2 JUL 2026
Robinhood Luncurkan Public Mainnet, Ekspansi Kripto ke UK — Pendapatan Turun 50%

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Robinhood Luncurkan Public Mainnet, Ekspansi Kripto ke UK — Pendapatan Turun 50%
Forex & Crypto

Robinhood Luncurkan Public Mainnet, Ekspansi Kripto ke UK — Pendapatan Turun 50%

Tim Redaksi Feedberry ·1 Juli 2026 pukul 21.38 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

Langkah strategis Robinhood di tengah penurunan pendapatan kripto 50% memperkuat adopsi institusional, tetapi dampak langsung ke Indonesia terbatas pada sentimen dan persaingan indirect exchange lokal.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Robinhood, platform investasi ritel global, resmi meluncurkan public mainnet blockchain setelah berbulan-bulan pengujian. Bersamaan dengan itu, perusahaan mengumumkan rencana ekspansi layanan perdagangan kripto untuk warga Inggris serta sejumlah produk DeFi, termasuk Robinhood Earn — produk lending stablecoin USDG dengan imbal hasil tahunan sekitar 7% melalui dompet self-custody.

Langkah ini diambil hanya beberapa minggu setelah CEO Robinhood, Vlad Tenev, mengumumkan pemotongan 10% tenaga kerja sebagai bagian dari restrukturisasi. Saham Robinhood naik 8% pada hari pengumuman, memberi sinyal bahwa pasar menyambut positif diversifikasi pendapatan di tengah tekanan bisnis inti. Namun, data keuangan terbaru menunjukkan bahwa pendapatan transaksi kripto Robinhood turun hampir 50% year-on-year, dari USD252 juta menjadi USD134 juta. Perusahaan dijadwalkan merilis hasil kuartal kedua 2026 pada 29 Juli, yang akan menjadi ujian apakah strategi ekspansi blockchain dan DeFi mampu mengompensasi penurunan pendapatan transaksi. Persaingan di pasar layer-2 (L2) kripto kian ketat. Robinhood masuk ke ranah yang didominasi oleh Base, blockchain milik Coinbase, yang baru saja mengalami dua kali outage dalam hitungan jam akibat bug sequencer.

Base saat ini merupakan L2 terbesar kedua dengan total nilai terkunci sekitar USD11 miliar. Langkah Robinhood menjadi sinyal bahwa platform ritel besar berlomba mengintegrasikan infrastruktur on-chain untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan transaksi yang volatil. Bagi ekosistem kripto global, langkah ini memperkuat tren institusionalisasi DeFi dan stablecoin, sekaligus meningkatkan tekanan bagi exchange tradisional untuk berinovasi. Di Indonesia, dampak langsung masih terbatas pada ranah sentimen. Robinhood tidak beroperasi langsung di Indonesia, tetapi langkah ekspansinya ke UK menunjukkan arah regulasi yang lebih akomodatif di Eropa, terutama pasca penerapan MiCA. Hal ini bisa menjadi preseden bagi regulator Indonesia — OJK dan Bappebti — yang tengah menyusun kerangka aset digital.

Robinhood Earn dengan yield 7% dari stablecoin USDG juga menambah persaingan produk yield kripto global, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi preferensi investor ritel Indonesia yang aktif di platform global seperti Binance atau Bybit.

Dalam jangka pendek, euforia sambutan pasar terhadap Robinhood (saham naik 8%) berpotensi mendorong sentimen risk-on di sektor kripto global, yang bisa mempengaruhi volume perdagangan di exchange lokal Indonesia. Namun, investor perlu mencermati risiko struktural: pendapatan transaksi kripto Robinhood yang turun drastis mengindikasikan bahwa volume perdagangan ritel global masih lesu. Jika tren ini berlanjut, tekanan pada exchange lokal seperti Reku, Tokocrypto, dan Pintu bisa semakin berat karena basis pendapatan mereka sangat bergantung pada volume perdagangan ritel.

