17 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Stablecoin Pangkas Biaya Remitansi 84% — Tekan Operator
Forex & Crypto

Stablecoin Pangkas Biaya Remitansi 84% — Tekan Operator

Tim Redaksi Feedberry ·17 Oktober 2026 pukul 00.21 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

Selisih biaya remitansi hingga 84% mengancam margin operator pengiriman uang konvensional dan memperkuat posisi stablecoin sebagai alat pembayaran, dengan jalur langsung ke koridor remitansi dan regulasi aset digital Indonesia.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Transfer dana lintas negara melalui stablecoin menelan biaya 84% lebih murah dibandingkan remitansi konvensional. Data Borderless.xyz menunjukkan pengiriman remitansi senilai US$200 lewat rel pembayaran berbasis stablecoin hanya memakan biaya median 1%, atau US$2, sementara jalur remitansi tradisional mencapai 6,36%, atau US$12,72, mengacu pada data Bank Dunia. Perbandingan ini menggunakan harga Borderless kuartal ketiga 2026 dan angka Bank Dunia dari periode yang sama pada 2025. Selisih itu menegaskan stablecoin sebagai salah satu kasus penggunaan paling matang dari dolar digital di tengah pertumbuhan aktivitas pembayaran. Penghematan menyerupai itu juga muncul di pasar berkembang. Di Afrika Sub-Sahara, remitansi berbasis stablecoin berbiaya 2,9% berbanding 8,46% untuk transfer tradisional. Di Amerika Latin, biayanya 1,25% dan 5,64%.

Untuk pembayaran bisnis, transfer US$10.000 ke zona euro via stablecoin hanya US$26 melalui penyedia berbiaya terendah, dibandingkan US$52 di penyedia median. Sebagai bandingan, wire transfer bank internasional tradisional menelan US$135 hingga US$150 untuk nominal yang sama, termasuk biaya transfer dan asumsi margin valuta asing 1%. Dari sisi kecepatan, pembayaran berbasis stablecoin dapat mencapai rekening bank lokal penerima dalam hitungan menit. Jaringan PIX Brasil mencatat penyelesaian median dua menit, SPEI Meksiko tiga menit, dan PSE Kolombia dua menit. Transfer SWIFT tradisional umumnya baru tuntas pada hari kerja berikutnya, dengan 10% paling lambat memakan tiga hari kerja. Namun tingkat penyelesaian bervariasi: SPEI Meksiko 98,6%, PIX Brasil 97,8%, PSE Kolombia 79%, dan SINPE Kosta Rika hanya 73%.

Dampak terbesarnya mengarah ke industri yang jarang dibahas dalam narasi stablecoin: operator remitansi, bank koresponden, dan jaringan agen pengiriman uang. Model bisnis mereka bertumpu pada selisih kurs dan biaya layanan, bukan teknologi. Ketika biaya dan waktu penyelesaian lintas negara dipangkas, sumber margin lama itu menyusut dan persaingan bergeser ke kedalaman jaringan koresponden serta kecepatan konversi ke mata uang lokal. Pihak yang diuntungkan justru dompet digital dan bursa aset kripto lokal yang bisa menambah volume bila stablecoin berdenominasi dolar makin lazim dipakai menerima kiriman. Bagi Indonesia, jalur transmisinya berjalan lewat dua pintu. Pertama, koridor remitansi — kanal pengiriman uang yang lebih murah berpotensi menaikkan nilai bersih yang diterima rumah tangga penerima, tetapi menekan bisnis pengiriman uang konvensional.

Kedua, kerangka regulasi aset digital yang tengah berpindah dari Bappebti ke OJK. Di tengah kurs USD/IDR di 17.943 dan IHSG di 5.185, insentif memegang dolar digital tetap besar, sehingga kemudahan memegang dolar digital membuka jalur bagi simpanan domestik untuk berpindah ke instrumen dolar.

Mengapa Ini Penting

Penghematan biaya hingga 84% pada remitansi bukan sekadar efisiensi teknis, melainkan guncangan pada sumber margin utama operator pengiriman uang, bank koresponden, dan jaringan agen yang selama ini bertumpu pada selisih kurs dan biaya layanan. Pemenangnya adalah dompet digital dan bursa aset kripto lokal yang bisa menambah volume; pecundangnya adalah pemain mapan dengan struktur biaya lebih tinggi. Yang lebih struktural: stablecoin bergeser dari alat simpan dana menjadi alat pembayaran, dan pergeseran itu langsung menyentuh desain kebijakan pembayaran serta pajak di dalam negeri.

Dampak ke Bisnis

  • Operator remitansi, bank koresponden, dan jaringan agen pengiriman uang menghadapi erosi margin. Model bisnis mereka bertumpu pada selisih kurs dan biaya layanan, bukan teknologi, sehingga selisih biaya hingga 84% memukul langsung sumber pendapatan utama — terutama di koridor pasar berkembang tempat selisih biayanya paling lebar.
  • Dompet digital dan bursa aset kripto lokal berpotensi memperoleh tambahan volume bila stablecoin berdenominasi dolar makin lazim dipakai menerima kiriman. Sektor ini tidak disebut dalam laporan, tetapi terhubung langsung ke arus remitansi dan struktur biaya pengiriman uang.
  • Tekanan jangka menengah datang dari sisi makro. Kemudahan memegang dolar digital membuka jalur bagi simpanan domestik untuk berpindah ke instrumen dolar, terutama saat kurs USD/IDR berada di level tinggi. Efek ini baru terasa bila adopsi koridor Asia Tenggara meluas dan berpotensi menggerus basis dana pihak ketiga perbankan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: apakah penyedia infrastruktur stablecoin global mulai menyasar koridor remitansi Asia Tenggara — masuknya koridor ini menjadi sinyal bahwa tekanan kompetitif akan terasa langsung pada industri pengiriman uang domestik.
  • Risiko yang perlu dicermati: perpindahan simpanan domestik ke instrumen dolar digital — jika kurs USD/IDR bertahan tinggi, insentif memegang stablecoin berdenominasi dolar meningkat dan berpotensi menggerus dana pihak ketiga perbankan.
  • Sinyal penting: arah kebijakan OJK dan Bappebti soal stablecoin, kustodi aset digital, dan pelaporan transaksi — preseden regulasi internasional menentukan desain lisensi dan tata kelola domestik jangka menengah.

Konteks Indonesia

Indonesia termasuk penerima remitansi besar di kawasan, sehingga kanal pengiriman uang yang lebih murah berpotensi menaikkan nilai bersih yang diterima rumah tangga penerima sekaligus menekan operator pengiriman uang konvensional. Jalur kedua berjalan lewat kerangka regulasi aset digital yang tengah berpindah dari Bappebti ke OJK. Di tengah kurs USD/IDR di 17.943, kemudahan memegang dolar digital membuka jalur bagi simpanan domestik untuk berpindah ke instrumen dolar, sementara Brent di US$109,59 menambah tekanan biaya impor energi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.