Foto: Dailysocial — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Transaksi besar di Ajaib dan GoTo, plus kontroversi klaim laba Danantara, memengaruhi arah pendanaan startup, pasar modal, dan kepercayaan investor asing ke Indonesia.
- Seri Pendanaan
- Strategic Investment
- Jumlah
- US$270 juta
- Valuasi
- Tidak diungkapkan; diperkirakan melampaui level unicorn 2021
- Sektor
- Wealthtech / Fintech
- Penggunaan Dana
- Pengembangan layanan wealthtech, ekspansi aset digital/kripto, dan kolaborasi infrastruktur lintas negara
- Investor
- SBI Holdings
Ringkasan Eksekutif
RISE by DailySocial melaporkan serangkaian pergerakan besar di ekosistem startup Indonesia pekan ini. SBI Holdings memasukkan US$270 juta ke Ajaib dengan mengambil 20% saham — transaksi ini disebut sebagai penggalangan dana teknologi terbesar di Indonesia sejak 2022 dan berpotensi menempatkan valuasi Ajaib di atas level unicorn 2021.
Di sisi lain, Morgan Stanley membeli 5,16% saham GoTo dengan harga Rp23 per saham melalui pasar negosiasi senilai US$4,9 juta. Diskon besar pada transaksi itu menyoroti masalah likuiditas saham GoTo yang stagnan, bahkan memicu kekhawatiran keluarnya emiten ini dari indeks MSCI dan arus keluar dana pasif. Sementara itu, Danantara mengklaim laba Rp330 triliun (sekitar US$18,6 miliar) sebelum merilis laporan konsolidasi resmi — klaim yang langsung disorot karena audit terhadap jaringan BUMN masih berjalan.
Mengapa Ini Penting
Kombinasi berita ini menunjukkan pergeseran strategi dari pertumbuhan agresif menuju profitabilitas, kepatuhan, dan infrastruktur jangka panjang. Ajaib memanfaatkan pasar kripto domestik yang kini memiliki 22,7 juta investor terdaftar di bawah pengawasan OJK, dengan potensi integrasi stablecoin yen — langkah yang bisa mengubah lanskap wealthtech dan kripto Indonesia. Sementara GoTo, meski sudah mencetak profitabilitas kuartalan berkat bisnis pinjaman yang tumbuh, tetap terperangkap dalam masalah likuiditas pasar modal yang bisa semakin dalam saat Bursa Efek Indonesia menerapkan tick size Rp1 pada September. Danantara, sebagai pengelola aset negara, menghadapi uji kredibilitas di tengah klaim laba yang prematur — sentimen ini penting karena kepercayaan investor asing terhadap tata kelola Indonesia ikut dipengaruhi.
Dampak ke Bisnis
- Masuknya SBI ke Ajaib memperkuat sinyal kepercayaan investor Jepang terhadap sektor fintech dan kripto Indonesia. Ini bisa mendorong valuasi startup lokal lain dan membuka ruang kerja sama lintas negara, terutama dalam produk stablecoin dan infrastruktur aset digital.
- Diskon saham GoTo ke Morgan Stanley mencerminkan tekanan likuiditas yang dialami emiten teknologi besar. Jika GoTo keluar dari MSCI, arus keluar dana pasif akan makin menekan harga sahamnya, dan hal ini juga menjadi peringatan bagi emiten lain dengan free float dan volume transaksi terbatas.
- Kontroversi klaim laba Danantara berisiko memengaruhi persepsi investor terhadap BUMN dan instrumen utang negara. Dalam jangka menengah, kejelasan laporan keuangan menjadi prasyarat agar Danantara bisa menjadi kredibel seperti Temasek — tanpa itu, biaya modal Indonesia bisa tetap tinggi.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: realisasi perluasan layanan Ajaib pasca-investasi SBI — terutama peluncuran produk kripto dan stablecoin yang membutuhkan persetujuan OJK/Bappebti.
- Risiko yang perlu dicermati: status keanggotaan GoTo di MSCI — jika resmi dikeluarkan, tekanan jual dana pasif dan likuiditas saham bisa meningkat signifikan.
- Sinyal penting: rilis laporan keuangan konsolidasi Danantara — jika audit selesai dan angka sesuai klaim Rp330 triliun, kepercayaan pasar bisa pulih; jika tidak, sentimen negatif akan makin kuat.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.