Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
SRUK menjadi fondasi tata kelola karbon nasional yang dapat mempercepat perdagangan kredit dan menarik investasi hijau; dampak lintas sektor luas namun implementasi masih perlu dikawal.
- Nama Regulasi
- Sistem Registri Unit Karbon (SRUK)
- Penerbit
- Pemerintah Indonesia (melalui kementerian terkait)
- Berlaku Sejak
- 2026-07-09
- Perubahan Kunci
-
- ·Memberikan opsi kepada pemilik proyek karbon untuk menggunakan registri internasional (VERRA, Gold Standard, Plan Vivo) atau nasional (SRN-PPI).
- ·Mekanisme pencatatan unik untuk setiap unit karbon guna menghindari double counting dan double registration.
- ·Menghubungkan pencatatan karbon dengan Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon).
- Pihak Terdampak
- Pengembang proyek karbon (kehutanan, energi, perkebunan)Pembeli kredit karbon (perusahaan multinasional, maskapai penerbangan)Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon)Kementerian Kehutanan dan kementerian terkait lainnya
Ringkasan Eksekutif
Pemerintah resmi meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) pada 9 Juli 2026, sebuah langkah strategis untuk menata perdagangan karbon Indonesia. Direktur Eksekutif The Reform Initiatives, Hadi Prayitno, menyambut baik kebijakan yang memberikan opsi kepada pemilik proyek karbon untuk memilih registrasi internasional (seperti VERRA, Gold Standard, Plan Vivo) maupun nasional (SRN-PPI). Fleksibilitas ini dinilai realistis karena tidak memaksakan satu sistem tunggal, yang sebelumnya dikhawatirkan dapat menghambat pengembangan proyek. SRUK berfungsi memantau estimasi unit karbon sejak pendaftaran, verifikasi, hingga penetapan sebagai kredit karbon. Tujuan utamanya: menghindari perhitungan ganda (double counting), pencatatan ganda, dan menghubungkan dengan Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon).
Hadi mengingatkan agar SRUK tidak memperpanjang rantai birokrasi dan lebih profesional jika dikelola oleh badan independen, misalnya Badan Otoritas Nilai Ekonomi Karbon yang melekat pada OJK dan bursa karbon. Sektor kehutanan menjadi andalan utama, dengan potensi kredit karbon terbesar dari hutan mineral, gambut, dan mangrove. Peran Menteri Kehutanan dinilai signifikan dalam perdagangan karbon sektor ini. Peluncuran SRUK menjadi tonggak penting bagi integritas pasar karbon Indonesia di mata internasional. Dengan adanya unique identifier yang dapat dilacak, risiko klaim ganda yang selama ini menghantui pembeli kredit dapat ditekan. Bagi pemilik proyek, kejelasan sistem registrasi memberikan kepastian hukum dan transparansi harga, yang diharapkan mendorong lebih banyak proyek hijau untuk didaftarkan.
Dari sisi fiskal, pasar karbon yang kredibel berpotensi menjadi sumber pendapatan negara alternatif melalui pajak karbon dan fee transaksi. Namun, efektivitas SRUK sangat tergantung pada adopsi pelaku pasar dan pengakuan dari skema internasional seperti CORSIA. Hadi menekankan pentingnya pengelolaan independen untuk memperkuat tata kelola dan kepercayaan investor.
Dalam jangka pendek, sinyal
Mengapa Ini Penting
SRUK bukan sekadar sistem pencatatan; ia adalah fondasi kredibilitas pasar karbon Indonesia. Dengan mencegah double counting, Indonesia mengirim sinyal kuat ke pasar global bahwa kredit karbonnya dapat dipercaya. Hal ini berpotensi membuka pintu investasi hijau skala besar, terutama dari perusahaan multinasional yang mengejar target net-zero. Di sisi lain, keberhasilan SRUK akan menentukan apakah Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam perdagangan karbon global, atau justru ketinggalan karena kompleksitas birokrasi.
Dampak ke Bisnis
- Fleksibilitas penggunaan registri internasional atau nasional memberi kepastian bagi pengembang proyek karbon di sektor kehutanan, energi, dan perkebunan. Mereka tidak perlu memindahkan proyek yang sudah terdaftar di VERRA atau Gold Standard, sehingga kelangsungan proyek terjaga.
- Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon) akan diuntungkan karena SRUK menjadi jembatan antara pasar domestik dan internasional. Dengan data yang transparan dan dapat dilacak, volume transaksi di bursa berpotensi meningkat signifikan, menguntungkan emiten yang terlibat di sektor energi terbarukan dan konservasi.
- Lembaga keuangan dan investor institusi yang selama ini ragu membeli kredit karbon Indonesia karena risiko double counting kini memiliki sistem verifikasi yang kredibel. Ini bisa memicu arus modal baru ke proyek-proyek hijau, namun efektivitasnya tergantung pada kesiapan metodologi dan pengakuan standar internasional.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: volume kredit karbon yang terdaftar dan di-retire di SRUK dalam 1-2 bulan ke depan – jika ada lonjakan, itu menandakan kepercayaan pasar mulai terbangun.
- Risiko yang perlu dicermati: kemungkinan birokrasi tambahan akibat dualisme registrasi – jika pengembang merasa lebih rumit, mereka bisa beralih ke sistem internasional sepenuhnya, mengurangi efektivitas SRUK.
- Sinyal penting: pengakuan SRUK oleh skema internasional seperti CORSIA dan standar Verra – jika diakui, nilai kredit karbon Indonesia bisa naik; jika tidak, daya saing harga akan tertekan.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.