Ekspansi belum final, tetapi menyentuh pasokan tembaga global yang terhubung ke ekspor Freeport Indonesia dan Amman Mineral serta permintaan AI.
- Komoditas
- Tembaga
- Proyeksi Harga
- BloombergNEF memproyeksikan kekurangan pasokan tembaga mulai 2028 dan melebar hingga 2050; arah harga bergantung pada realisasi ekspansi tambang dan permintaan AI.
- Faktor Supply
-
- ·Kadar bijih menurun di tambang Peru Southern Copper
- ·Keterbatasan sumber daya, perizinan panjang, dan biaya pengembangan tambang baru
- ·Ketegangan geopolitik mengganggu pasokan logam global
- ·Ekspansi Cuajone belum memiliki keputusan investasi final atau jadwal
- Faktor Demand
-
- ·Permintaan listrik dari AI meningkatkan kebutuhan tembaga
- ·Kebutuhan investasi tambang baru US$332 miliar untuk menghindari kekurangan pasokan mulai 2028
- ·Defisit global diproyeksikan melebar menjadi 3 juta ton pada 2035 dan 20 juta ton pada 2050
Ringkasan Eksekutif
Southern Copper mengevaluasi ekspansi tambang Cuajone di Peru senilai US$680 juta. Usulan itu akan menaikkan kapasitas pengolahan bijih 33%, dari 90.000 menjadi 120.000 ton per hari, dengan proyeksi produksi rata-rata tahunan 55.000 ton tembaga dan 1.400 ton molibdenum. Perusahaan juga mengkaji opsi tambahan hingga 150.000 ton per hari. Sampai sekarang belum ada keputusan investasi final maupun jadwal, sehingga kontribusi proyek terhadap pasokan masa depan masih belum pasti. Angka itu penting karena muncul di tengah tekanan pasokan: produksi tembaga Southern Copper turun 2,9% menjadi 693.602 ton pada sembilan bulan pertama 2026 akibat kadar bijih yang lebih rendah di tambang Peru. Cuajone sendiri memproduksi hampir 163.000 ton tembaga halus pada 2025. Di tingkat industri, sinyal kelangkaan pasokan semakin jelas.
BloombergNEF memperkirakan kebutuhan investasi tambang baru US$332 miliar untuk menghindari kekurangan pasokan yang berpotensi mulai 2028. Defisit diperkirakan melebar menjadi 3 juta ton, atau 8% dari konsumsi, pada 2035, lalu 20 juta ton, atau 44%, pada 2050. Wood Mackenzie menambahkan faktor ketegangan geopolitik dan lonjakan permintaan listrik akibat AI sebagai tekanan baru pada pasokan logam, terutama tembaga. CEO Anglo American Duncan Wanblad menyebut sumber daya terbatas, proses perizinan panjang, dan biaya pengembangan yang meningkat sebagai penghambat ekspansi produksi. Bagi Southern Copper, ekspansi Cuajone adalah upaya menahan penurunan kadar bijih dan menjaga volume. Perusahaan memproyeksikan produksi tembaga 911.400 ton pada 2026 dan sekitar 900.000 ton pada 2027, dibandingkan 954.270 ton pada 2025.
Ambisi jangka panjangnya mencapai 1,6 juta ton per tahun pada 2033, ditopang investasi di Peru dan Meksiko. Proyek Tia Maria senilai US$1,8 miliar juga melanjutkan proses setelah izin eksploitasi dikembalikan pada April, setelah sempat dicabut. Namun, tanpa keputusan final, rencana Cuajone belum mengubah peta pasokan secara material. Konteks pasar hari ini memberi lapisan tambahan. IHSG berada di 5.391 dengan kenaikan 0,06%, USD/IDR di 17.943, dan Brent di US$114,33 atau naik 1,03%. Harga minyak yang tinggi dan rupiah yang lemah meningkatkan biaya impor energi Indonesia, sementara tembaga bergerak mengikuti ekspektasi defisit pasokan dan permintaan AI. Untuk Indonesia, jalur transmisinya berjalan lewat harga tembaga global serta penerimaan ekspor Freeport Indonesia dan Amman Mineral.
Jika defisit pasokan benar-benar melebar, harga tembaga dapat tertopang, tetapi tambahan pasokan dari proyek-proyek baru bisa menekan harga pada jangka menengah.
Mengapa Ini Penting
Ini bukan sekadar keputusan kapital satu tambang. Rencana Cuajone memperlihatkan betapa lambatnya pipeline pasokan tembaga mengejar permintaan elektrifikasi dan AI, sehingga defisit global berpotensi menjadi isu struktural. Bagi Indonesia, arah pasokan global menentukan harga jual tembaga dan penerimaan ekspor Freeport Indonesia serta Amman Mineral, meski proyek ini belum memiliki keputusan final.
Dampak ke Bisnis
- Produsen tembaga Indonesia seperti Freeport Indonesia dan Amman Mineral akan menghadapi dua tarikan: prospek harga yang lebih baik bila defisit pasokan melebar, tetapi juga risiko tekanan harga jika proyek-proyek baru di Peru, Kanada, dan Afrika terealisasi bersamaan.
- Smelter dan industri hilirisasi tembaga domestik perlu mencermati arah pasokan konsentrat global. Ekspansi Cuajone belum menambah volume dalam waktu dekat, tetapi sinyal investasi tambang baru memengaruhi ekspektasi ketersediaan bahan baku jangka menengah.
- Permintaan listrik dari AI dan pusat data menjadi faktor permintaan yang sering terlewat. Lonjakan kebutuhan energi komputasi dapat memperbesar konsumsi tembaga untuk kabel, transformator, dan infrastruktur jaringan, sehingga memperkuat tekanan pada pasokan yang sudah ketat.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: keputusan investasi final dan jadwal Cuajone — tanpa FID, tambahan 55.000 ton tembaga per tahun belum masuk pipeline pasokan riil.
- Risiko yang perlu dicermati: percepatan izin dan konstruksi Tia Maria senilai US$1,8 miliar — jika berjalan sesuai rencana, tambahan pasokan dapat menekan harga tembaga jangka menengah.
- Sinyal penting: pembaruan proyeksi BloombergNEF dan Wood Mackenzie soal defisit pasokan serta permintaan AI — perubahan proyeksi akan menjadi penanda arah sentimen harga tembaga global.
Konteks Indonesia
Indonesia terhubung melalui ekspor tembaga dari tambang Grasberg dan Batu Hijau. Arah pasokan global Southern Copper memengaruhi harga jual konsentrat dan penerimaan ekspor, sekaligus membentuk persaingan pasokan bagi smelter hilirisasi tembaga dalam negeri.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.