30 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / RUNE Melonjak 13% Usai Hack Binance US$6,3 Miliar
Forex & Crypto

RUNE Melonjak 13% Usai Hack Binance US$6,3 Miliar

Tim Redaksi Feedberry ·30 Oktober 2026 pukul 16.52 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
4.7 Skor

Peretasan terbesar di industri aset digital memicu reaksi harga yang berlawanan arah pada protokol yang justru menjadi jalur pemindahan dananya, dengan rambatan ke Indonesia terutama lewat sentimen risiko global, bukan eksposur langsung.

Urgensi
6
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
3
Analisis Data Pasar
Instrumen
THORChain (RUNE)
Harga Terkini
US$0,67
Perubahan %
lebih dari 13%
Level Teknikal
Titik terendah lokal US$0,59 pada 12.20 UTC
Katalis
  • ·Konfirmasi peretasan Binance senilai US$6,3 miliar
  • ·Temuan on-chain bahwa dana hack Binance dan Bitget melewati THORChain lalu digabungkan di alamat Ethereum yang sama
  • ·Penolakan THORChain atas permintaan pemblokiran alamat penyerang karena tidak ada mekanisme memblokir swap individual
  • ·Peningkatan arus lintas-chain yang menyertai perpindahan dana curian

Ringkasan Eksekutif

Token RUNE milik protokol lintas-chain THORChain melonjak lebih dari 13% pada Jumat ke US$0,67, setelah sebelumnya menyentuh titik terendah lokal US$0,59 pukul 12.20 UTC. Pemicunya bukan kabar baik: Binance baru saja mengonfirmasi peretasan senilai US$6,3 miliar, dan dana curian itu diketahui melewati jaringan THORChain. Pasar memberi premi kepada token yang justru menjadi pipa pemindahan dana hasil pembobolan. Investigasi on-chain ZachXBT mengungkap dana dari Binance dan dari hack Bitget pada September digabungkan di alamat Ethereum yang sama setelah melewati THORChain. Serangan Bitget diatribusikan ke TraderTraitor, kelompok yang dikaitkan dengan Korea Utara, dan TRM Labs serta Chainalysis menghubungkan peretasan Binance ke aktor yang sama.

Rekannya bukan baru: protokol ini dipakai memindahkan dana dari hack Bybit senilai US$1,4 miliar pada Februari 2025 dan hack Bitget senilai US$388 juta. Pola itu menjadikan THORChain berulang kali muncul sebagai simpul konsolidasi dana curian lintas-chain. Angka kerugian Binance sendiri belum seragam. Artikel utama menyebut US$6,3 miliar, sementara laporan lain dalam rangkaian pemberitaan yang sama menyebut lebih dari US$2,5 miliar, dengan Glassnode memperkirakan US$5,3 miliar dan Chainalysis di atas US$5,9 miliar. Selisih selebar itu penting karena menentukan seberapa besar tekanan pada Secure Asset Fund for Users dan seberapa cepat kepercayaan pasar pulih. Bagi bursa, selisih antara klaim dan realisasi adalah persoalan modal dan reputasi; bagi protokol terdesentralisasi, selisih itu adalah persoalan tata kelola. Inti dari lonjakan RUNE bukan spekulasi kosong.

THORChain menolak permintaan CEO Bitget, Gracy Chen, untuk memblokir alamat penyerang dengan alasan tidak memiliki mekanisme memblokir swap individual — operator node hanya bisa menghentikan perdagangan untuk satu blockchain atau seluruh jaringan. Penolakan itu, secara logika pasar, menjaga kapasitas protokol menyerap arus lintas-chain. Ketika insiden besar terjadi dan pelaku mencari jalur pemindahan yang tidak bisa dibekukan, volume dan biaya yang mengalir ke jaringan justru naik. Dalam catatan industri, protokol ini dilaporkan mencatat sekitar US$5 juta biaya dan US$5,4 miliar volume sejak hack Bybit. Bagi pemegang token, insiden keamanan di bursa besar adalah katalis permintaan atas jasa yang mereka sediakan. Dampak lanjutannya tidak berhenti di harga token.

