20 JUL 2026
Sistem Perbatasan EU Baru Perpanjang Antrean hingga 3 Kali Lipat

Foto: BBC Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Sistem Perbatasan EU Baru Perpanjang Antrean hingga 3 Kali Lipat
Kebijakan

Sistem Perbatasan EU Baru Perpanjang Antrean hingga 3 Kali Lipat

Tim Redaksi Feedberry ·19 Juli 2026 pukul 01.47 · Sinyal menengah · Sumber: BBC Business ↗
3.7 Skor

Dampak langsung terbatas pada sektor perjalanan udara Eropa, namun berpotensi mengubah pola perjalanan global dan memberikan tekanan operasional pada maskapai serta bandara yang melayani rute Eropa.

Urgensi
5
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
2

Ringkasan Eksekutif

Uni Eropa menerapkan sistem perbatasan digital Entry Exit System (EES) yang mewajibkan warga non-UE—termasuk warga Inggris—untuk merekam sidik jari dan foto saat memasuki kawasan Schengen. Implementasi sejak Oktober lalu telah menyebabkan waktu antrean di beberapa bandara meningkat hampir tiga kali lipat. Di Bandara Fiumicino Roma, Chief Aviation Officer Ivan Bassato mengonfirmasi bahwa meskipun integrasi dengan e-gates telah dilakukan, waktu tunggu masih jauh lebih lama dibanding sebelum EES. Maskapai Ryanair secara terbuka menyebut peluncuran ini gagal dan memperingatkan penumpang untuk bersiap menghadapi antrean panjang selama musim panas. Polisi perbatasan di Bandara Faro, Portugal, juga melaporkan adanya bug teknis, meskipun mengklaim antrean akan cepat terurai. Komisi Eropa membantah gangguan besar di sebagian besar bandara dan berjanji terus mendukung negara anggota.

Sistem ini diterapkan secara bertahap sejak Oktober, dengan biaya investasi mesin kios mandiri mencapai €12 juta (sekitar $13,7 juta) di Roma. Anak-anak di bawah 12 tahun tetap harus melalui petugas perbatasan, sehingga keluarga dengan anak kecil menjadi kelompok paling terdampak. Dampak dari sistem ini tidak hanya dirasakan oleh wisatawan Inggris; pelancong global, termasuk dari Amerika Serikat dan negara-negara Asia, juga melaporkan antrean hingga satu jam atau lebih. Beberapa penumpang bahkan kehilangan penerbangan akibat penundaan. Bagi Indonesia, meskipun warga Indonesia bukan fokus utama berita—karena berita menyoroti warga Inggris—sistem ini tetap berlaku untuk semua warga non-UE, termasuk wisatawan asal Indonesia.

Dalam jangka pendek, wisatawan Indonesia yang bepergian ke Eropa akan menghadapi antrean lebih lama saat kedatangan. Ini berpotensi menurunkan minat perjalanan ke Eropa, karena biaya waktu yang lebih tinggi dan risiko kehilangan koneksi penerbangan. Namun, dampak tidak langsung yang lebih menarik: jika Eropa menjadi kurang nyaman dikunjungi, wisatawan global—termasuk dari Asia—mungkin mengalihkan destinasi ke kawasan lain, seperti Asia Tenggara. Indonesia sebagai tujuan wisata dapat menarik sebagian dari pengalihan tersebut, asalkan infrastruktur bandara dan imigrasinya tetap efisien. Di sisi penawaran, maskapai nasional yang melayani rute Eropa—seperti Garuda Indonesia—menghadapi risiko operasional karena penundaan di bandara Eropa dapat mengganggu jadwal penerbangan dan meningkatkan biaya bahan bakar serta perawatan. Selain itu, sistem EES dapat menjadi preseden bagi negara lain untuk menerapkan digitalisasi imigrasi serupa.

Indonesia sendiri tengah mengembangkan sistem izin tinggal elektronik dan otomatisasi imigrasi di bandara-bandara utama. Jika aturan serupa diadopsi di Asia—misalnya oleh ASEAN—dampaknya akan lebih langsung dan besar.

