26 MEI 2026
Rupiah Anjlok 9,77% vs Yuan di 2026 — Lebih Parah dari Dolar, Impor China Makin Mahal

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Rupiah Anjlok 9,77% vs Yuan di 2026 — Lebih Parah dari Dolar, Impor China Makin Mahal
Forex & Crypto

Rupiah Anjlok 9,77% vs Yuan di 2026 — Lebih Parah dari Dolar, Impor China Makin Mahal

Tim Redaksi Feedberry ·26 Mei 2026 pukul 03.47 · Sinyal tinggi · Sumber: Katadata ↗
8.3 Skor

Pelemahan rupiah hampir 10% terhadap yuan dalam 5 bulan pertama 2026 lebih dalam dari terhadap dolar, mengindikasikan tekanan dari perdagangan bilateral dan aliran modal regional yang menguntungkan mitra dagang Indonesia.

Urgensi
8
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9
Analisis Data Pasar
Instrumen
USD/IDR, CNY/IDR
Harga Terkini
17.791 per USD, 2.620 per CNY
Perubahan %
-6,66% YTD (USD), -9,77% YTD (CNY)
Katalis
  • ·Penguatan yuan karena internasionalisasi dan proyeksi kenaikan oleh HSBC dan Deutsche Bank
  • ·Aliran modal asing ke pasar saham Malaysia (3 miliar ringgit) mendorong penguatan ringgit

Ringkasan Eksekutif

Rupiah melemah lebih dalam terhadap yuan Cina dibandingkan dolar AS sepanjang tahun ini. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Katadata, rupiah melemah 6,66% terhadap dolar AS, namun melemah 9,77% terhadap yuan. Kurs rupiah per dolar AS mencapai 17.791 pada pagi hari, sementara terhadap yuan di level 2.620. Artikel menyebut level 17.800 sebagai level terburuk sepanjang sejarah. Pelemahan juga terjadi terhadap ringgit Malaysia (9%), yen Jepang (5%), dan baht Thailand (3%). Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari dolar AS yang kuat, tetapi juga dari penguatan yuan dan ringgit yang justru menguat terhadap dolar.

Faktor utama penguatan yuan adalah meningkatnya penggunaan yuan dalam perdagangan internasional sebagai alternatif dolar, serta proyeksi lembaga seperti HSBC dan Deutsche Bank yang menaikkan target yuan. Ringgit menguat karena aliran modal asing ke pasar saham Malaysia yang mencapai lebih dari 3 miliar ringgit. Sementara itu, rupiah tertekan oleh faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik Iran, harga minyak tinggi, serta arus modal keluar dari Indonesia. Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan 50 bps menjadi 5,25% untuk menarik modal asing, namun efektivitasnya masih terbatas sejauh ini. Pelemahan rupiah terhadap yuan memiliki implikasi langsung terhadap perdagangan bilateral Indonesia-Cina sebagai mitra dagang utama. Impor bahan baku dan barang modal dari Cina menjadi lebih mahal, menekan margin emiten manufaktur yang bergantung pada rantai pasok Cina.

Di sisi lain, pelemahan terhadap ringgit juga berdampak pada persaingan ekspor komoditas seperti minyak sawit, karet, dan batu bara dengan Malaysia. Jika rupiah terus melemah lebih dalam, daya saing ekspor Indonesia bisa terpukul karena biaya impor naik, sementara ekspor komoditas dalam dolar belum tentu meningkat sebanding.

Mengapa Ini Penting

Pelemahan rupiah terhadap yuan yang lebih dalam dari dolar mengindikasikan bahwa tekanan tidak hanya dari faktor global, tetapi juga dari dinamika regional yang menguntungkan mitra dagang Indonesia. Ini berpotensi memperburuk neraca perdagangan bilateral dengan China — merugikan importir bahan baku dan memperlemah daya saing ekspor Indonesia. Di tengah defisit APBN yang sudah lebar dan cadangan devisa yang menurun akibat intervensi, ruang untuk stabilisasi makin terbatas, menjadikan stabilitas rupiah sebagai isu kritis bagi keseluruhan perekonomian.

Dampak ke Bisnis

  • Importir dari China (bahan baku, mesin, elektronik) menghadapi lonjakan biaya hingga hampir 10% year-to-date, langsung menekan margin emiten manufaktur dan ritel.
  • Eksportir komoditas (sawit, batu bara, karet) yang bersaing dengan Malaysia dan Thailand di pasar global akan kehilangan daya saing harga karena rupiah melemah lebih dalam terhadap ringgit dan baht.
  • Emiten dengan utang dalam dolar AS dan yuan akan terbebani biaya bunga dan pokok yang lebih tinggi, terutama sektor properti, infrastruktur, dan energi yang memiliki kewajiban valas besar.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: level USD/IDR di kisaran 17.800 — jika tembus, bisa memicu kenaikan suku bunga lanjutan atau intervensi BI yang lebih agresif; data cadangan devisa bulan berikutnya akan mengukur kemampuan intervensi.
  • Risiko yang perlu dicermati: penguatan yuan yang berkelanjutan didorong internasionalisasi dapat membuat impor dari China semakin mahal dan mendorong imported inflation, memperkuat tekanan bagi BI untuk tetap hawkish.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi BI dan rilis data neraca perdagangan bulan ini — jika defisit transaksi berjalan melebar di atas perkiraan, sentimen terhadap rupiah akan semakin memburuk.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.