Tekanan tata kelola sudah terlihat sejak kasus Bybit: pengembang inti Pluto meninggalkan proyek setelah penghentian perdagangan Ether dibalik, dan validator TCB mengancam keluar bila protokol tetap memproses dana terkait Korea Utara. Konflik ini menandai garis patahan baru di DeFi — antara prinsip desentralisasi dan tuntutan kepatuhan dari mitra industri yang menanggung kerugian. Ke depan, tekanan akan mengarah pada permintaan agar operator node memiliki kewenangan selektif, sesuatu yang secara teknis belum tersedia. Di pasar domestik, jalur rambatannya melalui selera risiko global dan likuiditas aset digital. IHSG berada di 5.057 dengan koreksi 4,26%, USD/IDR di 18.120, dan Brent di US$113,08 yang naik 2,06% — kombinasi yang secara historis menekan minat terhadap aset berisiko.

Mengapa Ini Penting

Untuk pertama kalinya dalam skala sebesar ini, pasar memberi harga lebih tinggi kepada infrastruktur yang tidak bisa menolak dana curian. Itu mengubah insentif: kepatuhan menjadi biaya bagi bursa teregulasi, sementara protokol tanpa mekanisme pemblokiran justru menikmati arus volume. Jika pola ini bertahan, regulator di banyak yurisdiksi akan menghadapi pertanyaan yang sama — apakah desentralisasi cukup sebagai pembelaan ketika jaringan menjadi jalur utama perpindahan dana hasil kejahatan. Bagi bursa dan kustodian, risikonya bergeser dari pencurian kunci privat ke tata kelola persetujuan transaksi.

Dampak ke Bisnis

  • Bursa dan kustodian aset digital menanggung beban ganda: kerugian finansial dan kewajiban membuktikan bahwa rantai persetujuan transaksi mereka tidak bisa ditembus lewat kompromi akses operasional. Tekanan ini menular ke penyedia dompet multi-tanda tangan, auditor kontrak pintar, dan perusahaan asuransi aset digital yang harus menilai ulang premi dan cakupan.
  • Exchange kripto lokal dan fintech pembayaran di Indonesia menghadapi pertanyaan yang sama soal pemisahan aset nasabah dan tata kelola otorisasi. Selisih antara dana yang dibekukan dan estimasi kerugian menunjukkan eksposur akhir belum terkunci, sehingga mitra perbankan dan penyedia likuiditas akan memperketat syarat kerja sama.
  • Efek yang baru terasa dalam beberapa bulan: biaya kepatuhan dan audit keamanan naik untuk seluruh industri, sementara protokol tanpa mekanisme pemblokiran menghadapi risiko delisting atau penolakan integrasi dari mitra institusional. Nilai token yang naik karena arus dana curian bersifat rapuh — begitu jalur pemindahan ditutup atau volume insiden mereda, premi itu hilang.
  • Sentimen risiko global yang memburuk menekan saham teknologi di BEI dan aset berisiko lain, meski tanpa keterkaitan langsung dengan neraca emiten domestik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: konfirmasi resmi otoritas penegak hukum atas atribusi ke Korea Utara dan angka kerugian final Binance — revisi ke arah US$6,3 miliar akan memperbesar tekanan likuiditas dan memperkuat sentimen risk-off.
  • Risiko yang perlu dicermati: keputusan operator node THORChain soal penghentian sementara perdagangan satu blockchain — langkah ini pernah memicu keluarnya pengembang inti dan ancaman validator, dan pengulangan akan menguji ketahanan jaringan.
  • Sinyal penting: sikap regulator aset digital domestik terhadap standar pemisahan aset nasabah dan pelaporan insiden — respons yang lebih ketat akan menaikkan biaya kepatuhan exchange lokal lebih cepat dari ekspektasi pasar.

Konteks Indonesia

Jalur dampak ke pasar domestik berjalan melalui selera risiko global dan likuiditas aset digital, bukan eksposur langsung. IHSG berada di 5.057 dengan koreksi 4,26%, USD/IDR di 18.120, dan imbal hasil US Treasury 10 tahun di 5,05% — kombinasi yang secara historis menekan minat terhadap aset berisiko, termasuk saham teknologi dan instrumen berdenominasi dolar. Indonesia memiliki pasar kripto ritel yang aktif, sehingga insiden keamanan di bursa global memindahkan perhatian dari arah harga token ke risiko counterparty, pemisahan aset nasabah, dan tata kelola persetujuan transaksi di exchange lokal. Bagi fintech pembayaran dan startup blockchain domestik, memburuknya sentimen global berarti biaya likuiditas lebih tinggi dan seleksi mitra yang lebih ketat. Sinyal yang perlu diawasi adalah perubahan nada pengawasan aset digital domestik, khususnya kewajiban pemisahan aset dan pelaporan insiden, karena itu langsung menentukan biaya kepatuhan pelaku lokal.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.