Mengapa Ini Penting

Robinhood bukan sekadar exchange ritel — ia adalah proxy adopsi kripto oleh investor mainstream AS. Keputusan membangun blockchain sendiri dan ekspansi ke UK menunjukkan bahwa meskipun pendapatan transaksi jangka pendek tertekan, keyakinan jangka panjang terhadap infrastruktur on-chain tetap kuat. Bagi Indonesia, langkah ini menguatkan urgensi bagi regulator untuk menyusun kerangka yang jelas agar exchange lokal tidak kehilangan daya saing. Di sisi lain, penurunan pendapatan kripto Robinhood hampir 50% adalah peringatan bahwa model bisnis yang bergantung pada volume spekulatif belum pulih — dan ini bisa berdampak langsung ke volume exchange Indonesia yang juga masih terkonsentrasi di ritel.

Dampak ke Bisnis

  • Exchange kripto Indonesia (Reku, Tokocrypto, Pintu) akan menghadapi tekanan persaingan tidak langsung dari produk DeFi global yang menawarkan yield lebih tinggi (7%). Jika yield produk lokal tidak kompetitif, investor ritel Indonesia bisa beralih ke platform global meskipun ada risiko regulasi dan pembatasan akses.
  • Regulator Indonesia (Bappebti, OJK) akan mendapat tekanan lebih besar untuk mempercepat kerangka regulasi DeFi dan stablecoin. Langkah Robinhood yang terintegrasi dengan sistem keuangan tradisional (listing di bursa saham AS) memberi legitimasi, sehingga pendekatan represif berisiko membuat Indonesia tertinggal dalam adopsi aset digital.
  • Sentimen risk-on global dari kenaikan saham Robinhood 8% dapat memicu rally singkat di saham teknologi IHSG yang terkait kripto dan blockchain. Namun, investor perlu waspada terhadap koreksi jika hasil keuangan Robinhood 29 Juli mengecewakan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: laporan keuangan Q2 2026 Robinhood (29 Juli) — jika total pendapatan dari DeFi dan layanan baru mampu mengompensasi penurunan transaksi, ini akan menjadi katalis positif bagi sektor kripto global, termasuk sentimen di Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika Base (Coinbase) dan Robinhood saling berebut pangsa pasar L2, potensi outage atau bug bisa meningkat. Ini berisiko menimbulkan sentimen negatif terhadap infrastruktur L2 yang juga mulai diadopsi oleh proyek Indonesia.
  • Sinyal penting: respons OJK dan Bappebti terhadap produk stablecoin berbunga seperti Robinhood Earn — apakah akan ada larangan atau justru kelonggaran. Keputusan dalam 1–2 bulan ke depan akan menentukan arah perkembangan DeFi di Indonesia.

Konteks Indonesia

Langkah Robinhood meluncurkan public mainnet dan produk DeFi seperti Robinhood Earn (yield 7% dari stablecoin USDG) memperkuat tren global adopsi blockchain institusional. Meskipun Robinhood tidak beroperasi langsung di Indonesia, ekspansinya ke UK dan integrasi dengan sistem keuangan tradisional (saham terdaftar di Nasdaq) memberi tekanan tidak langsung pada ekosistem kripto domestik. Volume perdagangan kripto Indonesia yang masih didominasi ritel berpotensi terpengaruh jika investor lokal beralih ke platform global yang menawarkan produk yield lebih menarik. Selain itu, persaingan antara Robinhood dan Base (Coinbase) di layer-2 dapat menciptakan standar baru yang akan diadopsi atau ditolak oleh regulator Indonesia. Di sisi moneter, data makro menunjukkan USD/IDR masih di level 17.956 (tekanan tinggi) dan suku bunga acuan AS 3,63% — kondisi ini membatasi ruang gerak BI untuk melonggarkan likuiditas, yang secara tidak langsung memengaruhi minat investor asing ke aset kripto Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.