28 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Korporasi / Saratoga Jajaki Data Center Lewat TBIG dan NAP
Korporasi

Saratoga Jajaki Data Center Lewat TBIG dan NAP

Tim Redaksi Feedberry ·28 Oktober 2026 pukul 06.35 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
5.7 Skor

Langkah Saratoga/TBIG membuka opsi ekspansi ke data center dan wholesale IP transit, tetapi masih berupa rencana sehingga urgensinya moderat; dampak sektoralnya cukup luas karena menyentuh infrastruktur digital dan kompetisi backbone.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
6
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Timeline
Laporan manajemen Juli 2026 menyebut rencana penambahan kegiatan usaha melalui entitas anak TB.
Alasan Strategis
Memanfaatkan aset fiber, menara, data center, dan ISP Grup untuk masuk layanan NAP dan menangkap kebutuhan konektivitas B2B.
Pihak Terlibat
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG)PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)Entitas anak TB

Ringkasan Eksekutif

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) melihat peluang memperluas eksposur ke bisnis data center melalui investasinya di PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Pemegang saham SRTG sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan Saratoga sedang melirik sektor-sektor yang tumbuh, termasuk data center lewat TBIG. Ia juga menyebut investasi di saham Merdeka Group dan ekonomi hijau melalui PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Jalur yang disiapkan TBIG adalah layanan Gerbang Akses Internet atau Network Access Point (NAP) melalui entitas anak TB, dengan KBLI 61107. Layanan ini menghubungkan jaringan distribusi internet lokal ke backbone internasional dan ditujukan bagi penyedia layanan internet, perusahaan, serta institusi melalui skema B2B.

Rencana penambahan kegiatan usaha itu tercantum dalam laporan manajemen TBIG pada Juli 2026. TBIG akan bersaing di segmen transit internet grosir atau wholesale IP transit, memanfaatkan sinergi aset Grup yang mencakup jaringan serat optik sekitar 60.000 km, menara telekomunikasi, data center, dan entitas anak yang bergerak sebagai penyedia layanan internet. Sasaran pasarnya adalah pelanggan internal dan eksternal, terutama ISP Tier 2–3 dan segmen korporasi. Yang tidak terlihat dari headline ini: nilai data center tidak berhenti pada gedung dan ruang rak. Ekonomi pusat data justru ditentukan oleh konektivitas, interkoneksi, dan jalur backbone yang membuat lalu lintas data bisa masuk dan keluar dengan andal.

TBIG selama ini dikenal sebagai pemilik menara dan penyedia perangkat repeater serta in-building system; dengan NAP, perseroan bergerak ke lapisan yang lebih aktif, yakni mengangkut dan menjual akses internet grosir. Di situ, aset menara, fiber, data center, dan ISP tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, melainkan dirangkai menjadi satu rantai layanan. Bagi Saratoga, ini berarti eksposur ke data center tidak harus dibangun dari nol melalui pembangunan fasilitas baru, tetapi lewat platform infrastruktur yang sudah dimiliki TBIG. Dampaknya bergerak ke beberapa arah. TBIG berpotensi menambah sumber pendapatan B2B yang berbeda dari penyewaan menara yang bersifat kontrak jangka panjang. Model NAP dapat membuat aset fiber dan data center lebih produktif, sekaligus menciptakan keterikatan dengan ISP dan korporasi yang membutuhkan transit internet.

Namun, masuknya TBIG ke segmen ini memperluas daftar pesaing: penyedia backbone dan transit internet incumbent akan berhadapan dengan pemain baru yang memiliki jaringan menara dan fiber. Sebaliknya, ISP Tier 2–3 dan perusahaan bisa memperoleh alternatif pasokan. Risikonya terletak pada eksekusi—perizinan, kesiapan layanan, belanja modal, dan kemampuan mengonversi pipeline menjadi kontrak komersial. Di pasar, IHSG berada di 5,266 setelah koreksi 3.18% dan USD/IDR di 18,025, latar yang membuat disiplin belanja modal dan kejelasan pendapatan baru semakin penting bagi emiten infrastruktur. Dalam 1–4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Ini bukan sekadar diversifikasi portofolio. Data center bukan bisnis gedung; nilai terbesarnya ada pada interkoneksi dan backbone. Dengan NAP, TBIG berpotensi mengubah aset menara dan fiber menjadi pintu masuk lalu lintas data, sehingga posisinya bergeser dari pemilik infrastruktur pasif menjadi pemain aktif konektivitas. Bagi SRTG, ini memberi eksposur ke data center tanpa harus membangun fasilitas dari nol.

Dampak ke Bisnis

  • TBIG berpotensi menambah lapisan pendapatan B2B dari wholesale IP transit dan NAP, memanfaatkan fiber sekitar 60.000 km, menara, data center, dan ISP Grup; ini memperluas model bisnis dari penyewaan menara yang bersifat pasif.
  • SRTG memperoleh jalur tidak langsung ke permintaan data center dan konektivitas korporasi, melengkapi eksposur yang sudah disebut di Merdeka Group dan ekonomi hijau via ADRO; risikonya terpusat pada eksekusi TBIG, bukan pada pembangunan data center baru oleh SRTG.
  • Penyedia transit internet dan backbone incumbent menghadapi calon pesaing baru di segmen grosir; ISP Tier 2–3 dan korporasi berpotensi mendapat alternatif pasokan, tetapi dampaknya baru terasa setelah layanan komersial berjalan dan kontrak pelanggan terkonfirmasi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi penambahan kegiatan usaha NAP melalui entitas anak TB — apakah KBLI 61107 dan struktur layanan benar-benar terealisasi, karena ini menentukan apakah TBIG bergerak dari rencana ke operasi komersial.
  • Risiko yang perlu dicermati: kebutuhan belanja modal dan utilisasi aset fiber sekitar 60.000 km, menara, serta data center — jika lalu lintas pelanggan belum cukup, biaya tetap dapat menekan margin sebelum pendapatan wholesale terbentuk.
  • Sinyal penting: pengumuman kontrak dengan ISP Tier 2–3 atau korporasi — konversi pipeline menjadi pelanggan riil adalah penanda utama keberhasilan NAP, sekaligus indikator tekanan kompetitif bagi penyedia transit incumbent.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.