktur dan kerangka kepatuhan bagi penerbitan aset terdigitalisasi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.