14 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Korporasi / Royal Mail Kehilangan 400 Pekerja per Pekan — DM26 Diuji
Korporasi

Royal Mail Kehilangan 400 Pekerja per Pekan — DM26 Diuji

Tim Redaksi Feedberry ·14 Oktober 2026 pukul 06.03 WIB · Sinyal menengah · Sumber: BBC Business ↗
2.3 Skor

Kisah atrisi tenaga kerja di operator pos Inggris nyaris tanpa jalur transmisi langsung ke Indonesia, namun relevan sebagai studi kasus ekonomi pengiriman jarak akhir yang padat tenaga kerja.

Urgensi
2
Luas Dampak
3
Dampak Indonesia
2
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
restrukturisasi
Timeline
DM26 diterapkan mulai awal tahun ini dan telah diperkenalkan di sekitar 1.000 dari 1.200 kantor pengiriman.
Alasan Strategis
Reformasi rute di bawah sistem DM26 diklaim sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan yang lebih efisien dan berkelanjutan secara finansial.
Pihak Terlibat
Royal MailCommunication Workers Union (CWU)

Ringkasan Eksekutif

Serikat pekerja Communication Workers Union (CWU) melaporkan sekitar 400 petugas pos meninggalkan Royal Mail setiap pekan, naik dari sekitar 330 orang per pekan sebelum perusahaan menerapkan sistem pengiriman baru DM26 pada awal tahun ini. Angka itu dihitung dari total tenaga kerja sekitar 83.000 orang. Bagi perusahaan pengiriman yang padat tenaga kerja, laju keluarnya pegawai pada skala ini menjadi sinyal bahwa reorganisasi rute belum berhasil menahan erosi tenaga kerja sekaligus menjaga kualitas layanan. DM26 mengubah cara kerja pengiriman secara mendasar. Pos kelas dua hanya diantar setiap dua hari kerja, sementara surat kelas satu dan paket dijanjikan tetap diantar setiap hari. Pekerja dikelompokkan bertiga dan pola jalan rute diubah.

Royal Mail menyatakan reformasi ini bagian dari rencana menghadirkan layanan yang lebih efisien dan berkelanjutan secara finansial. Namun CWU menilai sistem tersebut tidak berjalan di ratusan kantor. Sistem ini sudah diterapkan di sekitar 1.000 dari 1.200 kantor pengiriman Royal Mail. Keluhan pekerja mengungkap persoalan yang lebih dalam dari sekadar angka atrisi. Delapan pekerja di berbagai wilayah diminta melacak jumlah langkah harian mereka; setelah peralihan ke DM26, langkah mereka naik seperempat hingga sepertiga, sering mencapai sekitar 25.000 langkah sehari. Pekerja yang berbicara anonim menyebut paket tetap diprioritaskan, surat tertinggal, dan waktu terbuang untuk memilah surat kelas satu dan kelas dua.

Bryn Dymott, yang sembilan tahun mengantar pos di desa Wootton, Bedfordshire, memilih keluar pada Juli lalu karena enggan menghadapi Natal yang ia sebut kacau. Ia menilai perusahaan membuktikan bahwa pekerjaan empat orang tak bisa diselesaikan tiga orang. Dampak paling berat justru belum muncul. Beberapa pekerja memperkirakan musim puncak akhir tahun akan menjadi yang terburuk, baik bagi mereka maupun pelanggan. Bagi peritel dan pelaku e-commerce yang bergantung pada ketepatan pengiriman, penurunan keandalan saat volume paket melonjak berisiko mendorong mereka berpindah ke operator lain.

Perpindahan itu pada gilirannya memperbesar tekanan pendapatan Royal Mail dan memperdalam persoalan biaya yang justru ingin diatasi DM26 sejak awal — sebuah lingkaran umpan balik negatif yang khas pada industri pengiriman padat karya ketika efisiensi dipaksakan tanpa kapasitas tenaga kerja yang memadai.

Mengapa Ini Penting

Inti berita ini bukan angka 400 orang per pekan, melainkan pembuktian bahwa pemangkasan biaya lewat rekayasa rute punya batas. Ketika beban kerja per pekerja naik tanpa kenaikan kompensasi, atrisi menjadi biaya tersembunyi yang baru muncul di musim puncak — tepat saat keandalan paling mahal harganya. Bagi industri pengiriman jarak akhir di mana pun, termasuk Indonesia yang bertumpu pada tenaga kerja kurir, ini adalah peringatan bahwa efisiensi yang mengabaikan kapasitas manusia cenderung menggerus kepercayaan pelanggan, bukan menambahnya.

Dampak ke Bisnis

  • Royal Mail berpotensi menanggung biaya rekrutmen dan pelatihan yang naik seiring atrisi sekitar 400 pekerja per pekan, sehingga penghematan dari konsolidasi rute bisa tergerus oleh belanja tenaga kerja baru.
  • Peritel dan pelaku e-commerce yang mengandalkan Royal Mail menghadapi risiko penurunan ketepatan pengiriman pada musim puncak; keandalan yang memburuk mendorong sebagian volume berpindah ke operator pesaing.
  • Bagi operator logistik jarak akhir yang padat tenaga kerja, termasuk di pasar Indonesia, kejadian ini menegaskan bahwa digitalisasi rute tanpa penyesuaian kapasitas tenaga kerja berisiko memicu atrisi, keluhan layanan, dan peningkatan biaya tersembunyi dalam jangka menengah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kinerja pengiriman pada periode puncak akhir tahun — apakah keluhan surat tertinggal dan penumpukan paket meningkat seperti yang diperkirakan pekerja.
  • Risiko yang perlu dicermati: laju atrisi sekitar 400 pekerja per pekan — jika berlanjut, biaya penggantian tenaga kerja berpotensi melampaui penghematan dari konsolidasi rute DM26.
  • Sinyal penting: perluasan DM26 ke sekitar 200 kantor pengiriman yang tersisa dari total 1.200 kantor — ini menjadi penanda apakah Royal Mail melanjutkan model meski respons di lapangan beragam.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.