Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
STRC Diskon 13% Perlambat Pembelian Bitcoin Strategy — Risiko Flywheel Terhenti
Diskon STRC menekan mekanisme pendanaan utama Strategy; jika berlanjut dapat memicu gelombang jual Bitcoin global yang merembet ke sentimen risk-off Indonesia dan pasar kripto ritel domestik.
Ringkasan Eksekutif
Instrumen saham preferen Strategy (STRC) jatuh ke rekor terendah $82,53 sebelum ditutup di $88,59 pada Kamis, jauh di bawah nilai par $100. Diskon 13% ini mempersulit Strategy untuk menerbitkan saham baru guna mendanai pembelian Bitcoin, yang merupakan inti dari model bisnis 'flywheel' mereka. Sejak peluncuran STRC pada Juli 2025, harga Bitcoin telah turun lebih dari 40%, menjadikan instrumen ini kurang menarik bagi investor. Dampaknya langsung terlihat: pembelian Bitcoin mingguan Strategy menyusut drastis dari puncaknya pada April 2026 (34.164 BTC senilai $2,54 miliar dalam sepekan) menjadi hanya sekitar 1.550–1.587 BTC per minggu pada Juni, dengan nilai masing-masing sekitar $100 juta.
Bahkan, pada awal Juni, Strategy terpaksa menjual 32 BTC senilai sekitar $2,5 juta untuk menutupi kewajiban dividen STRC — sebuah langkah kecil namun simbolis bahwa tekanan likuiditas mulai menggerogoti cadangan Bitcoin mereka.
Langkah ini memicu kembali kritik dari pengamat seperti Peter Schiff yang menyebut model ini sebagai 'skema Ponzi terpusat klasik,' serta keraguan dari trader kripto DonAlt yang mempertanyakan mengapa STRC 'diperdagangkan seperti Ponzi.' Meski pembelian Bitcoin masih berlangsung, kecepatan dan efisiensi mesin pendanaan utama Strategy kini dipertanyakan. Jika diskon STRC melebar lebih lanjut, Strategy bisa kehilangan akses ke sumber modal murah dan terpaksa menjual lebih banyak Bitcoin untuk membiayai dividen, yang berpotensi menekan harga Bitcoin lebih dalam. Bagi Indonesia, berita ini menjadi sinyal peringatan dini. Pasar kripto Indonesia yang didominasi investor ritel — dengan volume perdagangan signifikan di exchange lokal seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu — sangat sensitif terhadap pergerakan harga Bitcoin.
Saat ini IHSG sedang berada di level 6.177 dan rupiah di Rp17.821 per dolar AS. Jika tekanan jual Bitcoin berlanjut dan menembus level psikologis $60.000, potensi margin call massal di bursa kripto Indonesia meningkat, yang dapat memicu capital outflow lebih besar dari aset berisiko termasuk saham teknologi seperti GOTO dan BUKA. Dari sisi makro, pelemahan Bitcoin seringkali diikuti oleh risk-off global yang memperkuat tekanan keluar modal dari emerging market. Dengan defisit APBN yang sudah melebar di awal tahun dan yield SBN yang tertekan, sentimen negatif dari kripto dapat memperburuk kondisi yang sudah rapuh.
Investor dan pelaku bisnis Indonesia perlu memantau level $59.000 pada Bitcoin — area dengan konsentrasi posisi long senilai $4 miliar yang jika ditembus dapat memicu likuidasi berantai dan mempercepat koreksi ke bawah $50.000.
Mengapa Ini Penting
Strategi pendanaan Strategy (d/h MicroStrategy) selama ini menjadi motor utama akumulasi Bitcoin institusional global. Jika model ini terhenti atau berbalik menjadi tekanan jual, itu bukan hanya soal satu perusahaan — tapi bisa mengubah struktur permintaan Bitcoin secara fundamental. Bagi Indonesia, korelasi antara kripto dan aset berisiko lainnya berarti tekanan ini akan merambat ke IHSG, rupiah, dan saham teknologi yang sudah tertekan. Pelaku pasar domestik tidak bisa mengabaikan dinamika ini karena arus modal global sangat terintegrasi.
Dampak ke Bisnis
- Penurunan pembelian Bitcoin oleh Strategy mengurangi inflow permintaan besar di pasar kripto, yang secara tidak langsung menekan sentimen risk-on global. Hal ini berpotensi memperkuat capital outflow dari saham-saham teknologi di IHSG, khususnya GOTO dan BUKA, yang valuasinya sudah tertekan dan rentan terhadap aksi jual asing.
- STRC yang diperdagangkan di bawah par membuat biaya pendanaan Strategy menjadi lebih mahal. Jika perusahaan terpaksa menjual Bitcoin lebih banyak untuk memenuhi kewajiban dividen, hal itu dapat menambah tekanan jual di pasar spot Bitcoin dan mempercepat koreksi harga.
- Di Indonesia, investor ritel kripto yang aktif di exchange lokal akan menghadapi risiko margin call jika Bitcoin terus melemah. Exchange seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu berpotensi mengalami lonjakan permintaan penarikan dana atau aksi jual panik, yang dapat mengganggu likuiditas pasar domestik.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pergerakan harga STRC dalam seminggu ke depan — jika terus berada di bawah $85, kemungkinan Strategy mengumumkan perubahan struktur dividen atau penghentian sementara penerbitan saham baru, yang akan menjadi sinyal bahwa flywheel benar-benar macet.
- Risiko yang perlu dicermati: level $59.000 pada Bitcoin — area dengan konsentrasi posisi long senilai $4 miliar. Jika tembus, likuidasi berantai dapat mendorong Bitcoin ke $50.000-$55.000, yang akan memicu gelombang risk-off global dan memperkuat tekanan jual di IHSG dan SBN.
- Sinyal penting: data arus ETF Bitcoin spot AS mingguan. Jika outflow terus berlanjut (sudah mencapai $6,4 miliar dalam 30 hari), itu mengonfirmasi bahwa tekanan jual institusional belum mereda dan koreksi Bitcoin belum selesai.
Konteks Indonesia
Pasar kripto Indonesia memiliki basis investor ritel yang besar dan aktif. Jika Bitcoin melemah ke bawah $60.000, tekanan margin call di exchange lokal seperti Tokocrypto dan Indodax dapat meningkat signifikan. Selain itu, sentimen risk-off dari kripto seringkali merembet ke IHSG dan rupiah. Dengan IHSG saat ini di level 6.177 dan rupiah di Rp17.821 per dolar AS, tekanan tambahan dari koreksi Bitcoin dapat memperburuk capital outflow yang sudah terjadi, terutama di saham teknologi dan perbankan yang banyak dimiliki asing.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.