Mengapa Ini Penting

Sistem perbatasan EU yang lambat bukan sekadar gangguan perjalanan; ini adalah contoh bagaimana digitalisasi layanan publik yang buruk dapat menciptakan gesekan nyata bagi mobilitas dan perdagangan. Bagi investor di sektor pariwisata dan transportasi, perubahan waktu tempuh dan ketidaknyamanan dapat menggeser pola permintaan—misalnya dari Eropa ke destinasi alternatif seperti Asia Tenggara, yang justru bisa menjadi peluang bagi Indonesia. Di sisi lain, maskapai dan bandara global harus mengalokasikan lebih banyak biaya operasional untuk penanganan antrean, yang berpotensi menekan margin laba. Secara tidak langsung, cerita ini juga memperlihatkan risiko regulasi teknis yang tidak matang—pelajaran berharga bagi negara berkembang yang tengah merancang digitalisasi imigrasi.

Dampak ke Bisnis

  • Maskapai penerbangan yang melayani rute ke Eropa—termasuk Garuda Indonesia—menghadapi risiko keterlambatan penerbangan akibat penumpang yang tidak sempat naik karena antrean imigrasi. Biaya kompensasi dan rebooking bisa membengkak, terutama di musim puncak.
  • Bandara-bandara Eropa harus mengeluarkan investasi tambahan untuk memperbaiki atau menambah mesin kios EES, sementara biaya operasional di gate imigrasi meningkat. Bandara yang gagal beradaptasi mungkin kehilangan pangsa pasar penerbangan karena maskapai memilih hub yang lebih efisien.
  • Agen perjalanan dan operator tur yang fokus ke Eropa harus menyesuaikan jadwal perjalanan (misalnya menambahkan waktu transit lebih panjang), yang berpotensi menaikkan harga paket wisata. Sebaliknya, destinasi non-Eropa seperti Bali atau Thailand bisa mendapatkan limpahan wisatawan yang frustrasi dengan antrean Eropa.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pernyataan resmi dari Komisi Eropa mengenai revisi teknis EES—apakah akan ada pengurangan persyaratan biometrik atau peningkatan jumlah petugas perbatasan sebelum puncak liburan Agustus.
  • Risiko yang perlu dicermati: kemungkinan IATA atau maskapai besar mengajukan gugatan atau meminta penundaan implementasi penuh EES, yang bisa memicu ketidakpastian regulasi dan menekan saham maskapai di bursa global.
  • Sinyal penting: data penumpang yang dilaporkan melewatkan penerbangan akibat antrean—jika angka ini melonjak secara signifikan dalam 2 minggu ke depan, tekanan publik akan meningkat dan bisa memaksa perubahan cepat.

Konteks Indonesia

Meskipun berita ini berfokus pada warga Inggris dan bandara Eropa, sistem EES berlaku untuk seluruh warga non-UE, termasuk wisatawan Indonesia. Warga Indonesia yang bepergian ke kawasan Schengen—untuk wisata, bisnis, atau pendidikan—akan menghadapi waktu antrean lebih lama saat kedatangan di bandara-bandara Eropa yang mengalami masalah teknis. Hal ini dapat mengurangi minat perjalanan ke Eropa dan berpotensi mengalihkan sebagian permintaan wisatawan Indonesia ke destinasi lain seperti Jepang, Korea Selatan, atau dalam negeri. Di sisi lain, jika antrean di Eropa menjadi isu yang meluas, wisatawan global dari negara ketiga mungkin mencari alternatif, termasuk Indonesia. Namun, manfaat tersebut hanya akan terwujud jika infrastruktur imigrasi Indonesia—seperti sistem e-gate dan bebas visa—tetap efisien dan tidak mengalami gangguan serupa. Selain itu, maskapai nasional yang melayani rute Eropa (Garuda Indonesia) harus mencermati biaya keterlambatan dan potensi kompensasi, karena penundaan di bandara Eropa dapat merembet ke jadwal penerbangan pulang-pergi. Dampak tidak langsung lainnya adalah potensi adopsi sistem biometrik serupa di kawasan ASEAN; Indonesia dapat belajar dari pengalaman EU untuk menghindari kesalahan teknis dan operasional.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.